PONTIANAK POST – Buku sering dibeli dengan niat mulia, tetapi berakhir hanya menjadi pajangan di rak. Fenomena ini ternyata bukan sekadar kebiasaan belanja impulsif, melainkan memiliki istilah dan penjelasan tersendiri.
Dalam kajian literatur, kegemaran membeli buku tanpa membacanya dikenal sebagai biblioholisme.
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana kepemilikan buku kerap lebih penting daripada proses membaca itu sendiri.
Mengenal Biblioholisme
Merujuk pada buku The Literary Addiction (2001), biblioholisme adalah hasrat untuk membeli, membaca, menyimpan, dan mengagumi buku secara berlebihan. Penderitanya disebut biblioholik.
Pada buku tersebut, Tom Raabe menyebut ada dua jenis biblioholisme. Bibliomania (menggilai buku) dan bibliofil (mencintai buku).
Kedua jenis itu dibedakan oleh motivasi. Seorang bibliomania membeli buku hanya menjejernya, menumpuknya saja. Tanpa membacanya. Sedangkan bibliofil mengharap dapat menguras isi dan kebijakan dari buku-buku.
Perbedaan Pembeli dan Pembaca Buku
Kata Tom Raabe ada perbedaan mendasar antara membeli buku untuk dibaca dan membeli buku untuk dimiliki.
Pembaca biasa membeli buku karena ingin masuk ke dalamnya, membuka halaman pertama, mengikuti alurnya, menutupnya dengan perasaan selesai.
Biblioholik, sebaliknya, membeli buku karena ingin menyimpannya. Buku itu sendiri, sebagai objek fisik sudah cukup. Membacanya menjadi kemungkinan sekunder, bahkan opsional.
Inilah lingkaran setan kepemilikan, sebut Tom Raabe. Semakin banyak buku yang dimiliki, semakin kuat dorongan untuk memiliki lebih banyak lagi. Rak yang penuh bukanlah tanda kepuasan, melainkan tantangan.
Setiap ruang kosong adalah undangan; setiap ruang penuh adalah provokasi untuk menambah rak, jelas Tom Raabe dalam bukunya.
Baca Juga: Ayo Ubah Pola Hidupmu dengan Langkah Kecil ala Buku Atomic Habits
Rak Buku Sebagai Topeng
Perhatikan bagaimana seseorang menyusun rak bukunya, lanjut Tom Raabe menjelaskan.
Buku-buku yang serius diletakkan sejajar dengan mata. Sedangkan yang ringan disembunyikan di baris bawah. Jika ada yang memalukan dipindahkan ke kamar tidur atau kotak penyimpanan.
Rak buku menjadi topeng sosial. Pemiliknya akan berkata: Aku orang yang berpikir. Aku orang yang peduli. Aku orang yang membaca hal-hal penting. Seperti semua topeng, ia tidak sepenuhnya bohong, tetapi juga tidak sepenuhnya jujur, kata Tom Raabe.
Biblioholik tahu persis buku mana yang ingin dilihat orang lain. Ia juga tahu buku mana yang ingin ia miliki agar merasa pantas berada di dunia intelektual tertentu.
Kita membeli buku filsafat bukan hanya karena ingin memahaminya, tetapi karena kita ingin menjadi tipe orang yang seharusnya memahami filsafat.
Bagi biblioholik, memiliki buku berarti memiliki potensi makna yang siap diakses kapan saja. Dalam dunia yang terus bergerak, buku diam. Dalam hidup yang tak pasti, rak buku menawarkan ilusi stabilitas.
Namun di sinilah jebakannya. Ketika hidup terasa terlalu rumit, terlalu cepat, atau terlalu menyakitkan, biblioholik menarik diri ke wilayah yang ia kuasai sepenuhnya: toko buku, rak buku, katalog buku. Ia memilih potensi pemahaman ketimbang pengalaman nyata. (*)
Editor : Miftahul Khair