PONTIANAK POST - Di tengah banjir konten berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), media sosial kini dipenuhi orang-orang yang berburu hasil instan.
Tak sedikit yang langsung meminta “prompt” tanpa basa-basi demi membuat gambar, video, atau tulisan AI. Ketika tak diberi, responsnya pun beragam, mulai kecewa hingga marah.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan baru: bagaimana sebenarnya etika berinteraksi di ruang digital?
Maraknya produk AI imitasi di media sosial membuat banyak orang tertarik mencobanya. Namun, alih-alih memicu kreativitas, sebagian netizen justru memilih jalan praktis dengan meminta prompt jadi kepada orang lain.
Guru besar media dan komunikasi FISIP Unair, Prof Dra Rachmah Ida Mcomms PhD, menyatakan hingga kini memang belum ada standar baku terkait etika meminta bantuan di ruang digital.
Baca Juga: Artificial Intelligence Melengkapi Kecerdasan Manusia
’’Yang ada hanyalah kesepakatan komunitas digital, semacam convention saja. Jadi tidak mengikat,’’ katanya, dikutip dari Jawapos.
Kondisi tersebut membuat sebagian orang merasa bebas menuntut apa pun di media sosial. Bahkan, ada yang marah ketika permintaannya tidak dipenuhi.
’’Tidak ada hak untuk marah. Yang ada adalah sifat manusia yang suka complaining. Manusia memang tidak pernah puas. Mereka menuntut tanpa menempatkan diri di posisi penyedia,’’ ujarnya.
Baca Juga: Tren Viral Gemini AI Sulap Foto Lama Jadi Kekinian, Ini Deretan Prompt Terbarunya!
Rachmah menilai, fenomena ini tidak lepas dari perubahan pola hidup generasi muda yang tumbuh bersama teknologi serba cepat. Generasi Z dan Alpha terbiasa hidup dengan kemudahan teknologi yang serba instan.
’’Anak muda sekarang lahir dan besar dengan transformasi teknologi yang memudahkan. Realitas mereka adalah kehidupan yang serba instan. Itu yang membuat mereka jadi menuntut agar manusia bisa setara dengan mesin yang cepat dan instan,’’ jelasnya.
Menurut dia, media sosial bekerja seperti mesin yang berjalan tanpa rasa. Akibatnya, interaksi yang terbangun pun cenderung mekanis.
’’Inilah era post-human, di mana mesin seolah menggantikan manusia. Bahayanya, jika orang tua tidak memberi banyak sentuhan dan interaksi manusiawi, anak-anak bisa krisis etika humanisme,’’ ungkapnya.
Baca Juga: 780 Ribu Akun TikTok Ditutup, Pemerintah Perketat Ruang Digital
Hubungan sosial, lanjut Rachmah, perlahan kehilangan empati karena interaksi manusia mulai bergeser menjadi sekadar respons cepat.
’’Ini yang membuat hubungan sosial kehilangan nuansa empati. Padahal, interaksi manusia sejatinya memerlukan rasa, bukan sekadar respon instan,’’ tambahnya. (*)
Editor : Chairunnisya