Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Mengapa Generasi Baby Boomers Masih Anggap Telat Menikah Sebagai Kegagalan Sosial di Era Modern?

Syeti Agria Ningrum • Senin, 20 Oktober 2025 | 16:30 WIB
Ilustrasi dua wanita muda berdiskusi tentang pandangan masyarakat terhadap usia dan pernikahan.
Ilustrasi dua wanita muda berdiskusi tentang pandangan masyarakat terhadap usia dan pernikahan.

PONTIANAK POST - Di banyak budaya, termasuk Indonesia, perbincangan tentang usia ideal menikah masih menjadi topik hangat. Tidak jarang, wanita yang berusia di atas 25 tahun mulai mendengar komentar seperti “kok belum nikah?” atau “nanti keburu tua.”

Fenomena ini sesungguhnya berakar dari perbedaan cara pandang antara generasi Baby Boomers dan generasi muda masa kini (Milenial dan Gen Z).

Bagi sebagian besar Baby Boomer mereka yang lahir antara tahun 1946 hingga 1964 menikah di usia muda merupakan pencapaian sosial, simbol stabilitas, dan cerminan keberhasilan hidup. 

Namun, generasi muda menilai sebaliknya membina rumah tangga bukan lagi kewajiban, melainkan pilihan yang matang setelah menemukan keseimbangan antara karir, kemandirian, dan kesiapan emosional.

1. Perspektif Historis Menikah Muda Dianggap Standar Kesuksesan

Dilansir dari Pew Research Center (Marriage Delayed or Marriage Foregone), generasi Baby Boomers tumbuh dalam sistem sosial yang menjadikan rumah tangga sebagai tonggak kedewasaan.

Pada dekade 1960-an hingga 1980-an, wanita rata-rata membina rumah tangga pada usia 20–22 tahun.

Faktor ekonomi kala itu sangat mendukung yaitu biaya hidup lebih rendah, rumah tangga bisa dibangun dari satu penghasilan, dan perempuan cenderung diarahkan untuk fokus pada peran domestik.

Dalam konteks Indonesia, kondisi serupa terjadi. Setelah masa Orde Baru, pandangan bahwa “wanita baik harus berumah tangga di usia muda” diwariskan melalui sistem sosial, agama, dan budaya yang sangat patriarkal.

Karena itu, bagi sebagian orang tua dari generasi Boomer, wanita berusia 25 tahun yang belum berkeluarga dianggap menyimpang dari norma kesuksesan sosial.

2. Realitas Pendidikan dan Kemandirian Mengubah Arah Hidup

Studi dari National Center for Family & Marriage Research menunjukkan bahwa usia pernikahan pertama terus meningkat di seluruh dunia.

Jika pada 1980-an sekitar 70% wanita berusia 25 tahun sudah berkeluarga, kini angkanya turun drastis menjadi sekitar 30%.

Peningkatan ini tidak lepas dari pergeseran ekonomi dan pendidikan. Perempuan kini lebih banyak menempuh pendidikan tinggi, membangun karir, dan memiliki target personal sebelum berkeluarga.

Kemandirian finansial juga membuat mereka lebih bebas menentukan arah hidup tanpa tekanan sosial yang sama kuatnya seperti masa orang tua mereka.

Dalam konteks urban Indonesia, banyak wanita muda memilih memprioritaskan stabilitas emosional dan finansial sebelum melangkah ke jenjang membina rumah tangga.

Mereka sadar bahwa membina rumah tangga bukan sekadar resepsi acara, tetapi tanggung jawab jangka panjang yang membutuhkan kesiapan psikologis, ekonomi, dan spiritual.

3. Pergeseran Nilai dari Kewajiban menjadi Pilihan Sadar

Dilansir dari Institute for Family Studies (IFS) menunjukkan bahwa generasi milenial dan Gen Z memiliki nilai hidup yang lebih individualistis namun reflektif.

Pernikahan kini dianggap sebagai keputusan sadar yang didasari cinta, kesetaraan, dan kompatibilitas emosional bukan lagi kewajiban sosial.

Psikolog keluarga modern menilai bahwa “membina rumah tangga cepat tidak menjamin kebahagiaan”, sementara “membangun rumah tangga di usia matang cenderung lebih stabil dan sehat.”

Artinya, usia 25 tahun ke atas bukanlah keterlambatan, melainkan fase di mana seseorang menimbang ulang makna komitmen dan kesiapan diri.

Selain itu, meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental dan konsep self-worth membuat banyak wanita enggan berkeluarga hanya untuk memenuhi ekspektasi keluarga.

Mereka lebih memilih mencari pasangan yang sejalan dalam nilai hidup, visi karier, serta kestabilan emosional bahkan jika itu berarti menunggu lebih lama.

4. Pengaruh Budaya Patriarki dan Tekanan Sosial yang Masih Kuat

Meski nilai modern mulai mendominasi, tekanan sosial masih kuat di masyarakat Asia, termasuk Indonesia.

Berdasarkan laporan National Center for Health Statistics, norma tradisional yang menilai pernikahan sebagai penentu status sosial masih bertahan di sebagian besar negara berkembang.

Bagi generasi Boomer, perempuan yang belum berkeluarga di usia 25 tahun dianggap terlalu sibuk bekerja, terlalu mandiri, atau terlalu selektif.

Stigma ini sering kali disampaikan dalam bentuk komentar ringan di lingkungan keluarga yang bagi sebagian wanita bisa menimbulkan tekanan psikologis.

Padahal, konteks sosial telah berubah. Kini, usia membina rumah tangga tidak lagi menjadi ukuran moralitas atau kesuksesan hidup.

Perempuan memiliki peran produktif yang diakui di ruang publik, dan kontribusi mereka terhadap masyarakat tidak berkurang meskipun belum berkeluarga.

5. Dimensi Sosial dan Politik “Telat Menikah” Sebagai Isu Kultural

Fenomena ini juga dapat dibaca secara politik-sosiologis istilah “telat membina rumah tangga” adalah bentuk kontrol sosial terhadap perempuan.

Dalam banyak kultur patriarki, tubuh dan pilihan hidup perempuan sering kali dijadikan tolak ukur moralitas kolektif.

Sosiolog kontemporer berpendapat bahwa pandangan “wanita ideal adalah yang menikah muda” merupakan warisan kolonial dan ekonomi domestik lama, di mana perempuan diharapkan menopang rumah tangga, bukan berkarier.

Kini, ketika perempuan mengambil ruang publik yang lebih luas baik di politik, bisnis, maupun pendidikan narasi itu menjadi tantangan terhadap ide lama yang dipegang oleh generasi Boomer.

Baca Juga: Heboh! Faby Marcelia & Ichal Muhammad Diduga Menikah Siri, Publik Menunggu Klarifikasi

6. Menikah Bukan Perlombaan

Pernikahan bukan sekadar tentang waktu, tetapi tentang kesiapan emosional dan kualitas hubungan.

Wanita berusia 25 tahun ke atas tidak terlambat berkeluarga; mereka sedang menjalani proses hidup sesuai ritme masing-masing.

Sebagaimana diungkap oleh laporan Pew Research, tingkat kepuasan cenderung lebih tinggi pada pasangan yang berkeluarga setelah usia 27 tahun karena mereka lebih matang dalam berpikir dan memiliki stabilitas ekonomi yang lebih baik.

Artinya, menunda bukan berarti takut berkomitmen, melainkan bentuk kesadaran diri untuk membangun keluarga yang sehat dan bertanggung jawab.

Menikah diatas usia 25 tahun, 30 tahun, atau bahkan lebih dari itu bukanlah kegagalan justru bentuk kedewasaan yang sesungguhnya yaitu berani memilih waktu terbaik untuk bahagia. (*)

Editor : Miftahul Khair
#milenial #baby boomer #telat menikah #Gen Z