PONTIANAK POST - Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari generasi muda, khususnya Gen Z.
Generasi yang lahir di era digital ini dikenal sangat aktif menggunakan platform seperti Instagram, TikTok, maupun YouTube, bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk mengekspresikan diri, berbagi minat, hingga membangun identitas pribadi.
Salah satu tren yang semakin menonjol adalah kebiasaan Gen Z membagikan aktivitas olahraga mereka di media sosial mulai dari video gym, hasil lari pagi, hingga transformasi tubuh. Fenomena ini sering disebut sebagai fitness flexing.
Bagi sebagian orang, tren ini terlihat seperti ajang pamer semata. Namun, hasil riset menunjukkan bahwa realitanya lebih kompleks.
Konten semacam ini berfungsi seperti jurnal digital, yang bisa membantu mereka melihat progres dan menjaga konsistensi olahraga.
Media sosial dapat menjadi pemicu nyata bagi Gen Z untuk mengembangkan kebiasaan hidup sehat. Media sosial bagi Gen Z adalah ruang strategis untuk membangun citra diri.
Dengan rutin menampilkan aktivitas fisik, mereka ingin menunjukkan gaya hidup sehat, disiplin, dan produktif.
Identitas ini tidak hanya memperkuat rasa percaya diri, tetapi juga membuka peluang eksposur yang lebih luas, baik dalam lingkaran sosial maupun secara profesional.
Dengan kata lain, fenomena flexing latihan fisik di media sosial yang dilakukan Gen Z bukan hanya sekadar “pamer tubuh” atau “ikut-ikutan tren”.
Lebih dari itu, hal ini berupa motivasi pribadi, kebutuhan akan personal branding, serta upaya mendapatkan eksposur positif di era digital.
Flexing Olahraga Bukan Sekadar Pamer
Berdasarkan laporan Media Indonesia, sebuah riset menunjukkan bahwa mayoritas Gen Z yang membuat konten olahraga di media sosial bukan semata-mata untuk pamer, melainkan sebagai cara untuk mendokumentasikan perjalanan pribadi.
Mereka melihat postingan sebagai catatan digital yang bisa menjadi tolak ukur progres diri sekaligus memotivasi agar lebih konsisten berolahraga.
Konten seperti selfie setelah aktivitas fisik, video gym, atau progress foto justru sering digunakan untuk menjaga akuntabilitas diri.
Dengan kata lain, flexing latihan fisik bagi Gen Z adalah bentuk motivasi visual yang bisa mengingatkan diri sendiri tentang komitmen menjaga kesehatan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Tren! Inilah Makna Teman Level ala Gen Z yang Bikin Netizen Relate
Motivasi Intrinsik yang Dipicu Media Sosial
Hasil studi yang diterbitkan di PubMed (2025) dengan judul The impact of fitness social media use on exercise behavior menemukan bahwa penggunaan media sosial terkait aktivitas fisik dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam berolahraga.
Media sosial bukan hanya sarana berbagi, tetapi juga berfungsi sebagai pemicu motivasi intrinsik dorongan dari dalam diri yang membuat seseorang merasa senang dan bersemangat untuk berolahraga, bukan karena tekanan dari luar.
Artinya, ketika Gen Z melihat postingan orang lain yang berolahraga atau ketika mereka sendiri mengunggah aktivitas fitness, hal itu dapat meningkatkan niat dan komitmen berolahraga.
Ini membuktikan bahwa flexing latihan fisik punya sisi positif dalam mendorong kebiasaan hidup sehat.
Self-Branding Citra Diri di Era Digital
Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh Emerald Insight, penggunaan media sosial berhubungan erat dengan pembentukan identitas, khususnya bagi Gen Z.
Mereka cenderung melihat media sosial sebagai ruang untuk membangun personal branding.
Dengan memamerkan konsistensi aktivitas fisik, Gen Z bisa menunjukkan citra diri yang disiplin, sehat, dan memiliki gaya hidup aktif.
Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi kepercayaan diri, tetapi juga membuka peluang untuk mendapat pengakuan sosial, bahkan kesempatan profesional, misalnya menjadi influencer fitness atau mendapatkan sponsor dari brand olahraga.
Eksposur Diri Antara Apresiasi dan Tekanan
Fenomena flexing olahraga juga memberikan ruang bagi Gen Z untuk mendapat eksposur.
Konten latihan fisik yang rutin diunggah berpotensi menarik perhatian komunitas dengan minat yang sama, membangun jejaring, hingga meningkatkan popularitas.
Namun, perlu dicatat bahwa eksposur ini bisa menghadirkan tekanan sosial. Tidak jarang, sebagian orang merasa harus terus tampil sempurna demi menjaga citra.
Oleh karena itu, penting bagi Gen Z untuk menyeimbangkan motivasi internal dengan realita bahwa media sosial hanyalah salah satu aspek dari perjalanan hidup sehat, bukan penentu nilai diri. (*)
Editor : Miftahul Khair