PONTIANAK POST -
Banyak orang mencoba memperbaiki kesehatan mental mereka dengan beristirahat sejenak dari media sosial seperti Facebook atau Instagram.
Mereka berharap jeda ini bisa memberikan ketenangan batin yang selama ini hilang.
Namun, sebuah tinjauan komprehensif terbaru mengungkapkan fakta mengejutkan bagi kita semua.
Menurut laporan Psypost, meninggalkan platform tersebut sepenuhnya ternyata tidak membuat orang merasa lebih baik atau lebih buruk.
Riset Terbaru Mengenai Efek Digital Detox
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports menyoroti fenomena dunia digital saat ini.
Platform digital kini telah membentuk cara individu berkomunikasi dan menjalin hubungan sosial.
Banyak pengguna merasakan campuran manfaat dan kerugian dari konektivitas yang konstan ini.
Baca Juga: Iran Sebut Donald Trump Terlalu Banyak Main Medsos dan Tidak Konsisten
Pengguna sering melaporkan perasaan terganggu, stres, hingga merasa iri dengan kehidupan orang lain.
Psikolog terkadang menyebut situasi ini sebagai paradoks konektivitas seluler yang menjebak.
Perangkat digital menawarkan dukungan sosial, namun sekaligus menjebak pengguna dalam siklus kewajiban membalas pesan.
Mengapa Strategi Digital Detox Populer?
Strategi digital detox muncul untuk membantu orang mengelola perasaan negatif akibat gawai (gadget).
Metode ini melibatkan penghentian sukarela seluruh penggunaan media sosial untuk periode waktu tertentu.
Para pendukungnya sering menjanjikan bahwa langkah ini akan meningkatkan produktivitas dan kebahagiaan.
Logikanya sering disamakan dengan upaya menjauhkan diri dari obat terlarang atau perjudian.
Para peneliti menyebut ini sebagai penghapusan stimulus berbahaya agar pikiran bisa segera pulih.
Teori ini menyarankan pengguna agar tidak melihat citra kehidupan orang lain yang tidak realistis.
Teori lainnya adalah hipotesis pengalihan waktu. Ide ini mengusulkan bahwa beristirahat dari layar akan membebaskan waktu berjam-jam untuk beraktivitas sehat.
Baca Juga: Lantik 147 Pejabat Fungsional, Wabup Herpena Tekankan Etika ASN dan Bijak Gunakan Media Sosial
Analisis Data Terbesar Terkait Kesehatan Mental
Laura Lemahieu, peneliti komunikasi dari University of Antwerp, memimpin tim untuk menyelidiki fenomena ini.
Mereka ingin menarik benang merah dari berbagai hasil eksperimen sebelumnya yang selama ini tidak konsisten.
Tim peneliti melakukan tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap ribuan data partisipan.
Metode ini menggabungkan hasil matematis dari banyak studi masa lalu menjadi satu kumpulan data besar.
Peneliti mencari studi yang memaksa orang dewasa berhenti total dari media sosial.
Total ada 10 studi yang melibatkan 4.674 partisipan dalam analisis besar ini.
Peneliti fokus pada tiga pengukuran emosional: efek positif, efek negatif, dan kepuasan hidup.
Hasil Mengejutkan: Tidak Ada Perubahan Signifikan
Saat data digabungkan, hasilnya ternyata tidak signifikan secara statistik untuk ketiga kategori emosi.
Memberhentikan penggunaan media sosial tidak lantas meningkatkan perasaan sukacita atau antusiasme pengguna.
Metode ini juga gagal mengurangi emosi negatif seperti kesedihan atau kecemasan secara konsisten.
Durasi detoks, baik sehari maupun sebulan, ternyata sama sekali tidak berpengaruh pada hasil.
Para peneliti menduga manfaat dan kerugian dari langkah ini saling membatalkan satu sama lain.
Seseorang mungkin merasa rileks tanpa notifikasi, namun merasa bosan karena kehilangan interaksi sosial.
Hasil ini menunjukkan bahwa intervensi melalui metode detoks ini tergolong sangat lemah.
Solusi Selain Berhenti Total
Studi ini menyarankan bahwa memaksa berhenti mendadak bukanlah cara terbaik menangani stres digital.
Peneliti menyarankan agar masyarakat mulai mencari metode diskoneksi alternatif yang lebih masuk akal.
Menetapkan batas waktu harian atau mematikan notifikasi tertentu bisa menjadi pendekatan yang lebih berkelanjutan.
Menyesuaikan cara penggunaan alat digital jauh lebih penting daripada meninggalkannya secara total.*
Editor : Uray Ronald