PONTIANAK POST — Jauh sebelum gawai pintar mengontrol fokus manusia dengan rentetan notifikasi tanpa henti dan algoritma hiburan digital yang menyita waktu, generasi masa lalu punya cara tersendiri untuk menikmati waktu senggang. Di era 1990-an, deretan aktivitas pengisi waktu luang tidak sekadar dianggap sebagai sarana rekreasi penolak bosan, tetapi juga memiliki dampak positif yang nyata bagi psikologis.
Melansir ulasan dari pengamat psikologi Marielisa Reyes, berbagai aktivitas yang populer pada dekade 90-an tanpa disadari memicu kebiasaan positif yang kini diakui para psikolog sangat krusial bagi kesejahteraan jiwa. Di tengah gempuran dunia modern yang menuntut kita untuk selalu terhubung secara digital, menengok kembali hobi-hobi klasik ini bisa menjadi alternatif menarik untuk meredakan stres harian.
Berikut adalah 10 hobi jadul era 90-an yang terbukti ampuh menjaga kesehatan mental:
1. Mengoleksi dan Barter Boneka Beanie Babies
Sangat sedikit mainan yang mampu merepresentasikan tren 90-an seikonik Beanie Babies. Berdasarkan data dari CNN, jajak pendapat oleh USA Weekend pada tahun 1998 menunjukkan bahwa 64% warga Amerika Serikat setidaknya memiliki satu boneka unik ini. Secara psikologis, pakar neurologi dan psikiatri Dr. Shirley M. Mueller menceritakan bahwa hobi mengoleksi sesuatu dapat menstimulasi proses kognitif dan sosial. Aktivitas ini melatih kefokusan, kesabaran, serta memberikan kepuasan batin saat berhasil mencapai target koleksi, sementara aktivitas barter atau saling bertukar koleksi membuka ruang interaksi sosial yang sehat.
Baca Juga: Sering Mimpi Aneh? Ini 10 Cara Unik Otak Mengirimkan Pesan Rahasia Lewat Alam Bawah Sadar Anda
2. Ritual Menyewa Film di Rental Video
Sebelum era layanan streaming merajai industri hiburan, pergi ke rental video seperti Blockbuster untuk menyewa kaset film adalah sebuah rutinitas wajib. Walau terdengar repot untuk ukuran standar zaman sekarang, para psikolog menilai proses memilih film, berkomitmen pada pilihan tersebut, dan pergi keluar rumah memberikan kepuasan emosional tersendiri. Antisipasi saat perjalanan dan pengalaman menonton bersama keluarga atau teman secara langsung terbukti mendatangkan kebahagiaan yang tidak didapatkan dari sekadar menggulir layar (scrolling) pilihan film di rumah.
3. Menjadi Pengasuh Anak Tetangga (Babysitting)
Bagi remaja era 90-an, mengasuh anak-anak di lingkungan sekitar merupakan hobi sekaligus sumber penghasilan tambahan yang populer. Berdasarkan data kesehatan dari UW Health, aktivitas bermain bersama anak-anak terbukti mampu melepas stres, mendongkrak kreativitas, memperbaiki suasana hati, dan menjaga ketajaman fungsi otak. Berinteraksi aktif dengan dunia anak yang polos menjadi penawar jenuh yang efektif dari kepenatan dunia remaja atau dewasa muda.
4. Berkreasi dengan Oven Mainan (Easy-Bake Oven)
Meskipun perangkat Easy-Bake Oven pertama kali diperkenalkan pada dekade 1960-an, popularitasnya sebagai hobi anak-anak dan remaja meroket tajam di tahun 90-an. Sebuah studi ilmiah pada tahun 2016 membuktikan bahwa mengeksplorasi kreativitas sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti membuat kue atau memasak dengan porsi mini, secara instan dapat menaikkan suasana hati (mood) dan menjaga stabilitas emosional.
Baca Juga: Ketika Hidup Penuh Ujian, 7 Sikap Ini Membantu Anda Tetap Kuat dan Tenang
5. Bermain Papan Seluncur (Skateboarding)
Di tahun 1990-an, bermain skateboard bukan sekadar olahraga ekstrem subkultur yang tersegmentasi, melainkan aktivitas sore hari yang sangat umum dilakukan di lingkungan perumahan. Olahraga ini menuntut konsentrasi penuh dan koordinasi fisik yang tinggi, sehingga secara tidak langsung berfungsi sebagai sarana pelarian positif (escapism) dari tekanan akademis, menurunkan hormon stres, sekaligus membangun rasa percaya diri saat berhasil menguasai trik baru.
6. Mengobrol Lewat Telepon Rumah (Landline)
Sebelum telepon seluler melekat di tangan setiap orang, bertukar kabar dengan sahabat berarti harus duduk diam di sudut rumah menggunakan telepon kabel. Keterbatasan privasi karena anggota keluarga lain bisa lewat kapan saja justru melatih kedekatan emosional dan keterbukaan dalam ritme kehidupan keluarga. Gaya komunikasi yang lebih lambat dan terencana ini membuat sesi mengobrol terasa sangat intim dan berharga, jauh dari gangguan interupsi notifikasi media sosial seperti sekarang.
7. Seni Menyusun Kliping Foto (Scrapbooking)
Menyusun foto cetak, potongan tiket bioskop, surat berharga, hingga kartu pos ke dalam sebuah buku album besar merupakan hobi yang menyita waktu namun sangat menenangkan. Menatap kembali lembaran kliping fisik ini memiliki efek emosional yang luar biasa. Memori positif yang terdokumentasi dengan rapi membantu seseorang merasa lebih dihargai, menguatkan identitas diri, memicu rasa syukur, dan memberikan kenyamanan psikologis saat dilanda kesepian.
Baca Juga: Tips Jitu Menikmati Destinasi Liburan Tanpa Menguras Kantong
8. Bermain Game Komputer Klasik
Dekade 90-an menjadi saksi kebangkitan gim komputer legendaris seperti Myst hingga Doom. Kendati sering mendapat pandangan miring dari orang tua, riset dari Lembaga Kesehatan Nasional (NIH) terhadap hampir 2.000 anak menunjukkan bahwa mereka yang bermain gim dalam batasan waktu tertentu justru memiliki performa tes kognitif yang lebih baik, terutama dalam hal pengendalian impuls serta memori kerja (working memory) dibandingkan anak yang tidak pernah bermain gim sama sekali.
9. Mendengarkan Musik Secara Intim Lewat Walkman
Mendengarkan musik melalui perangkat Walkman memaksa seseorang untuk fokus sepenuhnya pada album lagu yang mereka pilih melalui kaset pita. Tanpa adanya distraksi untuk berpindah lagu secara instan atau tergoda mengecek pesan masuk, proses mendengarkan musik menjadi jauh lebih mendalam (immersive). Riset membuktikan mendengarkan musik tanpa distraksi digital secara signifikan mampu menurunkan ketegangan saraf dan memberikan relaksasi maksimal bagi jiwa.
10. Saling Bertukar Surat Tulis Tangan di Kelas
Mengirimkan pesan rahasia lewat secarik kertas yang dilipat kecil saat pelajaran berlangsung di kelas merupakan salah satu keseruan khas era 90-an. Secara klinis, American Psychological Association (APA) menegaskan bahwa aktivitas menulis merupakan instrumen terapeutik yang sangat kuat untuk membantu seseorang mengurai beban pikiran, merefleksikan tantangan hidup, dan meningkatkan kesehatan mental secara keseluruhan. (*)
Editor : Rafael B. Junior