Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Riset Ungkap Paradoks Kebahagiaan: Terlalu Memikirkan Kebahagiaan Justru Menyebabkan Anda Tidak Bahagia

Uray Ronald • Selasa, 16 Juni 2026 | 10:03 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

 

PONTIANAK POST - Orang yang terus-menerus memikirkan apakah hidupnya sudah cukup bahagia justru berisiko menjadi tidak bahagia. Kesejahteraan mentalnya dapat menurun. Dikutip dari Ideapod, temuan ini muncul dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 2024. 

Riset tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran berlebihan terhadap tingkat kebahagiaan dapat memicu stres emosional, menurunkan kepuasan hidup, serta meningkatkan gejala depresi.

Penelitian yang dipimpin psikolog Iris Mauss dari University of California Berkeley itu menemukan perbedaan penting antara ingin bahagia dan terobsesi mengevaluasi kebahagiaan diri sendiri.

Yang pertama relatif tidak bermasalah. Namun yang kedua terbukti berkorelasi dengan kondisi psikologis yang lebih buruk.

Terlalu Memikirkan Kebahagiaan Dapat Menurunkan Kesejahteraan

Peneliti menemukan bahwa masalah muncul ketika seseorang terus mengawasi kondisi emosinya sendiri dan mempertanyakan apakah dirinya sudah cukup bahagia.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Emotion milik American Psychological Association (APA) pada 2024, tim peneliti menganalisis berbagai metode penelitian, mulai dari survei lintas populasi, catatan harian peserta, hingga pemantauan jangka panjang.

Baca Juga: Dampak Psikologis Pura-Pura Bahagia: Senyum Palsu Bisa Merusak Kesehatan Mental dan Fisik

Hasilnya konsisten. Individu yang sering menilai dan membandingkan tingkat kebahagiaannya dengan standar tertentu cenderung memiliki tingkat kesejahteraan mental yang lebih rendah dibanding mereka yang sekadar menjalani pengalaman hidup tanpa evaluasi berlebihan.

Peneliti menyebut fenomena ini sebagai negative meta-emotions, yaitu kondisi ketika seseorang tidak hanya mengalami emosi, tetapi juga menilai dan mengkritisi emosi tersebut.

Alih-alih menikmati momen menyenangkan, seseorang justru sibuk bertanya dalam hati: "Apakah saya sudah cukup bahagia?"

Budaya Self-Improvement Dinilai Memperkuat Tekanan Psikologis

Temuan tersebut juga menyoroti dampak budaya modern yang mendorong masyarakat untuk terus mengoptimalkan diri.

Saat ini berbagai aplikasi kesehatan mental, pelacak suasana hati (mood tracker), jurnal refleksi, hingga konten pengembangan diri mendorong individu untuk semakin sering memeriksa kondisi emosional mereka.

Menurut para peneliti, pemantauan diri sebenarnya dapat membantu mengenali pola emosi dan meningkatkan kesadaran diri. Namun manfaat tersebut berkurang ketika prosesnya berubah menjadi pengawasan dan penilaian tanpa henti.

"Perhatian terhadap diri sendiri dapat berubah dari bentuk kepedulian menjadi bentuk pengawasan," demikian kesimpulan yang disorot dalam penelitian tersebut.

Akibatnya, individu dapat terjebak dalam apa yang disebut sebagai jebakan evaluasi internal, yakni kondisi ketika standar kebahagiaan terus meningkat dan hampir tidak pernah merasa cukup.

Standar Kebahagiaan Banyak Dibentuk Faktor Sosial dan Budaya

Penelitian lintas budaya yang dilakukan Mauss dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa efek negatif pengejaran kebahagiaan lebih kuat muncul di masyarakat yang sangat individualistis.

Di lingkungan seperti itu, kebahagiaan sering dipandang sebagai proyek pribadi yang harus dicapai melalui usaha dan pengembangan diri yang berkelanjutan.

Baca Juga: Ciri Cinta Sejati: 12 Tanda yang Harus Ada dalam Hubungan Anda

Sebaliknya, pada budaya yang lebih menekankan hubungan sosial dan kebersamaan, kesejahteraan sering dipahami sebagai hasil interaksi dengan keluarga, komunitas, dan lingkungan sekitar.

Temuan ini mengindikasikan bahwa persepsi mengenai kebahagiaan tidak sepenuhnya bersifat pribadi, melainkan turut dipengaruhi oleh norma sosial, industri wellness, dan ekspektasi budaya yang berkembang.

Menerima Emosi Negatif Dinilai Lebih Sehat daripada Melawannya

Sejumlah penelitian psikologi sebelumnya menunjukkan bahwa kemampuan menerima emosi negatif tanpa berusaha menghilangkannya secara paksa justru berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih baik.

Pendekatan ini dikenal sebagai emotion acceptance atau penerimaan emosi.

Orang yang mampu menerima rasa sedih, kecewa, cemas, atau frustrasi sebagai bagian normal dari pengalaman hidup umumnya menunjukkan tingkat ketahanan psikologis yang lebih tinggi.

Sebaliknya, upaya terus-menerus untuk mempertahankan kebahagiaan atau menghilangkan emosi negatif dapat menciptakan tekanan tambahan yang memperburuk kondisi mental.

Para peneliti menekankan bahwa tujuan utama bukanlah mencapai keadaan bahagia setiap saat, melainkan membangun hubungan yang lebih sehat dengan seluruh spektrum emosi manusia.

Keterlibatan Penuh dalam Aktivitas Dinilai Lebih Efektif daripada Mengukur Kebahagiaan

Penelitian tersebut menemukan bahwa momen yang paling sering dikenang sebagai pengalaman bermakna biasanya terjadi ketika seseorang tidak sedang mengevaluasi dirinya sendiri.

Percakapan mendalam dengan orang terdekat, aktivitas fisik, pekerjaan yang bermakna, kegiatan kreatif, atau sekadar menikmati perjalanan sering kali menghasilkan kepuasan emosional yang lebih tinggi.

Baca Juga: Ciri Orang Kaya Sejati Menurut Riset, Bukan dari Jam Tangan atau Mobil Mewah

Dalam situasi tersebut, perhatian seseorang tertuju pada pengalaman yang sedang dijalani, bukan pada penilaian terhadap dirinya sendiri.

Pesan utama penelitian ini sederhana namun penting: semakin sering seseorang mengukur tingkat kebahagiaannya, semakin besar kemungkinan ia kehilangan kesempatan untuk benar-benar merasakan kebahagiaan itu sendiri.

Pada akhirnya, kesejahteraan emosional mungkin tidak selalu ditemukan melalui pengawasan diri yang lebih ketat, melainkan melalui kemampuan hadir sepenuhnya dalam pengalaman hidup sehari-hari.*

Editor : Uray Ronald
#Iris Mauss #psikologi positif #kesejahteraan emosional #kesehatan mental #kebahagiaan