Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Bukan Tanda Produktif! Ahli Ungkap Bahaya Tersembunyi di Balik Kebiasaan Multitasking, Cek Selengkapnya Disini

Syeti Agria Ningrum • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 12:15 WIB
Ilustrasi pekerja yang memiliki kebiasaan multitasking yang justru dapat menurunkan fokus dan kualitas kerja.
Ilustrasi pekerja yang memiliki kebiasaan multitasking yang justru dapat menurunkan fokus dan kualitas kerja.

PONTIANAK POST - Di era ini banyak orang bangga mengaku bisa mengerjakan dua hal sekaligus seperti menjawab pesan sambil rapat, atau menulis laporan sambil mendengarkan podcast. Istilahnya, multitasking.

Namun, penelitian dari berbagai sumber menunjukkan bahwa kemampuan melakukan banyak hal sekaligus bukanlah tanda produktivitas tinggi, melainkan justru penyebab utama turunnya kualitas kerja, fokus, dan efisiensi mental. 

Otak Tidak Diciptakan untuk Multitasking

Dirujuk dari Scientific American, otak manusia sebenarnya tidak benar-benar bisa mengerjakan dua hal dalam waktu bersamaan. Yang terjadi adalah perpindahan fokus sangat cepat antar tugas (disebut task switching).

Setiap kali otak berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, dibutuhkan waktu tambahan untuk “menyesuaikan diri”. Akibatnya, energi mental terkuras, kecepatan menurun, dan risiko kesalahan meningkat.

Penelitian juga menemukan bahwa mengerjakan banyak hal sekaligus mengaktifkan bagian otak yang berbeda-beda secara bergantian. Itu berarti otak tidak bekerja paralel, melainkan beralih terus-menerus, seperti komputer yang membuka banyak tab hingga performanya melambat.

Baca Juga: Strategi Hadapi Pertanyaan Kritis saat Wawancara Kerja: Hadapi dengan Elegan

Multitasking Justru Mengurangi Produktivitas

Dirujuk dari Verywell Mind menjelaskan bahwa hal ini dapat menurunkan efisiensi hingga 40%. Ketika seseorang mencoba membaca email sambil mengikuti rapat, otak tidak bisa memproses dua sumber informasi kompleks dalam waktu bersamaan. 

Akibatnya, pesan tidak tertangkap penuh, keputusan menjadi kurang akurat, dan hasil pekerjaan kehilangan detail penting.

Lebih parah lagi, mengerjakan banyak hal sekaligus membuat otak bekerja lebih keras tanpa hasil yang lebih baik sehingga seseorang merasa sibuk, padahal hasilnya tidak sebanding.

Ini yang disebut dengan “false productivity”, yaitu merasa produktif tapi sebenarnya hanya sibuk berpindah-pindah tugas.

Dampak Negatif Multitasking terhadap Kesehatan Mental

Berdasarkan penelitian di Oxford Academic, mengerjakan banyak hal sekaligus tidak hanya mempengaruhi performa kerja, tapi juga meningkatkan stres kognitif.

Otak dipaksa terus menyesuaikan konteks antar tugas, membuat seseorang cepat lelah, sulit konsentrasi, dan mudah lupa detail penting.

Selain itu, penelitian dari Springer Open (2018) menunjukkan bahwa mengerjakan banyak hal sekaligus media seperti belajar sambil membuka media sosial atau menonton video berdampak negatif terhadap kemampuan memahami materi dan daya ingat jangka panjang. 

Mahasiswa yang sering mengerjakan banyak hal sekaligus cenderung memiliki nilai akademik lebih rendah dibanding mereka yang fokus pada satu tugas dalam satu waktu.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa menyebabkan penurunan kemampuan fokus (attention span) dan peningkatan kecemasan (anxiety) karena otak terbiasa “melompat-lompat” tanpa pernah benar-benar tenang.

Baca Juga: Bukan Sekadar Tren! Ini Manfaatnya untuk Postur, Kebugaran, dan Kesehatan Mental, Jadi Olahraga Favorit Anak Muda hingga Profesional

Kenapa Banyak Orang Masih Menganggap Multitasking Hebat?

Fenomena ini dijelaskan dalam artikel Scientific American sebagai efek ilusi kontrol saat seseorang merasa bisa mengatur banyak hal sekaligus, padahal sebenarnya hanya mengganti fokus secara cepat.

Sensasi “sibuk” ini sering disalah artikan sebagai produktivitas. Padahal, hasil kerja yang sesungguhnya lebih rendah, kualitas menurun, dan waktu penyelesaian justru lebih lama.

Dalam dunia kerja, mengerjakan banyak hal sekaligus memang terlihat keren di permukaan. Tapi dalam jangka panjang, kemampuan single-tasking (fokus pada satu hal penuh perhatian) jauh lebih bernilai dan berkelanjutan.

Cara Menghindari Multitasking agar Lebih Produktif

Berdasarkan rekomendasi dari Verywell Mind dan hasil studi akademik, berikut beberapa langkah praktis untuk meningkatkan fokus tanpa terjebak multitasking:

  1. Kerjakan satu hal dalam satu waktu. Gunakan prinsip “deep work” — selesaikan tugas penting tanpa gangguan.
  2. Matikan notifikasi sementara. Notifikasi digital adalah pemicu utama perpindahan fokus.
  3. Gunakan teknik Pomodoro. Fokus selama 25–30 menit, istirahat 5 menit, lalu lanjut lagi.
  4. Prioritaskan tugas berdasarkan urgensi. Selesaikan pekerjaan dengan nilai dampak terbesar lebih dulu.
  5. Berlatih mindfulness. Latihan kesadaran penuh membantu otak terbiasa fokus pada saat ini tanpa tergoda distraksi.

Hal ini bukan tanda produktif, melainkan bentuk distraction in disguise gangguan yang terlihat sibuk.

Otak manusia lebih efisien saat fokus pada satu tugas. Dengan bekerja secara bertahap, kualitas hasil meningkat, stres berkurang, dan waktu justru lebih efisien. (*)

Editor : Miftahul Khair
#kerja #stres #kesehatan mental #multitasking #produktif