PONTIANAK POST - Antrean haji reguler di Indonesia saat ini bisa mencapai dua hingga tiga dekade. Jika tidak direncanakan sejak dini, ada risiko besar kita baru berangkat saat usia sudah senja dengan kondisi fisik yang tak lagi prima. Padahal, ibadah haji sangat mengandalkan kekuatan fisik.
Financial Planner dari Zapfinance, Ghita Argasasmita, menekankan bahwa langkah paling krusial adalah mengamankan nomor porsi terlebih dahulu. "Fokus dulu mendapatkan nomor porsi. Sesuaikan dengan pendapatan dan tentukan sejak awal, apakah ingin haji reguler atau haji khusus (ONH Plus)," jelasnya, dikutip dari Jawapos.
Prioritaskan Setoran Awal, Jangan Tunggu Sisa
Untuk haji reguler, setoran awal minimal sebesar Rp 25 juta, sementara haji khusus berkisar USD 4.500. Ghita menyarankan keluarga muda untuk menyisihkan minimal 10 persen dari gaji bulanan sebagai prioritas utama.
Baca Juga: Kisah Aila Afifah, Calon Haji Termuda Indonesia Asal Pontianak yang Berangkat Gantikan Ibunda
"Jadikan target awal ini prioritas. Jangan tunggu ada sisa uang baru menabung," tegas Ghita. Setelah mendapatkan nomor porsi, jemaah masih harus menyiapkan dana pelunasan saat jadwal keberangkatan tiba. Perencanaan jangka panjang sangat penting agar tidak kelabakan di kemudian hari.
Mulai Sebelum Menikah, Lindungi dari Inflasi
Mengingat antrean yang mengular, Ghita menyarankan persiapan dimulai sedini mungkin—bahkan sebelum menikah. "Begitu punya penghasilan sendiri, langsung buka tabungan haji. Bahkan jika punya uang saku lebih saat kuliah pun bisa mulai disisihkan," tuturnya.
Bagi orang tua, menyiapkan dana haji untuk anak juga bisa dimulai sejak mereka kecil. Jika belum bisa menggunakan nama anak, orang tua bisa menabung dalam instrumen lain terlebih dahulu.
Baca Juga: Manasik Haji Pontianak Kota 2026 Tuntas, 478 Jemaah Siap Berangkat ke Tanah Suci
Untuk menjaga nilai uang dari gerusan inflasi, Ghita menilai ada cara yang lebih efektif daripada sekadar tabungan biasa. "Cara terbaik adalah menabung dalam bentuk emas atau Reksa Dana Pasar Uang Dolar (RDPU USD). Nilainya jauh lebih stabil untuk jangka panjang," saran perempuan berusia 39 tahun ini.
Kelola Bonus dan Gunakan Autodebet
Agar konsisten, gunakan sistem autodebet sebesar 10–30 persen dari gaji. Selain itu, manfaatkan pendapatan tahunan seperti THR atau bonus untuk mempercepat target dana haji.
Baca Juga: Pemerintah Kaji Sistem War Tiket Haji Tanpa Antrean, Soroti Keadilan bagi Jemaah Lama
Ghita juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan fisik sebagai aset ibadah.
"Alokasikan dana untuk makanan bergizi, olahraga, dan proteksi seperti BPJS Kesehatan atau asuransi swasta maksimal 7 persen dari gaji," tambahnya.
Haji adalah Masalah Prioritas dan Mindset
Banyak pasangan muda ragu karena masih memiliki cicilan rumah atau biaya sekolah anak. Namun bagi Ghita, kuncinya adalah skala prioritas. "Haji itu wajib bagi yang mampu. Jika menjadi prioritas, maka harus ada pos dana khusus."
Baca Juga: Sebanyak 12 Calon Haji Mempawah Ikuti Manasik dan Siap Berangkat Mei 2026
Risiko menunda bukan hanya antrean yang semakin lama, tapi juga biaya yang terus melonjak karena inflasi. Untuk pasangan suami istri, Ghita menyarankan strategi keuangan ini disusun bersama karena haji adalah ibadah yang dilakukan bersama mahram.
"Berhajilah segera, dahulukan yang wajib dibanding yang tidak wajib. Jika niatnya lurus, Allah akan beri kemudahan rezeki. Ini bukan sekadar soal uang, tapi soal mindset dan magnet rezeki," pungkasnya. (*)
Editor : Chairunnisya