PONTIANAK POST - Masa kini, media sosial kerap dipenuhi kisah perpisahan yang berujung konflik terbuka. Salah satu yang menjadi sorotan adalah perselisihan antara Ari Lasso dan Dearly Djoshua.
Putusnya hubungan yang seharusnya menjadi urusan pribadi justru berubah menjadi tontonan publik, lengkap dengan sindiran hingga saling membuka aib.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan: apakah semua emosi perlu dibagikan ke ruang publik?
Menurut psikolog Fatimah Muthahirah, MPsi, konflik yang muncul di media sosial umumnya berakar dari emosi kehilangan yang belum terolah dengan baik.
Baca Juga: Mengenal Risiko Doxing Saat Menagih Utang Melalui Jalur Viral Media Sosial
Putus cinta merupakan bentuk kehilangan emosional yang kerap memunculkan kemarahan, bukan sekadar kesedihan.
“Emosi seperti sedih, kecewa, atau terluka justru lebih sulit dihadapi. Media sosial kemudian menjadi pelarian karena memberi respons instan dan rasa didengar,” jelasnya, dikutip dari Jawapos.
Hanya Bersifat Sementara
Namun, ia menegaskan bahwa kelegaan dari curahan emosi di media sosial hanya bersifat sementara. Alih-alih menyembuhkan, hal tersebut justru dapat memperpanjang konflik dan memperkeruh situasi.
Fatimah menekankan, konflik dalam hubungan seharusnya tetap berada di ranah privat. Ketika dibawa ke ruang publik, keseimbangan cerita menjadi hilang dan berpotensi menyudutkan salah satu pihak.
Baca Juga: 10 Tips Menghemat Biaya Pernikahan: Acara Tetap Berkesan meski Anggaran Minim
“Media sosial bukan tempat memproses emosi. Itu ruang ekspresi yang bisa memicu reaksi berantai,” ujarnya.
Ia menyarankan agar emosi diolah secara personal, seperti melalui refleksi diri, menulis jurnal, berbicara dengan orang terpercaya, atau mencari bantuan profesional.
Memberi jeda sebelum mengunggah sesuatu juga menjadi langkah penting agar tidak menyesal di kemudian hari.
Selain itu, menjaga jarak dari mantan di media sosial, termasuk memblokir akun, dinilai sebagai langkah yang sehat selama bertujuan untuk menstabilkan emosi, bukan sebagai bentuk balas dendam.
Baca Juga: Hotman Paris Bongkar “Cinta Segi Enam” di Pontianak, Siapa Tokohnya?
Dampak Konflik Terbuka
Dampak konflik terbuka di media sosial pun tidak ringan.
Secara psikologis, seseorang bisa terjebak dalam kemarahan berkepanjangan. Sementara secara sosial, jejak digital yang tertinggal dapat memengaruhi reputasi dan hubungan di masa depan.
“Interaksi di dunia digital meninggalkan bekas. Ini bisa berdampak pada kepercayaan dan relasi ke depan,” kata Fatimah.
Pada akhirnya, kedewasaan bukan berarti menahan emosi, melainkan memahami cara dan tempat yang tepat untuk mengelolanya. Tidak semua hal perlu dibagikan, terutama ketika menyangkut luka yang masih belum pulih. (*)
Editor : Chairunnisya