PONTIANAK POST - Kebiasaan menabung ternyata tidak hanya berdampak pada kondisi finansial anak. Di balik proses menyisihkan uang, ada banyak pelajaran penting yang ikut terbentuk sejak dini.
Perencana keuangan sekaligus Duta Literasi Keuangan Syariah OJK, Rista Zwestika, mengatakan tabungan dapat membantu anak melatih kemampuan delayed gratification atau menunda kepuasan.
Menurutnya, anak akan merasakan kepuasan tersendiri ketika melihat jumlah tabungan bertambah dari waktu ke waktu.
’’Itu melatih delayed gratification, rasa puas karena hasil kerja keras tidak instan. Ini keterampilan penting yang bisa dilatih sejak dini,’’ jelas Rista, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Tahapan Mengajari Anak Menabung Perlu Disesuaikan dengan Usia Dan Karakter
Dari sisi psikologi keuangan, pengalaman tersebut memberi dorongan positif bagi anak. Mereka belajar bahwa sesuatu yang diinginkan membutuhkan proses, kesabaran, dan konsistensi.
Meski begitu, peran orang tua tetap penting sebagai pendamping. Anak perlu dibimbing dalam mengatur pembagian uang agar tidak hanya fokus menabung, tetapi juga belajar menikmati dan berbagi.
Rista memberikan rumus sederhana untuk membiasakan pengelolaan uang sejak dini, yakni 50 persen ditabung, 40 persen boleh digunakan, dan 10 persen disumbangkan.
Baca Juga: Cara Mengenalkan Kebiasaan Menabung pada Anak Sejak Usia Empat Tahun
’’Prinsipnya anak belajar balance, menyimpan, menikmati, sekaligus berbagi,’’ ujar perencana keuangan Finante itu.
Menurutnya, keterlibatan anak dalam menentukan penggunaan uang akan membuat mereka merasa lebih memiliki tanggung jawab terhadap tabungan yang dimiliki.
’’Dengan dilibatkan, anak merasa lebih bertanggung jawab atas tabungannya,’’ imbuhnya.
Kebiasaan kecil seperti menabung pun akhirnya bukan hanya soal uang, melainkan juga proses membangun disiplin, tanggung jawab, dan pola pikir finansial yang sehat sejak usia dini. (*)
Editor : Chairunnisya