PONTIANAK POST - Memiliki rumah yang bisa berkembang seiring waktu menjadi impian banyak orang, terutama pasangan muda.
Di tengah kebutuhan yang terus berubah dan keterbatasan anggaran, konsep rumah tumbuh hadir sebagai solusi yang fleksibel sekaligus realistis.
Konsep rumah tumbuh banyak diterapkan oleh pasangan muda. Pengembang properti menyediakan rumah anyar dengan lahan yang masih dibiarkan kosong sebagian.
Pemilik rumah diberi kesempatan mengembangkan rumah sesuai dengan selera.
Baca Juga: Rumah Terasa Kosong? Manfaatkan Mezanin untuk Tambah Ruang Fungsional
Minat terhadap konsep ini semakin meningkat karena dinilai mirip dengan sistem mencicil pembangunan rumah.
"Rumah tumbuh makin banyak diminati lantaran mirip dengan konsep nyicil. Renovasi rumah dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan biaya," kata praktisi arsitektur dan kontraktor Haris WP.
Dalam praktiknya, pemilik rumah dapat memprioritaskan pembangunan tertentu, seperti memperluas dapur, menambah kamar, kamar mandi, bahkan hingga menambah lantai bangunan.
Dalam proses perencanaan, kebutuhan menjadi hal utama yang harus dipertimbangkan. "Yang pertama dipikirkan adalah kebutuhan dan keinginan pemilik rumah. Ini menjadi pijakan diskusi dengan perancang bangunan, arsitek, atau kontraktor," lanjutnya.
Baca Juga: Tak Anggap Investasi dan Penting, Generasi Muda Tinggalkan Keinginan untuk Punya Rumah Sendiri
Kebutuhan ini biasanya berkembang seiring pertumbuhan keluarga, misalnya kebutuhan ruang untuk anak atau ruang kerja di rumah.
Haris mengatakan, saat ini permintaan paling banyak adalah penambahan satu kamar baru, yang kemudian disusul dengan penambahan kamar mandi.
"Baru setelah itu ditambah kamar mandi lagi," ucapnya.
Setelah kebutuhan ditentukan, tahap berikutnya adalah perhitungan biaya. Proses ini mencakup perencanaan luas bangunan, kebutuhan material, kualitas bahan, hingga durasi pengerjaan.
Baca Juga: Tips Praktis Menghilangkan Bau Tak Sedap di Cooler Box dengan Bahan Rumah Tangga
Haris menjelaskan, diskusi perencanaan bisa memakan waktu beberapa pekan sehingga pemilik rumah perlu menyiapkan waktu khusus. Meski demikian, proses pembangunan relatif cepat.
"Kalau pembangunan kamar baru, biasanya tidak sampai sebulan," ucapnya.
Dari sisi pelaksanaan, renovasi juga membawa konsekuensi yang perlu dipertimbangkan.
Selama pembangunan berlangsung, pemilik rumah dapat memilih tetap tinggal atau sementara pindah, tergantung kondisi ruang yang tersedia.
"Apakah mereka merasa cukup dengan sebagian area rumah yang tidak terkena dampak renovasi? Jadi, tidak harus mencari hunian sementara," kata pendiri Fractals itu.
Baca Juga: Tips Memilih Rak Penyimpanan Gudang Rumah agar Rapi dan Efisien
Namun, pemilik rumah tetap harus siap menghadapi gangguan seperti suara bising, aktivitas pekerja, dan debu dari proses renovasi.
Keunggulan lain dari konsep rumah tumbuh adalah adanya jeda waktu antar pembangunan. Hal ini memberi kesempatan bagi pemilik rumah untuk menabung sekaligus mengevaluasi kebutuhan.
Haris menjelaskan, umumnya renovasi dilakukan dengan jeda 2–3 tahun.
"Butuhnya ke depan seperti apa. Atau justru sekarang fokus pada perubahan fasad saja misalnya," imbuhnya.
Dengan pendekatan bertahap ini, rumah tumbuh tidak hanya membantu dari sisi finansial, tetapi juga memungkinkan hunian berkembang sesuai kebutuhan dan gaya hidup penghuninya. (*)
Editor : Chairunnisya