Namun sejumlah penelitian psikologi justru menunjukkan kemungkinan yang berbeda: mereka mungkin lebih mampu menghadapi ketidakpastian tanpa membutuhkan validasi dari banyak orang.
Menurut laporan Silicon Canal, data terbaru dari Pew Research Center pada 2024 menunjukkan jumlah orang dewasa di Amerika Serikat yang aktif membuat unggahan di media sosial terus menurun di berbagai platform.
Sebaliknya, jumlah pengguna yang hanya melihat konten tanpa banyak berinteraksi justru meningkat.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah orang yang jarang posting memang kurang terhubung, atau justru memiliki cara berbeda dalam mengelola emosi dan hubungan sosial?
Baca Juga: Efek Berhenti Main Media Sosial bagi Kesehatan Mental: Hasil Riset Terbaru Mengejutkan
Mengapa Sebagian Orang Tidak Merasa Perlu Terus Membagikan Hidupnya?
Media sosial menawarkan sesuatu yang sangat menggoda: kepastian instan.
Ketika seseorang mengunggah foto, opini, atau pengalaman pribadi, respons dari orang lain segera hadir dalam bentuk suka, komentar, jumlah tayangan, atau pesan pribadi.
Ketidakpastian tentang bagaimana orang lain melihat diri kita berubah menjadi angka yang dapat diukur.
Bagi sebagian orang, proses ini terasa menyenangkan. Namun bagi sebagian lainnya, respons tersebut berfungsi sebagai alat untuk menenangkan kecemasan.
Orang yang jarang mempublikasikan kehidupan pribadinya mungkin bukan tidak peduli terhadap hubungan sosial. Mereka bisa jadi tidak terlalu membutuhkan mekanisme tersebut untuk merasa aman atau diterima.
Kemampuan Menoleransi Ketidakpastian Berperan Besar
Dalam psikologi, terdapat konsep yang dikenal sebagai intolerance of uncertainty atau intoleransi terhadap ketidakpastian.
Penelitian yang dikembangkan oleh R. Nicholas Carleton dan koleganya menunjukkan bahwa sebagian orang mengalami ketidaknyamanan yang lebih besar ketika menghadapi situasi yang tidak pasti.
Mereka cenderung ingin segera mendapatkan jawaban, kepastian, atau tanda bahwa semuanya baik-baik saja.
Baca Juga: Saat Perpisahan Hubungan Asmara Berubah Jadi Drama Terbuka di Media Sosial
Sebaliknya, individu dengan tingkat intoleransi ketidakpastian yang lebih rendah mampu membiarkan suatu situasi tetap ambigu tanpa merasa harus segera menyelesaikannya.
Di media sosial, perbedaan ini terlihat jelas.
Seseorang mengunggah pendapat, lalu terus memeriksa respons yang masuk. Mereka membagikan pengalaman pribadi, lalu berkali-kali membuka notifikasi untuk melihat reaksi orang lain.
Bagi mereka yang lebih nyaman dengan ketidakpastian, siklus tersebut tidak terlalu menarik. Mereka tidak merasa perlu mengubah setiap keraguan menjadi data publik.
Ketika Validasi Seakan Tidak Pernah Cukup
Konsep lain yang relevan adalah excessive reassurance seeking atau kecenderungan mencari penegasan atau validasi secara berlebihan.
Peneliti psikologi klinis Thomas Joiner menjelaskan bahwa perilaku ini ditandai oleh kebutuhan berulang untuk memastikan bahwa seseorang dicintai, diterima, atau dihargai oleh orang lain.
Masalahnya bukan pada meminta dukungan sesekali. Semua orang membutuhkan dukungan emosional.
Masalah muncul ketika penegasan tersebut tidak pernah benar-benar bertahan lama.
Misalnya, seorang teman berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Pasangan mengatakan tidak ada masalah. Rekan kerja menyebut pekerjaan kita sudah bagus.
Namun beberapa saat kemudian, keraguan muncul kembali dan kebutuhan untuk bertanya lagi muncul.
Meta-analisis yang mencakup 38 penelitian dengan hampir 7.000 partisipan menemukan keterkaitan antara perilaku mencari penegasan berlebihan dan gejala depresi.
Baca Juga: Hati-Hati Flexing Ibadah di Media Sosial, Ini Bahaya Sum’ah yang Bisa Menghapus Pahala
Temuan ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan validasi yang terus-menerus tidak selalu membuat seseorang merasa lebih tenang dalam jangka panjang.
Benarkah Orang yang Hanya Scroll Tanda Tidak Bahagia?
Selama bertahun-tahun muncul anggapan bahwa pengguna media sosial yang hanya melihat konten tanpa berinteraksi rentan mengalami masalah kesejahteraan psikologis.
Namun bukti ilmiah terbaru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.
Meta-analisis tahun 2024 yang diterbitkan dalam Journal of Computer-Mediated Communication dan mencakup 141 studi dengan sekitar 145.000 partisipan menemukan bahwa hubungan antara penggunaan media sosial aktif maupun pasif dengan kesejahteraan psikologis cenderung sangat kecil atau tidak konsisten.
Faktor yang lebih penting justru adalah konteks penggunaan media sosial, bukan sekadar seberapa sering seseorang mengunggah konten.
Penelitian lain yang mengikuti hampir 7.000 orang dewasa di Belanda selama sembilan tahun bahkan menemukan bahwa baik penggunaan aktif maupun pasif sama-sama berkaitan dengan peningkatan rasa kesepian dari waktu ke waktu.
Artinya, sering mengunggah konten bukanlah jaminan seseorang memiliki kesehatan sosial yang lebih baik.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Budaya Media Sosial
Budaya digital modern sering menganggap visibilitas sebagai bukti keterhubungan.
Semakin sering seseorang membagikan kehidupannya, semakin dianggap terbuka, ramah, atau sehat secara sosial. Sebaliknya, mereka yang memilih diam sering dipersepsikan kurang terlibat.
Padahal penelitian menunjukkan bahwa perilaku tersebut tidak sesederhana itu.
Baca Juga: Manfaat Detoks Media Sosial dan Cara Menerapkannya Tanpa Drama, Hidup Lebih Damai dan Produktif
Orang yang jarang posting, tidak terus-menerus meminta pendapat orang lain, dan tidak selalu memeriksa notifikasi mungkin sedang menunjukkan kemampuan regulasi diri yang lebih kuat daripada yang disadari banyak orang.
Pertanyaan yang lebih penting bukanlah seberapa sering seseorang mengunggah sesuatu ke media sosial.
Pertanyaannya adalah: apakah aktivitas tersebut dilakukan karena pilihan yang sadar, atau karena seseorang merasa tidak nyaman jika tidak melakukannya?
Jika seseorang bisa merasa tenang tanpa perlu terus mencari validasi digital, mungkin mereka tidak sedang kehilangan koneksi sosial. Mereka hanya tidak membutuhkan media sosial sebagai alat utama untuk mengatur perasaan mereka.*
Editor : Uray Ronald