PONTIANAK POST - Perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan kerap menjadi bahan diskusi, mulai dari anggapan perempuan lebih emosional hingga laki-laki lebih rasional. Namun, menurut dr Ryu Hasan, pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat secara ilmiah.
Dalam kelas pakar yang ditayangkan di kanal YouTube Malaka, Ryu Hasan menegaskan bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama-sama digerakkan oleh emosi.
“Kehidupan kita ini 99,9 persen didorong oleh emosi, bukan oleh rasionalitas,” ujar Ryu Hasan dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan yang sering disalahpahami bukan terletak pada kadar emosionalitas, melainkan pada cara mengekspresikan emosi.
Baca Juga: Tiongkok Kembangkan Implan Otak, NeuroXess Masuk Uji Klinis untuk Tantang Neuralink
Laki-laki dan perempuan sama-sama emosional, tetapi menunjukkan respons yang berbeda dalam situasi sosial maupun personal.
Menurut Ryu Hasan, perbedaan tersebut berakar kuat pada sejarah evolusi manusia. Selama sekitar 340.000 tahun, manusia hidup sebagai pemburu-pengumpul dengan pembagian peran yang tegas antara laki-laki dan perempuan.
“Selama lebih dari 90 persen sejarah evolusi manusia, tugas laki-laki dan perempuan itu benar-benar terpisah. Otak pun berkembang mengikuti kebutuhan hidup tersebut,” jelasnya.
Laki-laki pada masa itu dituntut mengembangkan kemampuan navigasi jarak jauh untuk berburu dan mengenali ancaman, sementara perempuan menguasai navigasi jarak dekat dan detail ruang untuk mengelola tempat tinggal serta mengasuh anak.
Meski demikian, Ryu Hasan menekankan bahwa perbedaan ini bukan bersifat mutlak. Dalam sekitar 10.000 tahun terakhir, peradaban telah mengaburkan pembagian peran tersebut sehingga cara kerja otak laki-laki dan perempuan semakin menyatu.
Baca Juga: Studi Ungkap Manfaat Kopi untuk Otak, Risiko Pikun Bisa Lebih Rendah
“Sekarang kita menemukan laki-laki yang jago masak dan perempuan yang sangat petualang. Itu bukti bahwa otak kita terus beradaptasi,” tutupnya. (*)
Editor : Miftahul Khair