PONTIANAK POST - Menikmati konser seharusnya jadi momen menyenangkan, baik bagi penonton maupun performer.
Namun, tanpa disadari, euforia bisa berubah menjadi tindakan yang melampaui batas jika etika diabaikan.
Seperti insiden yang menimpa Uan, vokalis Juicy Luicy, saat konser di Medan pertengahan tahun lalu yang memicu perbincangan hangat.
Uan tegas menolak saat diminta membuka celana di atas panggung dengan iming-iming sejumlah uang.
Baca Juga: Serunya Rainforest World Music Festival 2023, Lebih dari Sekedar Konser Musik
Peristiwa ini menjadi tamparan bagi publik: apakah masih banyak yang belum paham batas etika ketika menikmati hiburan?
Menurut Sri Sumahardani, trainer sekaligus professional public speaker, tindakan penonton itu jelas keliru. Bukan hanya tidak sopan, tapi sudah masuk kategori pelecehan.
"Harga diri seseorang yang diminta melakukan hal yang tidak etis, jelas terlanggar. Itu bukan sekadar melanggar etika, tapi juga moral, bahkan bisa dikategorikan pelecehan,” ujarnya, dikutip dari Jawapos.
Sri mengatakan esensi saweran sebenarnya sederhana: wujud apresiasi penonton kepada performer.
Baca Juga: Konser Musik Terbesar di Malaysia 'Rainforest Festival' 2023 Dilaunching
"Orang yang disawer itu dianggap sudah memberikan kebahagiaan, lalu diberi bonus sebagai bentuk terima kasih," katanya.
"Namun, beri saweran tidak bisa dibuat sesuka hati. Saweran disesuaikan dengan siapa yang menerima dan bagaimana cara memberikannya," jelas Founder Sri Sumahardani Academy itu.
Cara Menghargai Performer
Bukan berarti penonton tidak boleh menunjukkan apresiasi. Hanya saja, ada cara yang lebih pantas.
’’Penyanyi itu paling senang diberi tepuk tangan yang meriah, atau diajak bernyanyi bersama. Fokus menonton, tidak mengobrol saat performer tampil, itu juga bentuk penghargaan,’’ kata Sri.
Baca Juga: Menyambut Bless This Fest! Kebangkitan Konser Musik di Pontianak
Selain itu, membeli merchandise resmi juga bisa menjadi bentuk apresiasi yang lebih pantas.
"Itu membuat performer bangga, dan tentu jauh lebih elegan dibanding saweran yang melecehkan," tambah pakar etiket 55 tahun itu.
Penyanyi Bisa Trauma
Bagi performer, terutama yang masih muda, pengalaman buruk seperti ini bisa meninggalkan trauma.
"Penyanyi bisa jadi merasa takut setiap kali penonton mendekat. Itu bisa membatasi totalitas mereka di panggung karena selalu waswas akan dilecehkan," ujar Sri.
Baca Juga: Merakyatkan Orkes dari Panggung ke Panggung: Bikin Orang Bahagia dengan Musik Genre Orkes
Lalu bagaimana sebaiknya performer menyikapi? Dia menyarankan agar performer tidak membalas dengan emosi.
"Di atas panggung biasanya ada manajer atau bodyguard. Mereka yang seharusnya bergerak ketika ada penonton melewati batas. Performer jangan sampai membalas dengan hujatan atau tindakan kasar. Lebih baik menghentikan sejenak penampilan agar ketertiban kembali pulih," katanya.
Pada akhirnya, kunci tetap ada pada penonton.
"Jangan sampai emosi hingga tidak bisa mengendalikan diri. Ingat, kita menonton tidak sendirian. Ada ribuan orang lain yang ingin menikmati konser dengan nyaman. Jadi kontrol emosi dan jaga etika," lanjutnya. (*)
Editor : Chairunnisya