PONTIANAK POST – Bayangkan jika pada suatu hari di sebuah kafe Anda melihat satu orang memesan secangkir kopi hitam dan temannya memesan segelas susu.
Tanpa sadar, kadang muncul tatapan, penilaian, atau “judgement” tertentu di benak dan membandingkan keduanya.
Banyak orang menganggap peminum kopi hitam memiliki kepribadian lebih serius, tangguh, dan fokus daripada pencinta susu.
Penilaian ini muncul dari kebiasaan sosial yang sudah lama terbentuk.
Anggapan tersebut ternyata hanyalah mitos budaya yang tidak sejalan dengan hasil penelitian ilmiah terbaru.
Expert Editor melaporkan, riset menunjukkan bahwa pilihan kopi lebih berkaitan dengan asosiasi yang dipelajari otak.
Selain itu, faktor genetik dan kecepatan fungsi hati dalam memproses kafein juga ikut memengaruhi selera seseorang.
Baca Juga: Ciri Orang IQ Tinggi yang Sering Dianggap Aneh, Apakah Anda Salah Satunya
Fakta di Balik Rasa Pahit
Penelitian tahun 2018 terhadap 400.000 partisipan UK Biobank mengungkap kaitan sensitivitas rasa pahit dengan konsumsi kopi.
Awalnya, peneliti menduga orang yang sensitif terhadap rasa pahit akan menghindari kopi yang pahit.
Data justru menunjukkan hal sebaliknya: pahitnya kafein yang dirasakan justru memicu konsumsi kopi yang lebih tinggi.
Peneliti senior, Marilyn Cornelis, PhD, menyebut fenomena ini sebagai penguatan positif yang dipelajari oleh otak atau “learned positive reinforcement”.
Artinya, otak mengaitkan rasa pahit dengan efek segar dari kafein.
Dengan kata lain, rasa pahit menjadi sinyal positif, tidak lagi diterjemahkan sebagai peringatan oleh otak.
Baca Juga: Ciri Cinta Sejati: 12 Tanda yang Harus Ada dalam Hubungan Anda
Otak mereka telah menghubungkan rasa pahit tersebut dengan sensasi yang akan segera dirasakan tubuh.
Ini lebih terkait kebiasaan, bukan disiplin atau ketangguhan karakter seseorang.
Mitos Ketangguhan Karakter
Studi tahun 2015 dalam jurnal Appetite mencoba mengaitkan preferensi rasa pahit dengan kepribadian manusia.
Hasilnya tidak menemukan hubungan antara kopi hitam dengan ketangguhan mental atau tingkat fokus.
Penelitian tersebut justru menemukan korelasi kecil antara penyuka rasa pahit dengan sifat-sifat kepribadian yang kurang menyenangkan.
Baca Juga: Bahaya Protein Berlebih bagi Tubuh: Waspadai 5 Tanda Peringatan Ini
Namun, hal ini tidak lantas membuat peminum kopi hitam menjadi sosok yang jahat.
Kesimpulannya, secangkir kopi hitam mencerminkan biografi tubuh, mulai dari metabolisme cepat hingga paparan kafein berulang.
Pilihan tersebut tidak menunjukkan ketajaman pikiran. Preferensi kopi lebih mencerminkan respons tubuh terhadap kafein.
Beberapa orang memproses kafein lebih cepat. Akibatnya, mereka cenderung mengonsumsi lebih banyak kopi.
Kebiasaan ini terbentuk dari pengalaman berulang. Otak belajar mengaitkan rasa pahit dengan efek yang menyenangkan.*
Editor : Uray Ronald