PONTIANAK POST - Sering sulit menolak permintaan orang lain dan memilih mengalah demi menjaga hubungan? Dalam kacamata sosiologis, perilaku people pleaser tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari norma sosial yang sudah tertanam sejak kecil.
Sosiolog Universitas Airlangga (Unair), Tuti Budirahayu, menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia cenderung mengutamakan harmoni untuk mencegah konflik. Kondisi ini membuat banyak orang terbiasa menghindari pertentangan, bahkan jika harus mengorbankan diri sendiri.
“Masyarakat kita cenderung mengutamakan harmoni untuk mencegah konflik. Akhirnya orang terbiasa menghindari pertentangan meski harus mengorbankan dirinya sendiri,” jelasnya, dikutip dari Jawapos.
Fenomena ini semakin kuat karena budaya Indonesia menekankan nilai sopan santun, rasa sungkan, dan menjaga keharmonisan.
Baca Juga: Personal Branding Berlebihan Bisa Picu Perilaku People Pleasing Berbahaya
“Khususnya budaya ewuh pekewuh dan orientasi pada penerimaan sosial. Orang takut berbeda karena khawatir mendapat sanksi sosial,” kata dosen kelahiran Jakarta itu.
Ia mencontohkan nilai-nilai Jawa seperti mangan ora mangan asal kumpul atau rukun agawe sentosa. Nilai tersebut pada dasarnya baik, namun bisa berdampak sebaliknya jika diterapkan tidak pada tempatnya.
“Nilai tersebut sejatinya baik, namun jika diterapkan di situasi yang tidak tepat bisa menjebak seseorang menjadi people pleaser,” paparnya.
Tuti menambahkan, people pleasing juga tidak bisa dilepaskan dari relasi kuasa dalam masyarakat. Banyak yang menganggap perilaku ini hanya terjadi pada perempuan karena pengaruh patriarki.
Baca Juga: Terlalu Sering Mengiyakan Bisa Jadi Tanda People Pleaser yang Berbahaya
Namun, kenyataannya bisa dialami siapa saja, terutama dalam struktur sosial yang bersifat hierarkis.
“Mereka yang berada di posisi subordinasi, baik perempuan maupun laki-laki, biasanya akan tunduk pada yang lebih tinggi. Akhirnya muncul sikap patuh, tidak boleh menentang, dan cenderung menyenangkan pihak atas,” terang Tuti.
Relasi seperti atasan dan bawahan, orang tua dan anak, hingga suami dan istri, kerap memperkuat pola perilaku tersebut. Dalam situasi seperti ini, individu sering kali merasa tidak punya ruang untuk menolak, sehingga memilih menyesuaikan diri demi menjaga keseimbangan relasi. (*)
Editor : Chairunnisya