Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Olahraga Aerobik Turunkan Resting Heart Rate, Risiko Penurunan Otak Lebih Rendah: Begini Penjelasan Dokter

Khoiril Arif Ya'qob • Rabu, 4 Maret 2026 | 14:09 WIB

Ilustrasi olahraga aerobik.
Ilustrasi olahraga aerobik.

PONTIANAK POST - Kabar baik bagi Anda yang rutin berolahraga, khususnya olahraga aerobik.

Dokter dan edukator kesehatan Adam Prabata membagikan informasi menarik terkait manfaat kebugaran jantung terhadap kesehatan otak dalam jangka panjang.

Melalui unggahannya di platform X, dr. Adam menyampaikan bahwa frekuensi nadi yang lebih rendah saat istirahat atau resting heart rate (RHR) berasosiasi dengan risiko penurunan kemampuan otak yang lebih rendah, terutama saat memasuki usia lanjut.

Baca Juga: Mampu 40 Push-Up Tanpa Henti, Risiko Penyakit Jantung Turun hingga 96 Persen

Resting Heart Rate Rendah, Otak Lebih Terlindungi

RHR adalah jumlah detak jantung per menit ketika tubuh dalam kondisi benar-benar istirahat. Pada individu yang rutin berolahraga aerobik seperti lari, bersepeda, atau berenang, RHR cenderung lebih rendah karena jantung bekerja lebih efisien.

Menurut dr. Adam, RHR yang lebih rendah berasosiasi dengan:

- Penurunan peradangan di otak

- Lebih sedikit sel otak yang mengalami gangguan fungsi

- Lebih rendahnya risiko degenerasi sel saraf

Peradangan kronis diketahui menjadi salah satu faktor yang berperan dalam penurunan fungsi kognitif dan penyakit neurodegeneratif. Dengan kondisi jantung yang lebih efisien, suplai oksigen dan nutrisi ke otak juga menjadi lebih optimal.

Baca Juga: Riset: Olahraga 3 Menit Sehari Turunkan Risiko Penyakit Jantung

HRV dan Kemampuan Mengambil Keputusan

Tak hanya RHR, dr. Adam juga menyoroti pentingnya heart rate variability (HRV). HRV adalah variasi jarak waktu antar detak jantung, yang mencerminkan kemampuan sistem saraf otonom beradaptasi terhadap berbagai situasi.

Pada orang yang rutin berolahraga, HRV cenderung lebih lebar atau fleksibel. Artinya, tubuh mampu menyesuaikan detak jantung secara dinamis sesuai kebutuhan, baik saat stres, fokus, maupun relaksasi.

 

HRV yang lebih tinggi atau lebih lebar berasosiasi dengan:

- Kemampuan kognitif yang lebih baik

- Proses pengambilan keputusan yang lebih optimal

- Respons stres yang lebih adaptif

Menariknya, asosiasi HRV dengan kemampuan kognitif saat ini dinilai lebih kuat dibandingkan RHR.

Baca Juga: Nyeri Dada Tak Selalu karena Jantung, Ternyata Bisa GERD! Begini Penjelasan dr Tirta

Investasi Jangka Panjang untuk Otak

Temuan ini memperkuat berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa olahraga aerobik bukan hanya bermanfaat untuk kesehatan jantung dan metabolisme, tetapi juga menjadi investasi penting bagi kesehatan otak di masa depan.

Rutin bergerak, menjaga kebugaran kardiovaskular, serta mempertahankan RHR rendah dan HRV yang baik dapat menjadi langkah preventif sederhana untuk menurunkan risiko penurunan fungsi otak seiring bertambahnya usia.

Dengan kata lain, setiap sesi olahraga hari ini bukan hanya membuat tubuh lebih bugar, tetapi juga membantu menjaga ketajaman berpikir di masa tua nanti. (*)

Editor : Miftahul Khair
#jantung #kesehatan otak #Heart Rate Variability #aerobik #Rutin #resting heart rate