Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Strategi Lengkap Menghadapi Lari Maraton: Dari Jadwal Latihan hingga Pemulihan Pasca-Finish

Syeti Agria Ningrum • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 15:15 WIB

 

Ilustrasi lari maraton.
Ilustrasi lari maraton.

PONTIANAK POST - Berlari maraton bukan sekadar olahraga ia adalah perjalanan panjang tentang ketahanan, disiplin, dan keuletan mental.

Banyak orang menganggap maraton sebagai pencapaian pribadi terbesar dalam hidup mereka.

Namun di balik garis finish yang membanggakan, ada proses latihan panjang dan pola hidup yang harus dijaga dengan konsisten.

Bagi pemula, menempuh jarak 42,195 kilometer mungkin terdengar mustahil.

Tapi dengan rencana latihan yang tepat, pemahaman tentang tubuh sendiri, serta strategi yang matang, kamu bisa menaklukkan maraton dengan aman dan membanggakan.


1. Bangun Dasar Latihan dengan Rencana yang Realistis
Menurut data rujukan dari Marathon Handbook, kesalahan paling umum pelari maraton adalah mencoba mempercepat progres secara berlebihan. Tubuh manusia butuh waktu untuk beradaptasi terhadap jarak dan intensitas yang meningkat.

Idealnya, kamu membutuhkan waktu 16 hingga 20 minggu untuk mempersiapkan diri sebelum maraton.

Selama periode ini, fokus pada tiga hal utama:

Peningkatan jarak bertahap, tambah total jarak mingguan sekitar 10% per minggu untuk menghindari cedera.


Long run mingguan, jadwalkan satu hari dalam seminggu untuk berlari jarak jauh (20–30 km menjelang minggu terakhir latihan).


Istirahat aktif, beri waktu 1–2 hari dalam seminggu untuk pemulihan.

Catat progres latihan di jurnal atau aplikasi pelari. Ini membantu kamu memantau perkembangan dan mendeteksi kelelahan lebih awal.


2. Lakukan Cross-Training dan Latihan Kekuatan
Dikutip dari Nike Running Club, banyak pelari yang lupa bahwa tubuh memerlukan kekuatan menyeluruh, bukan hanya kaki.

Melakukan cross-training seperti berenang, bersepeda, atau yoga dapat:

Mengurangi resiko cedera akibat beban berulang di kaki.


Meningkatkan kapasitas jantung dan paru-paru.


Melatih fleksibilitas dan koordinasi tubuh.

Sementara latihan kekuatan (strength training) membantu otot tetap stabil selama jarak panjang. Fokus pada:

Core training, plank, side plank, dan bridge untuk menjaga postur.


Leg strengthening, squat, lunges, dan calf raises.


Mobility training, stretching dinamis sebelum dan peregangan statis sesudahnya.

Cukup lakukan latihan kekuatan 2 kali seminggu, di hari non-lari. Jangan sampai otot kelelahan menjelang sesi long run.


3. Atur Pola Makan dan Hidrasi dengan Cermat
Menurut Runners Need, nutrisi adalah “bahan bakar utama” untuk tubuh pelari. Gagal menjaga asupan makanan dan cairan bisa menyebabkan kelelahan dini bahkan kram otot.

Kamu bisa mengikuti pola makan berikut:

Karbohidrat kompleks, sumber energi utama (nasi merah, oats, pasta gandum, ubi).


Protein, untuk regenerasi otot (telur, daging tanpa lemak, ikan, tahu-tempe).


Lemak sehat, dari alpukat, kacang, atau minyak zaitun.


Sayur & buah, kaya antioksidan untuk mempercepat pemulihan.

Hidrasi juga tak kalah penting. Tubuh kehilangan cairan setiap kilometer, jadi biasakan minum setiap 15–20 menit saat berlari jauh.

Kamu juga bisa menambahkan minuman elektrolit untuk mengganti garam mineral yang hilang lewat keringat.

Coba simulasi nutrisi selama latihan panjang. Gunakan gel energi, pisang, atau minuman isotonik agar tahu mana yang cocok dengan sistem pencernaanmu saat lomba nanti.


4. Melatih Mental Sama Seriusnya dengan Fisik
London Marathon Running Tips menegaskan bahwa kekuatan mental sering kali menjadi pembeda antara pelari yang menyerah dan yang berhasil mencapai garis finish.

Selama latihan panjang, cobalah melatih ketahanan mental melalui:

Visualisasi, bayangkan dirimu menyelesaikan lomba dengan sukses.


Mantra positif, ucapkan kalimat seperti “aku kuat, aku siap, aku bisa”.


Segmentasi jarak, pecah jarak maraton jadi beberapa bagian kecil. Fokus menyelesaikan satu bagian demi satu bagian.

Selain itu, penting juga belajar menerima ketidaknyamanan. Rasa lelah, haus, dan panas adalah bagian dari perjalanan. Yang perlu kamu latih adalah cara tetap fokus di tengah rasa itu.

Cobalah latihan meditasi 5–10 menit setiap hari untuk melatih fokus dan kontrol napas. Hal sederhana ini bisa sangat membantu di tengah perlombaan panjang.


5. Strategi Hari Lomba: Jangan Cuma Mengandalkan Semangat
Menurut Runner’s World, banyak pelari gagal finis karena mengabaikan strategi di hari lomba.

Beberapa hal penting yang perlu kamu perhatikan:

Cek perlengkapan sehari sebelum lomba. Pastikan sepatu, kaus kaki, nomor dada, dan jam sudah siap.


Jangan pakai perlengkapan baru. Gunakan sepatu dan pakaian yang sudah diuji selama latihan.


Pemanasan ringan. Jalan cepat dan stretching dinamis selama 10–15 menit sebelum start.


Pacing bijak. Jangan tergoda berlari terlalu cepat di awal. Mulailah perlahan dan tingkatkan kecepatan bertahap setelah 30 menit.

Datang ke lokasi minimal 1 jam sebelum start. Ini memberimu waktu untuk menenangkan diri, pergi ke toilet, dan menyiapkan pikiran dengan tenang.


6. Setelah Finish: Pemulihan Sama Pentingnya dengan Latihan
Banyak pelari mengira selesai maraton berarti selesai segalanya. Padahal fase recovery justru menentukan apakah tubuhmu bisa kembali bugar dengan cepat.

Berikut saran dari Marathon Handbook dan Runner’s World:

Jalan ringan selama 10–15 menit setelah garis finish agar aliran darah kembali normal.


Rehidrasi segera. Minum air putih dan minuman elektrolit.


Konsumsi makanan tinggi protein dan karbohidrat dalam 30 menit pertama.


Tidur cukup minimal 8 jam selama beberapa hari berikutnya.


Aktivitas ringan seperti jalan santai atau yoga dapat membantu mengurangi pegal.

Jangan tergesa-gesa kembali latihan berat. Beri waktu 1–2 minggu agar otot benar-benar pulih sebelum mulai program berikutnya. (*)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#tips #lari #maraton #finish