PONTIANAK POST – Psikolog Fitri Sukmawati menilai remaja lebih membutuhkan orang tua dan guru yang mau mendengar serta menjadi pendamping, bukan sekadar memberi nasihat.
Menurutnya, komunikasi yang sehat menjadi kunci agar remaja mampu melewati fase perkembangan psikologis tanpa kehilangan jati diri.
Fitri menyebut, masa remaja merupakan fase perkembangan yang kompleks karena terjadi perubahan pada struktur dan fungsi otak yang memengaruhi cara berpikir, mengelola emosi, hingga mengambil keputusan.
Baca Juga: Perundungan Digital Bisa Hantui Remaja, Ini Penjelasan Psikolog
"Remaja bukan sedang menjadi anak yang sulit, tetapi mereka sedang mengalami proses perkembangan yang membutuhkan pemahaman. Orang tua dan guru perlu hadir sebagai pendamping yang mampu mendengarkan, membangun komunikasi yang sehat, serta menjadi tempat yang aman bagi remaja untuk bertumbuh. Dengan begitu, mereka tidak kehilangan jati diri maupun tumbuh menjadi pribadi yang memberontak," kata Fitri dalam Sharing Session bertema "Perubahan Psikologi pada Remaja" yang digelar bertepatan dengan peluncuran Komunitas Ruang Berbagi di Kabupaten Kubu Raya, Jumat (17/7).
Ia menjelaskan, pada fase tersebut remaja cenderung lebih emosional, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta mulai mencari identitas diri. Di sisi lain, pengaruh lingkungan pergaulan juga semakin besar sehingga kehadiran orang tua dan guru menjadi sangat penting dalam memberikan arahan.
Fitri menilai pendekatan yang mengedepankan dialog dan empati akan lebih efektif dibandingkan komunikasi yang bersifat menghakimi atau hanya berisi larangan.
Peluncuran Komunitas Ruang Berbagi menjadi salah satu upaya menghadirkan ruang belajar bagi para orang tua dan guru untuk memahami perkembangan psikologis anak dan remaja.
Baca Juga: Kenali Perbedaan Depresi Anak dan Remaja untuk Penanganan yang Tepat!
Ketua Komunitas Ruang Berbagi, Patmawati, mengatakan komunitas tersebut lahir dari pengalaman para ibu yang juga berprofesi sebagai guru. Berbagai diskusi mengenai tantangan mendampingi anak di rumah maupun di sekolah akhirnya melahirkan gagasan membentuk wadah belajar bersama.
"Komunitas ini hadir dari keresahan kami terhadap perjalanan tumbuh kembang anak dan remaja. Setiap kali bertemu, kami selalu berdiskusi tentang tantangan yang dihadapi anak-anak di rumah maupun murid di sekolah. Dari situlah muncul keinginan untuk membangun ruang belajar bersama," katanya.
Menurut Patmawati, Ruang Berbagi akan menjadi tempat bagi orang tua dan guru untuk memperluas pemahaman mengenai psikologi anak, pola komunikasi dalam keluarga, serta berbagai isu yang berkaitan dengan perkembangan remaja.
"Kami ingin orang tua dan guru sama-sama belajar bagaimana menjadi pendamping yang mampu memberikan pengaruh positif bagi anak-anak. Ketika orang tua dan guru terus belajar, kami percaya anak-anak akan tumbuh dalam lingkungan yang lebih sehat dan penuh dukungan," ujarnya.
Salah seorang peserta, Nevi Hadriana, guru SMP di Kecamatan Kakap, mengaku materi yang disampaikan sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi sehari-hari sebagai guru sekaligus orang tua.
"Sebagai ibu dan guru, saya sering memikirkan bagaimana kondisi anak-anak di masa depan. Setelah mengikuti kegiatan ini saya semakin memahami bahwa mereka lebih membutuhkan pendampingan daripada sekadar nasihat," tuturnya. (mse)
Editor : Miftahul Khair