PONTIANAK POST - Ada satu kebiasaan modern yang kini terasa sangat otomatis: setiap kali menunggu, tangan langsung mencari ponsel.
Saat antre kopi, menunggu lift, atau jeda dua menit sebelum rapat dimulai, kita refleks membuka layar, scrolling media sosial, atau memasang sesuatu di telinga agar tidak merasa “kosong”.
Padahal, menurut Julie Fratantoni, ahli neurosains kognitif, momen-momen kecil seperti itu justru merupakan salah satu kesempatan langka bagi otak untuk benar-benar beristirahat.
Dan tanpa sadar, kita terus menghapus jeda-jeda kecil itu dari hidup kita. Semuanya disibukkan dengan ponsel.
Baca Juga: Efek Berhenti Main Media Sosial bagi Kesehatan Mental: Hasil Riset Terbaru Mengejutkan
Otak Tidak Pernah Benar-Benar Diam
Dilansir Expert Editor, Dr. Fratantoni menjelaskan bahwa otak sebenarnya memiliki sistem penting bernama Default Mode Network (DMN).
DMN yaitu jaringan yang aktif ketika seseorang tidak sedang fokus pada tugas tertentu. Dulu sistem ini dianggap sekadar “mode diam” otak.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan DMN berperan besar dalam: konsolidasi memori, refleksi diri, pemrosesan emosi, hingga munculnya kreativitas.
Ketika seseorang melamun sambil menatap jendela atau hanya berdiri tanpa melakukan apa pun, otak sebenarnya sedang melakukan “mental housekeeping” — proses merapikan dan memproses pengalaman hidup.
Masalahnya, sistem ini hanya aktif saat kita benar-benar memberi ruang kosong bagi pikiran.
Baca Juga: Anak Bukan Mesin Prestasi: Dilema Parenting Modern dan Krisis Kesehatan Mental
Scrolling media sosial tidak termasuk istirahat. Itu tetap merupakan input kognitif dan stimulasi sensorik yang terus menguras perhatian, meski terasa ringan.Mengapa Diam Terasa Tidak Nyaman?
Menariknya, banyak orang justru merasa gelisah ketika tidak melakukan apa pun.
Beberapa menit tanpa distraksi sering memunculkan rasa tidak nyaman, seolah otak menolak keheningan.
Psikolog menyebut fenomena ini sebagai “aversion to idleness” atau keengganan untuk diam.
Dalam beberapa penelitian, sebagian peserta bahkan memilih menerima sengatan listrik ringan daripada duduk sendirian bersama pikiran mereka selama beberapa menit.
Fenomena ini menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: banyak orang menggunakan distraksi digital untuk menghindari pikiran dan emosi yang belum sempat diproses.
Kita scrolling bukan hanya karena bosan, tetapi juga karena tidak ingin berhadapan dengan isi kepala sendiri.
Baca Juga: Ciri Orang IQ Tinggi yang Sering Dianggap Aneh, Apakah Anda Salah Satunya
Kelelahan Mental yang Tidak Disadari
Ada jenis kelelahan yang bukan berasal dari pekerjaan berat, melainkan karena otak tidak pernah benar-benar berhenti siaga.
Kita terus menerima informasi: notifikasi, video pendek, podcast, musik, hingga endless scrolling.
Akibatnya, otak selalu berada dalam kondisi “aktif ringan” sepanjang hari. Inilah mengapa banyak orang merasa lelah meski tidak melakukan aktivitas besar.
Tidur saja sering tidak cukup memperbaiki kondisi ini karena otak kehilangan waktu pemulihan alami di siang hari.
Baca Juga: Benzoin dalam Dupa Punya Efek Relaksasi hingga Bantu Konsentrasi
Ketika seseorang berhenti membuka ponsel saat menunggu, hal-hal kecil mulai terasa kembali.
Cahaya matahari dari jendela, aroma ruangan, suara sekitar, atau bahkan kesadaran bahwa tubuh sebenarnya lelah.
Momen sederhana itu mungkin terlihat sepele, tetapi memberi kesempatan bagi pikiran untuk bernapas.
Dr. Fratantoni menyarankan memulai dari langkah kecil:
saat menunggu, jangan lakukan apa pun.
Tidak perlu meditasi khusus. Tidak perlu ritual rumit. Cukup biarkan pikiran berjalan tanpa layar dan tanpa distraksi.Yang Sebenarnya Kita Takuti
Pada akhirnya, persoalannya mungkin bukan sekadar kebiasaan bermain ponsel.
Pertanyaan yang lebih besar adalah: mengapa kita begitu takut pada keheningan?
Karena ketika semua distraksi berhenti, kita mulai bertemu dengan diri sendiri — dengan pikiran, rasa lelah, kegelisahan, atau hal-hal yang selama ini tertutup oleh kebisingan digital.
Dan mungkin, justru di situlah istirahat otak yang sesungguhnya dimulai.*
Editor : Uray RonaldSumber : Expert Editor