PONTIANAK POST - Berada di ruang publik bukan hanya soal menjaga diri sendiri. Kemampuan memahami kondisi orang lain juga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang nyaman bagi semua orang.
Dilansir dari Jawapos, Dosen Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya, Nike Kusumawanti MA, menjelaskan bahwa kepekaan sosial memiliki makna yang lebih luas dibandingkan empati.
Menurut artikel Social Sensitivity and the Ethics of Attention oleh Magrì (2022), kepekaan sosial tidak hanya berkaitan dengan memahami perasaan orang lain, tetapi juga kemampuan melihat konteks sosial tempat seseorang berinteraksi.
Baca Juga: Disclosure Day: Kembalinya Steven Spielberg Mengangkat Alien dan Empati Manusia
Kepekaan Sosial Mencakup Situasi yang Lebih Luas
Jika empati berfokus pada kondisi emosional seseorang, kepekaan sosial juga menuntut seseorang mampu membaca situasi di sekitarnya.
Artinya, seseorang tidak hanya memahami apa yang dirasakan orang lain, tetapi juga mampu melihat kebutuhan yang muncul dalam lingkungan sosial.
Mulai dari Memberi Perhatian Aktif
Baca Juga: Pesan Wali Kota untuk Tingkatkan Kepekaan Sosial di Tengah Badai Covid
Menurut Nike Kusumawanti, kepekaan sosial dapat dibangun melalui perhatian aktif terhadap lingkungan sekitar.
Contohnya ketika berada di kereta komuter. Seseorang tidak hanya fokus pada ponsel, tetapi juga memperhatikan apakah ada lansia, ibu hamil, atau penyandang keterbatasan fisik yang membutuhkan tempat duduk.
Langkah sederhana tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap orang lain.
Baca Juga: Minat Baca dan Kepekaan Sosial
Pahami Situasi, Bukan Hanya Individu
Kepekaan sosial juga berarti memahami konteks secara menyeluruh.
Dalam sebuah diskusi publik, misalnya, seseorang tidak hanya memperhatikan pembicara, tetapi juga memperhatikan peserta lain yang mungkin ingin bertanya, merasa malu, atau tampak tidak nyaman.
Bahasa tubuh dan ekspresi wajah dapat menjadi petunjuk penting untuk memahami situasi tersebut.
Dilatih Menjadi Kebiasaan
Nike Kusumawanti menilai kepekaan sosial dapat terus dilatih hingga menjadi kebiasaan sehari-hari. Semakin sering seseorang memberi perhatian terhadap lingkungan sekitar, semakin besar pula peluang terciptanya ruang publik yang lebih manusiawi dan inklusif. (*)
Editor : Chairunnisya