PONTIANAK POST - Berbagi pengalaman musikal dengan teman mungkin tidak mengubah kepuasan total Anda terhadap sebuah lagu secara drastis.
Namun, aktivitas ini ternyata mampu menyelaraskan aktivitas otak dan respons emosional Anda dengan orang tersebut.
Sebuah studi terbaru dalam jurnal Cortex menemukan bahwa mendengarkan musik bersama meningkatkan kesamaan rasa senang dari momen ke momen.
Temuan ini menjelaskan mengapa musik menjadi alat yang sangat kuat untuk ikatan sosial dan pengalaman emosional kolektif.
Manusia secara alami menggunakan musik sebagai alat sosial, mulai dari menyanyikan lagu pengantar tidur hingga menonton konser stadion.
Kemampuan musik untuk menyelaraskan emosi dan respons fisik memenuhi kebutuhan dasar manusia akan koneksi sosial.
Ilmuwan menyadari bahwa musik dan interaksi sosial sama-sama mengaktifkan saraf tertentu di otak.
Baca Juga: Kenapa Kita Suka Menghindari Kabar Buruk? Ini Penjelasan Ostrich Effect dalam Psikologi
Aktivasi bersama ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial tempat kita mendengarkan musik dapat mengubah cara otak memproses kesenangan.
"Kami tertarik untuk memahami lebih baik bagaimana berbagi musik memengaruhi emosi dan aktivitas otak kita," kata Federico Curzel, peneliti dari University of Pavia dilansir Psypost.
Menurutnya, mekanisme saraf di balik pengalaman bersama ini masih belum banyak dipahami sebelumnya.
Eksperimen Mendengarkan Musik Bersama
Dalam penelitian ini, para ahli merekrut 34 pasang teman dekat untuk mendengarkan potongan lagu dalam dua kondisi: sendirian dan berpasangan.
Playlist yang digunakan mencakup lagu favorit masing-masing peserta hingga lagu pop umum pilihan peneliti.
Selama mendengarkan, peserta menggunakan slider digital untuk menilai tingkat kesenangan mereka secara kontinu.
Peneliti juga memantau aktivitas otak menggunakan teknologi functional near-infrared spectroscopy (fNIRS) yang non-invasif.
Baca Juga: Ciri-Ciri Anda Terlalu Baik dan Terlalu Peduli, Ini 7 Tanda Psikologisnya
Hasilnya, mendengarkan bersama meningkatkan apa yang disebut peneliti sebagai "kesamaan kesenangan" dalam pasangan tersebut.
Artinya, saat lagu diputar, kedua teman tersebut mengalami kenaikan dan penurunan rasa senang pada momen yang sama persis.
Berada di "Gelombang" yang Sama
Data aktivitas otak mengungkapkan bahwa mendengarkan musik yang menyenangkan memicu peningkatan kadar oksigen di korteks prefrontal.
Aktivasi ini terbukti jauh lebih kuat ketika partisipan mendengarkan musik bersama teman dibandingkan saat sendirian.
Sinkronisasi saraf antar dua otak juga jauh lebih tinggi dalam kondisi mendengarkan bersama.
Fenomena ini terjadi ketika dua otak yang berbeda mulai menunjukkan pola aktivitas yang serupa pada waktu yang bersamaan.
"Kami membuktikan secara ilmiah bahwa musik dapat membawa orang ke 'gelombang yang sama', baik secara emosional maupun saraf," jelas Curzel.
Semakin cocok respons kesenangan mereka dari momen ke momen, semakin sinkron pula aktivitas otak mereka.
Baca Juga: Benarkah Minum Kopi Hitam Tanda Berkarakter Serius dan Tangguh, Ini Penjelasan Sainsnya
Pentingnya Konteks dan Kedekatan
Meski temuan ini sangat detail, Curzel mengingatkan bahwa efeknya bisa berbeda pada setiap individu.
Variasi ini sangat bergantung pada konteks, hubungan antar individu, serta ciri kepribadian masing-masing peserta.
Hasil riset ini mungkin akan berbeda jika dilakukan pada orang asing, karena studi ini secara khusus menggunakan pasangan teman dekat.
Ke depannya, tim peneliti berencana memperluas riset ini ke konteks klinis seperti terapi musik.(*)
Editor : Uray Ronald