PONTIANAK POST - Kesepian bukan sekadar persoalan perasaan. Unggahan dokter dan edukator kesehatan dr Adam Prabata di platform X pada (1/5) mengungkap fakta mengejutkan: isolasi sosial ternyata berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit jantung hingga stroke.
Kesepian kerap dianggap sebagai masalah emosional semata. Namun, temuan ilmiah terbaru menunjukkan dampaknya jauh lebih serius, bahkan bisa memengaruhi kesehatan jantung dan otak.
“Ternyata kesepian atau isolasi sosial bisa meningkatkan risiko penyakit jantung!” tulisnya.
Baca Juga: Kesepian Bukan Sekadar Perasaan, Psikolog Jelaskan Dampaknya pada Otak dan Mental
Ia mengutip hasil penelitian meta-analisis yang menemukan adanya hubungan signifikan antara kesepian (loneliness) dan isolasi sosial dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular.
“Penelitian menunjukkan orang yang ‘terisolasi secara sosial’ memiliki risiko 29 persen lebih tinggi terkena penyakit jantung koroner dan 32% lebih tinggi terkena stroke,” tambahnya.
Bagaimana Kesepian Mempengaruhi Tubuh?
Adam juga menjelaskan mekanisme di balik fenomena tersebut. “Kondisi psikososial yang buruk sering kali memicu respons stres kronis pada tubuh, yang berujung pada peningkatan inflamasi dan tekanan darah,” jelasnya.
“Rasa kesepian cenderung menurunkan kecenderungan seseorang untuk melakukan gaya hidup sehat, seperti aktivitas fisik yang cukup, serta meningkatkan risiko perilaku koping yang tidak sehat seperti merokok atau konsumsi ultra-processed food secara berlebihan,” imbuhnya.
Baca Juga: Ciri-Ciri Orang yang Sangat Kesepian Meski Selalu Tersenyum di Depan Orang
Kesehatan Mental dan Jantung Tak Terpisahkan
Temuan ini juga diperkuat oleh pernyataan ilmiah dari American Heart Association yang menegaskan bahwa kesehatan mental dan hubungan sosial merupakan bagian penting dari kesehatan jantung dan otak.
“Mengabaikan aspek koneksi sosial sama saja dengan membiarkan diri kita meningkat risiko penyakit jantungnya,” ungkapnya.
Jangan Abaikan Koneksi Sosial
Temuan ini menjadi pengingat bahwa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh pola makan dan olahraga, tetapi juga oleh kualitas hubungan sosial.
Di tengah gaya hidup modern yang semakin individualistis, menjaga koneksi dengan orang lain bukan hanya penting untuk kebahagiaan, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menjaga kesehatan jantung dan mencegah penyakit serius. (*)
Editor : Miftahul Khair