Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Psikolog Ungkap Silent Treatment Bisa Jadi Bentuk Manipulasi Emosional yang Tak Disadari

Syeti Agria Ningrum • Kamis, 9 Oktober 2025 | 16:00 WIB

Ilustrasi pasangan yang sedang mengalami silent treatment usai konflik emosional.
Ilustrasi pasangan yang sedang mengalami silent treatment usai konflik emosional.
Ilustrasi pasangan yang sedang mengalami silent treatment usai konflik emosional. FREEPIK

PONTIANAK POST - Dalam setiap hubungan entah itu dengan pasangan, teman, atau keluarga komunikasi adalah kunci. Tapi bagaimana jika seseorang memilih untuk tidak berbicara sama sekali saat marah?

Alih-alih menyelesaikan masalah, mereka justru menutup diri, menolak kontak mata, membiarkan pesan tak terbalas, dan membuat suasana tegang tanpa kata.

Inilah yang disebut silent treatment perlakuan diam yang sering dianggap sepele, tapi sebenarnya bisa melukai secara emosional dan mental.

Silent treatment bukan hanya bentuk keheningan biasa, melainkan mekanisme pasif-agresif yang bisa menjadi alat manipulasi, pengendalian emosi, bahkan bentuk kekerasan emosional bila dilakukan terus-menerus.

Apa Itu Silent Treatment?

Silent treatment adalah pola komunikasi di mana seseorang menolak berinteraksi atau berbicara dengan orang lain sebagai bentuk kemarahan, kekecewaan, atau bentuk hukuman emosional.

Dilansir dari Verywell Mind, perilaku ini berbeda dengan “diam karena butuh waktu.” Dalam silent treatment, diam digunakan untuk mengontrol dan menghukum, bukan untuk menenangkan diri.

Di sini, keheningan bukan tanda kedewasaan emosional, melainkan cara menghindari tanggung jawab emosional.

Alasan Seseorang Menggunakan Silent Treatment

Menurut Psychology Today dan PositivePsychology.com, ada beberapa alasan seseorang memilih diam daripada berbicara:

1. Menghindari konflik langsung. Orang yang tidak nyaman dengan konfrontasi memilih diam agar tidak memperburuk situasi.

2. Menunjukkan kontrol atau kekuasaan. Diam digunakan untuk membuat pihak lain merasa bersalah atau kalah.

3. Kurangnya keterampilan komunikasi emosional. Beberapa orang tidak tahu cara mengungkapkan emosi dengan sehat.

4. Trauma masa lalu. Orang yang tumbuh di lingkungan penuh konflik bisa memandang diam sebagai cara “aman” untuk menghindari masalah.

Namun, diam yang digunakan untuk mengatur emosi diri berbeda dari diam yang digunakan untuk mengontrol orang lain. Di sinilah batas antara pengendalian diri (self-control) dan pengendalian orang lain (emotional control).

Saat Diam Menjadi Manipulasi Emosional

Dilansir dari Psych Central menyebut silent treatment sebagai bentuk emotional manipulation ketika digunakan untuk:

• Membuat orang lain merasa bersalah atau tidak berharga

• Menekan agar pihak lain mengikuti kehendak pelaku

• Menghindari tanggung jawab atas konflik atau kesalahan sendiri

Orang yang menerima perlakuan ini sering kali merasa bingung, cemas, bahkan panik.

Baca Juga: Jangan Dianggap Sepele, Ini Efek Psikologis Hidup dengan Pasangan Narsistik

Dampak Psikologis Silent Treatment bagi Korban

Beberapa studi yang menjelaskan bahwa korban silent treatment bisa mengalami efek emosional yang serius, seperti:

• Stres dan kecemasan berlebih. Rasa tidak tahu penyebab diamnya seseorang membuat pikiran terus memutar kemungkinan terburuk.

• Rasa bersalah yang tidak berdasar. Korban sering menganggap dirinya penyebab masalah, meski tidak tahu kesalahannya.

• Menurunnya harga diri. Terus diabaikan membuat seseorang merasa tidak berharga atau tidak penting.

• Kelelahan emosional. Energi terkuras untuk mencoba memperbaiki situasi yang tidak jelas ujungnya.

• Risiko depresi. Dalam jangka panjang, rasa terisolasi bisa memicu gejala depresi dan perasaan tidak aman dalam hubungan.

Efek silent treatment sebanding dengan penolakan sosial, yang oleh otak manusia diproses seperti rasa sakit fisik. Artinya, diabaikan secara emosional terasa sama sakitnya dengan dilukai secara fisik. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Silent treatment #psikolog #Manipulasi emosional #pasangan