PONTIANAK POST - Hobi tidak hanya menjadi pengisi waktu luang bagi lanjut usia (lansia), tetapi juga berperan menjaga kesehatan mental, mengurangi kesepian, dan membuat mereka tetap aktif setelah memasuki masa pensiun.
Psikolog Klinis Ghulbuddin Himamy, M.Psi., Psikolog, mengatakan seseorang yang pensiun kehilangan rutinitas kerja yang selama bertahun-tahun dijalani. Pada saat yang sama, anak-anak umumnya telah mandiri sehingga interaksi sehari-hari ikut berkurang. "Dalam kondisi seperti ini, seseorang membutuhkan aktivitas yang membuatnya tetap merasa memiliki tujuan," ujarnya.
Menurut Ghulbuddin, hobi berperan penting dalam menjaga kesehatan mental. Aktivitas yang disukai dapat menumbuhkan rasa senang, meningkatkan kepercayaan diri, sekaligus membuat seseorang merasa tetap mampu melakukan hal yang bermakna.
Baca Juga: Dampak Psikologis Pura-Pura Bahagia: Senyum Palsu Bisa Merusak Kesehatan Mental dan Fisik
Selain itu, hobi yang dilakukan secara rutin membantu menjaga fungsi kognitif, melatih konsentrasi, serta mendorong lansia tetap aktif secara fisik dan sosial. "Hobi merupakan salah satu bentuk investasi untuk kualitas hidup di usia lanjut," katanya.
Salah satu hobi yang banyak digeluti lansia adalah touring. Menurut Ghulbuddin, bagi anggota komunitas motor, yang dicari bukan sekadar berkendara, melainkan kebersamaan selama perjalanan.
Touring menjadi sarana berkumpul, berbagi pengalaman, saling membantu ketika menghadapi kendala, serta mempererat hubungan antarsesama anggota. Interaksi tersebut memenuhi kebutuhan manusia untuk diterima dan menjadi bagian dari kelompok (sense of belonging).
Ia menilai komunitas touring juga memberikan pesan positif bahwa lansia tetap dapat menjalani aktivitas produktif selama kondisi kesehatan memungkinkan. "Selama kesehatan mendukung dan keselamatan menjadi prioritas, mereka tetap bisa produktif, mandiri, dan menikmati hidup. Bahkan, pengalaman hidup membuat mereka cenderung lebih sabar dan tertib saat berkendara," ujarnya.
Kurangi Kesepian
Ghulbuddin mengatakan manfaat terbesar dari komunitas adalah mengurangi rasa kesepian yang kerap dialami lansia. Kesepian, menurutnya, tidak selalu dialami mereka yang tinggal sendiri. Lansia yang tinggal bersama keluarga pun dapat merasa kesepian ketika kehilangan peran atau teman berbagi.
Setelah pensiun, intensitas interaksi sosial umumnya berkurang. Melalui kegiatan seperti touring, mereka memiliki kesempatan bertemu secara rutin, berbincang, bertukar pengalaman, hingga saling memberi dukungan. "Ketika seseorang merasa dihargai, diterima, dan memiliki teman untuk bertemu kembali, rasa kesepian biasanya ikut berkurang," katanya.
Ia menambahkan, banyak pensiunan bergabung dengan komunitas karena ingin kembali memiliki ruang bersosialisasi dan merasa tetap dibutuhkan. "Yang sebenarnya dicari bukan hanya komunitasnya, tetapi juga perasaan bahwa dirinya masih dibutuhkan dan tetap menjadi bagian dari lingkungan sosial," jelasnya.
Baik untuk Kesehatan Mental
Menurut Ghulbuddin, touring juga memberikan manfaat bagi kesehatan mental karena memadukan aktivitas fisik, suasana baru, interaksi sosial, dan pengalaman yang menyenangkan. Kombinasi tersebut membantu mengurangi stres, memperbaiki suasana hati, serta memberikan efek penyegaran psikologis.
Selain itu, mengendarai motor melatih perhatian, konsentrasi, dan kemampuan mengambil keputusan sehingga dapat membantu mempertahankan fungsi kognitif pada usia lanjut.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa aktivitas tersebut harus disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing. "Tidak semua lansia memiliki kemampuan fisik yang sama. Pemeriksaan kesehatan berkala, penggunaan perlengkapan keselamatan, pemilihan rute yang sesuai, dan tidak memaksakan diri harus menjadi perhatian," pungkasnya. (sti)
Editor : Hanif