PONTIANAK POST - Kecepatan media sosial sering membuat seseorang menulis dan mengirim komentar hanya dalam hitungan detik.
Padahal, jeda singkat sebelum mengunggah dapat membantu seseorang melihat kembali dampak dari kata-kata yang ditulis.
Untuk menghindari komentar yang berujung penyesalan, Certified Etiquette Trainer Eda Clarissa menyarankan pengguna membayangkan jika tulisan tersebut ditujukan kepada diri sendiri atau keluarga.
Baca Juga: Cara Menyampaikan Kritik di Media Sosial Tanpa Merendahkan Orang Lain
Baca Ulang Sebelum Mengirim
Komentar juga sebaiknya dibaca ulang sebelum dikirim.
Langkah sederhana tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memastikan tulisan tidak mengandung kalimat yang berpotensi menyakiti atau memperburuk keadaan.
’’Diam sebentar sebelum kirim. Baca ulang, rasakan dampaknya. Kata-kata yang kamu tulis hari ini bisa jadi jejak yang menempel seumur hidup,’’ ujar Eda, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Etika Komentar di Media Sosial, Mengapa Empati Perlu Didahulukan Sebelum Mengetik
Karena itu, pengguna tidak harus selalu merespons setiap unggahan yang muncul di linimasa. Ada kondisi ketika menahan diri justru menjadi pilihan yang lebih bijak.
Tidak Berkomentar Juga Bisa Menjadi Pilihan
Dalam kondisi tertentu, tidak berkomentar justru menjadi pilihan terbaik.
Terutama ketika informasi belum lengkap, konteks belum dipahami, atau emosi sedang tinggi.
Baca Juga: Etika Dokter dan Tenaga Kesehatan Di Media Sosial
Menurut Clarissa, kemampuan menahan diri merupakan bagian dari etika bermedia sosial.
’’Diam bisa menjadi bentuk self-control, kemampuan untuk menyadari bahwa tidak semua hal membutuhkan respons kita,’’ katanya.
Beri Jeda Sebelum Menekan Tombol Post
Etika bermedia sosial pada akhirnya bukan hanya soal kemampuan menyampaikan pendapat.
Kemampuan menahan diri ketika tidak perlu berkomentar juga menjadi bagian penting dari etiket.
Baca Juga: Cara Bijak Berkomentar di Media Sosial Ketika Terjadi Bencana atau Musibah
Satu ketukan pada layar dapat meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada waktu yang dibutuhkan untuk menuliskannya.
Karena itu, memberi jeda, membaca ulang, dan mempertimbangkan dampaknya dapat menjadi kebiasaan sederhana sebelum sebuah komentar dipublikasikan. (*)
Editor : Chairunnisya