PONTIANAK POST - Di balik prestasi seekor burung pleci di arena lomba, terdapat proses perawatan yang tidak sederhana. Stamina, mental, hingga kondisi fisik harus dijaga secara konsisten agar mampu tampil maksimal saat bertanding.
Dilansir dari Jawapos, hal itu diungkapkan Zulkifli, penghobi pleci asal Rungkut sekaligus anggota Persatuan Pleci Mania Indonesia (PCMI) chapter KPS CUK yang telah menekuni dunia pleci sejak 2010.
Extra Fooding Jadi Kebutuhan Penting
Baca Juga: Kemampuan Meniru Jadi Senjata Utama Pleci di Arena Lomba
Menurut Zulkifli, pleci termasuk burung yang perawatannya tergolong susah-susah gampang.
Untuk menjaga kondisi tetap prima, ia rutin memberikan extra fooding berupa ulat hongkong dan kroto. Selain itu, pemberian vitamin juga dilakukan secara khusus sesuai karakter masing-masing burung.
Persiapan Lomba Dilakukan Detail
Baca Juga: Pleci Tetap Eksis di Tengah Dominasi Murai Batu dan Cucak Ijo
Menjelang perlombaan, perawatan dilakukan lebih intensif. Mulai dari pemberian vitamin tambahan, penjemuran, hingga penggunaan umbaran dilakukan secara terjadwal.
Mental burung juga menjadi faktor penting yang harus diperhatikan. Pleci yang telah matang umumnya memiliki keberanian dan daya tahan berkicau yang lebih baik.
Mengenal Istilah Konslet pada Pleci
Baca Juga: Tips Aman Meninggalkan Burung Parrot Saat Pemilik Bepergian
Zulkifli menjelaskan adanya istilah "konslet" dalam dunia penghobi pleci. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan burung yang sudah tidak takut pada manusia dan mampu berkicau dalam durasi panjang.
Sebelum naik gantangan, ia juga kerap memanfaatkan audio suara burung lain untuk membantu mengingat kembali materi lagu yang dimiliki gacoannya.
’’Tapi ada juga tanpa audio sudah bisa. Sarana audio hanya refresh ingatannya,’’ jelasnya.
Baca Juga: Burung Parrot Makin Populer, Ini Panduan Perawatan yang Tak Boleh Diabaikan
Hobi yang Bertahan Sejak Bangku Sekolah
Kecintaan Zulkifli terhadap pleci bermula sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia kerap diajak mengikuti lomba burung kecil hingga akhirnya serius menekuni hobi tersebut pada 2010.
Pengalaman meraih juara untuk pertama kali membuatnya semakin jatuh hati pada pleci dan terus aktif hingga sekarang. (*)
Editor : Chairunnisya