Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Dampak Psikologis Pura-Pura Bahagia: Senyum Palsu Bisa Merusak Kesehatan Mental dan Fisik

Uray Ronald • Selasa, 16 Juni 2026 | 09:30 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

 

PONTIANAK POST - Pretending to be fine atau pura-pura bahagia saat kondisi mental memburuk memicu beban kognitif berat, peningkatan stres kardiovaskular, dan keretakan hubungan sosial.

Banyak orang yang sedang berjuang melawan tekanan mental justru terlihat sangat normal di permukaan. Mereka datang tepat waktu, membalas surel dengan cepat, dan melempar senyum saat disapa.

Ketika ditanya tentang kabar, mereka otomatis melontarkan satu kata pelindung: "Baik." Namun, di balik topeng keteguhan emosional tersebut, tersimpan harga mahal yang harus dibayar oleh kesehatan mental dan fisik mereka.

Mekanisme Expressive Suppression di Balik Topeng "Saya Baik-Baik Saja"

Ideapod melaporkan, di ranah psikologi, tindakan pura-pura sedang baik-baik saja ini dikenal sebagai expressive suppression (penekanan ekspresif). Ini adalah strategi menahan ekspresi secara sengaja, sementara badai emosi di dalam dada tetap berkecamuk tanpa jalan keluar.

Penelitian dari psikolog James Gross dan Oliver John menunjukkan bahwa individu yang terbiasa menekan emosinya justru mengalami penurunan emosi positif dan lonjakan emosi negatif.

Energi besar yang dihabiskan untuk menahan luapan perasaan ini menguras sumber daya internal secara masif. Akibatnya, fungsi interpersonal mereka memburuk karena mereka sibuk menjaga benteng pertahanan visual agar tidak runtuh di depan orang lain.

Baca Juga: Kenapa Kita Suka Menghindari Kabar Buruk? Ini Penjelasan Ostrich Effect dalam Psikologi

Beban Kognitif dan Gangguan Memori Akibat Lelah Mental

Tindakan menyembunyikan emosi bukanlah proses pasif, melainkan sebuah aktivitas otak yang sangat melelahkan karena membutuhkan pemantauan diri secara terus-menerus.

Seseorang harus mengontrol ekspresi wajah, mengatur nada suara, dan menjaga bahasa tubuh agar tetap sinkron, sembari memproses interaksi sosial yang sedang berlangsung di sekitarnya.

Penelitian oleh Richards dan Gross di Stanford University mengungkapkan bahwa expressive suppression selama situasi emosional terbukti memperburuk memori jangka pendek secara signifikan terkait detail peristiwa tersebut.

Ketika fokus otak terbagi untuk mempertahankan topeng kepalsuan, kapasitas untuk memecahkan masalah dan berpikir kreatif otomatis menurun tajam.

Ancaman Nyata pada Tubuh dan Risiko Penyakit Fisik

Emosi bukan sekadar peristiwa mental, melainkan proses fisiologis yang melibatkan detak jantung, pola napas, dan ketegangan otot. Saat seseorang memaksakan senyum di kala stres, aktivitas biologis negatif di dalam tubuhnya tidak serta merta berhenti begitu saja.

Sebuah studi meta-analisis terhadap respons stres fisiologis menemukan bahwa manipulasi penekanan emosi berkorelasi langsung dengan peningkatan reaktivitas kardiovaskular dan hemodinamik.

Kesenjangan kronis antara kondisi internal yang tertekan dan tampilan luar yang tenang ini memicu ketegangan fisik yang bermanifestasi menjadi: sakit kepala tegang (tension headaches), gangguan pencernaan kronis (psychosomatic dyspepsia), dan insomnia. 

Baca Juga: 8 Ciri Pemimpin Berhati Baik yang Mudah Diterima Banyak Orang Menurut Pakar Psikologi

Keretakan Hubungan Sosial Akibat Jarak Emosional

Ironisnya, mayoritas orang memilih berpura-pura bahagia demi melindungi hubungan sosial mereka dan menghindari anggapan sebagai beban.

Namun, eksperimen psikologi menunjukkan efek yang berkebalikan: ketika seseorang menekan emosinya, tekanan darah lawan justru ikut meningkat akibat ketegangan bawah sadar yang terpancar.

Strategi ini justru mengikis kepercayaan secara perlahan karena memunculkan jarak emosional yang tidak kasat mata. Hubungan menjadi hambar, terasa kaku, dan kehilangan keintiman sejati.

Pada akhirnya, kejujuran emosional—bukan kepura-puraan yang dipaksakan—adalah satu-satunya fondasi untuk mencapai ketenangan jiwa dan membangun hubungan sosial yang autentik.*

Editor : Uray Ronald
#regulasi emosi #stres kognitif #psikosomatik #kesehatan mental #kecerdasan emosional