PONTIANAK POST – Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan waktu atau kurun waktu sebagai rangkaian penuh momen selama suatu proses, tindakan, atau situasi berlangsung.
Pentingnya menyadari bahwa waktu sangatlah penting, sehingga Allah bersumpah atas nama waktu untuk membuka Surah Al-‘Asr:
“Wal’asr, inna al-insaana lafi khusr, illalladziina amanu wa ‘amilush-shaalihati wa tawashau bil-haqqi wa tawashau bish-shabr.”
“Demi waktu, sesungguhnya manusia dalam keadaan kerugian, kecuali orang beriman, orang yang beramal saleh, senantiasa bernasehat dalam kebenaran, dan orang yang mewasiatkan kesabaran.”
Surah Al-‘Asr di atas menyebut ada empat golongan manusia yang tidak merugi. Semuanya boleh jadi akan merugi bahkan orang Islam sekalipun.
Melansir dari Kanal Youtube NU Online, Gus Dhofir Zuhry menyatakan salah satu makna Al-‘Asr dalam surah di atas adalah salat asar, masa atau masa nabi pada salah satu tafsir lain.
Baca Juga: Kalender 2026 Resmi, Cek Daftar Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun Ini
Memanfaatkan Waktu Agar Tidak Sia-sia dan Meletihkan Usia
Waktu yang unfaedah alias tidak berguna menjadi perhatian serius dalam ajaran Islam. Para alim ulama terus mengajarkan bahwa Islam memandang waktu sebagai amanah yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara totalitas dalam kehidupan sehari-hari.
Gus Dhofir lalu menerangkan di dalam masa ada segala hal, semunya, apapun itu. Jadi kalau Allah bersumpah demi masa itu artinya Allah sesungguhnya bersumpah demi seluruh totalitas manusia.
Kemudian, Gus Dhofir mencontohkan dengan spidol yang dimasukan dalam kantong bajunya. Katanya, ini adalah manusia seluruhnya berada dalam kantong kerugian.
Lebih lanjut, Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah itu menggambarkan, kecuali orang yang beriman baru keluar 1/4, berbuat kebaikan baru keluar 1/2, senantiasa bernasehat dalam kebenaran baru keluar 3/4, dan mewasiatkan kesabaran barulah keluar semua dari kantong kerugian.
“Semoga kita menjadi pribadi yang punya waktu baik, manajemen waktu yang baik. Sebab orang boleh kaya, boleh miskin, boleh juga memiliki kedudukan dan harta. Mungkin kita tidak memiliki yang mereka punya, tapi kita memiliki hal sama yang paling inti dari hidup yaitu waktu,” terang dia dalam video tersebut.
“Dan orang yang menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan hidupnya. Karena waktu adalah hakikat hidup itu sendiri,” pungkas Gus Dhofir dalam kajiannya. (*)
Editor : Miftahul Khair