PONTIANAK POST - Meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga tidak selalu diikuti dengan pemahaman yang tepat tentang pencegahan cedera.
Dokter rehabilitasi medik Adrian Setiaji menyebut bahwa banyak kasus cedera olahraga sebenarnya terjadi bukan karena olahraganya berbahaya, melainkan karena persiapan dan pola latihan yang kurang tepat.
Hal ini disampaikan dr Adrian dalam diskusi kesehatan di kanal YouTube Tirta PengPengPeng. Ia menjelaskan bahwa pencegahan cedera olahraga harus bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu stretching, strength training, dan nutrisi.
“Stretching harus benar, strength training itu penting, dan nutrisi adalah fondasi. Kalau salah satu diabaikan, risiko cedera pasti meningkat,” tegasnya.
Menurut dr. Adrian, stretching berfungsi menyiapkan otot dan sendi sebelum beraktivitas fisik. Tanpa peregangan yang tepat, otot berada dalam kondisi kaku dan lebih rentan mengalami robekan atau ketegangan saat digunakan.
Sementara itu, strength training atau latihan kekuatan berperan penting dalam menjaga stabilitas tubuh. Otot yang kuat akan membantu menyerap beban gerak sehingga tidak seluruhnya ditanggung oleh sendi, ligamen, dan tendon.
“Kalau ototnya lemah, beban gerak itu larinya ke sendi dan ligamen. Di situ cedera mulai muncul,” jelasnya.
Selain aspek latihan fisik, dr. Adrian menekankan pentingnya nutrisi sebagai penopang utama proses adaptasi dan pemulihan tubuh.
Tanpa asupan nutrisi yang memadai, tubuh akan kesulitan memperbaiki kerusakan mikro yang terjadi selama olahraga.
Ia menyebut bahwa banyak orang merasa sudah melakukan segalanya dengan benar, rajin olahraga dan stretching, namun tetap mengalami cedera berulang karena mengabaikan kebutuhan nutrisi.
“Cedera itu sering bukan karena olahraganya salah, tapi karena tubuhnya tidak siap,” ujar dr. Adrian.
Ia menegaskan bahwa olahraga seharusnya membuat tubuh lebih sehat dan kuat, bukan justru menjadi sumber masalah baru.
Oleh karena itu, pendekatan yang seimbang antara latihan, persiapan fisik, dan pola makan menjadi kunci agar olahraga bisa dilakukan secara aman dan berkelanjutan. (*)
Editor : Miftahul Khair