Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Dighosting Berkali-kali Lalu Balik Lagi? Kenali Fenomena Breadcrumbing Menurut Para Ahli: Alasan Terjadi, dan Cara Mengatasinya

Syeti Agria Ningrum • Rabu, 1 Oktober 2025 | 15:45 WIB
Ilustrasi perempuan merasa bingung karena sering dighosting dalam komunikasi online.
Ilustrasi perempuan merasa bingung karena sering dighosting dalam komunikasi online.

PONTIANAK POST - Di era digital, aplikasi kencan online semakin populer sebagai cara bertemu pasangan.

Namun, dibalik kemudahan mencari kenalan baru, muncul pula berbagai perilaku manipulatif yang sering membuat orang merasa baper. 

Salah satunya adalah breadcrumbing situasi ketika seseorang tidak benar-benar serius menjalin hubungan, tetapi tetap memberi sedikit perhatian sesekali agar targetnya tidak pergi.

Fenomena ini mirip dengan pengalaman sering dighosting, tapi tiba-tiba balik lagi.

Menurut Psychology Today, breadcrumbing adalah tanda bahaya dalam hubungan karena menimbulkan kebingungan emosional, menahan seseorang tanpa kepastian, dan membuatnya sulit melanjutkan hidup. 

Fenomena ini bahkan dikaitkan dengan pola kelekatan emosional seseorang, seperti yang ditunjukkan dalam penelitian di BMC Psychology

Konseling online BetterHelp menegaskan bahwa dampak psikologis dari breadcrumbing bisa serius, mulai dari stres hingga menurunnya rasa percaya diri.

Apa Itu Breadcrumbing?

Breadcrumbing berasal dari istilah “remah roti”, yang menggambarkan seseorang hanya memberi sedikit perhatian tanpa pernah benar-benar berkomitmen. 

Dalam praktiknya, perilaku ini terlihat dari pesan singkat yang muncul sekali-sekali, like atau komentar ringan di media sosial, hingga janji untuk bertemu yang selalu dibatalkan.

Menurut rujukan dari Psychology Today, perilaku ini seharusnya menjadi sinyal bahaya karena pelaku biasanya hanya ingin menjaga perhatian dari targetnya, tanpa ada niat serius menjalin hubungan. 

Akibatnya, korban dibuat terus menunggu dengan harapan palsu yang tidak pernah jelas ujungnya.

Mengapa Orang Melakukan Breadcrumbing?

Fenomena ini tidak selalu sekadar hal iseng yang dilakukan pasangan. Penelitian di BMC Psychology menunjukkan bahwa perilaku ini sering berhubungan dengan pola kelekatan atau attachment style yang tidak aman. 

Mereka yang memiliki kecenderungan cemas biasanya terus mencari perhatian untuk merasa diakui, tetapi tidak siap memberikan komitmen penuh. 

Sebaliknya, mereka yang memiliki pola menghindar cenderung menjaga jarak, namun tetap memberi sinyal agar korban tidak benar-benar pergi.

Dengan demikian, breadcrumbing sering kali merupakan cerminan dari ketidakmatangan emosional dan ketidakmampuan menjalin ikatan yang sehat.

Dampak Psikologis Bagi Korban

Bagi korban, breadcrumbing bukan sekadar pengalaman yang membingungkan, tetapi juga bisa mempengaruhi kondisi mental dalam jangka panjang. 

Korban kerap mengalami kebingungan emosional karena tidak tahu apakah pasangan benar-benar serius atau hanya main-main. 

Kebingungan ini kemudian menurunkan rasa percaya diri, membuat seseorang merasa tidak cukup baik untuk mendapatkan kepastian dalam hubungan.

Selain itu, breadcrumbing dapat menimbulkan stres, kecemasan, hingga kesulitan untuk move on. 

Korban terjebak dalam lingkaran menunggu perhatian kecil yang datang sesekali, padahal perhatian tersebut tidak membawa hubungan ke arah yang lebih jelas. 

Hal ini bisa berpengaruh besar pada kesehatan mental jika tidak segera disadari.

Bagaimana Mengatasinya?

Menghadapi breadcrumbing membutuhkan keberanian untuk mengenali tanda-tanda sejak awal. Hubungan sehat selalu didasari konsistensi, kejelasan, dan komitmen. 

Jika pola hilang-timbul terus berulang tanpa kejelasan, itu adalah tanda yang harus diwaspadai.

Langkah penting yang bisa dilakukan adalah menetapkan batasan pribadi dan berani menolak hubungan yang tidak sehat. 

Selain itu, membangun kembali kepercayaan diri sangat penting agar tidak mudah terjebak pada harapan palsu. 

Jika merasa sulit, mencari dukungan dari teman dekat atau konselor dapat membantu memulihkan kondisi emosional.

Mengenali tanda-tandanya sejak awal, menjaga batasan pribadi, dan hanya memilih hubungan yang konsisten merupakan cara terbaik untuk melindungi diri dari breadcrumbing. 

Pada akhirnya, hubungan cinta yang sehat seharusnya membawa rasa aman, bukan sekadar remah perhatian yang membuat lelah. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Breadcrumbing #Cara Mengatasi #dighosting #dampak psikologis