PONTIANAK POST - Menikmati konser bukan hanya soal hiburan, tetapi juga tentang menjaga kenyamanan bersama.
Di balik keseruan panggung, ada aturan tak tertulis yang seharusnya dipahami semua pihak.
Etika penonton bukan satu-satunya yang diuji. Penyelenggara konser juga punya tanggung jawab besar.
Baca Juga: Insiden Uan Juicy Luicy di Medan Jadi Pengingat Pentingnya Etika Penonton Konser
"Kalau penonton dari kalangan umum, harus ada batas yang jelas antara performer dan penonton. Dari jarak panggung, kapasitas, hingga petugas keamanan, semua harus disiapkan agar interaksi tetap aman,” papar Sri Sumahardani, trainer sekaligus professional public speaker, dikutip dari Jawapos.
Tentang pergeseran saweran di hiburan modern, Sri mengakui konteksnya berbeda dengan seni rakyat.
"Kalau konser internasional atau konser besar, hampir tidak pernah ada saweran. Biasanya saweran lebih mungkin terjadi di panggung kecil atau kafe, karena jarak dekat antara penonton dan performer. Tapi apa pun bentuknya, saweran harus tetap dilakukan dengan sopan, tanpa sentuhan fisik," jelasnya.
Baca Juga: Merakyatkan Orkes dari Panggung ke Panggung: Bikin Orang Bahagia dengan Musik Genre Orkes
Bahkan jika tradisi saweran ingin tetap dilestarikan, Sri menilai perlu ada aturan etika baru.
"Lebih baik ada tempat khusus untuk memberikan apresiasi finansial, tidak langsung ke tubuh performer. Dengan begitu, tradisi tetap ada tapi lebih tertib dan tidak melecehkan," lanjutnya. (*)
Editor : Chairunnisya