PONTIANAK POST – Posisi tubuh saat tidur ternyata dapat memengaruhi kualitas istirahat. Menurut dokter yang dikutip British GQ, posisi tidur yang paling baik adalah posisi yang mampu menjaga keselarasan tulang belakang. Bagi sebagian besar orang, posisi tidur menyamping dinilai paling sesuai.
Dr Deborah Lee dari Dr Fox Online Pharmacy mengatakan posisi tubuh memiliki pengaruh signifikan terhadap tidur. Ia menyebut tidur menyamping kemungkinan menjadi posisi yang paling tepat bagi kebanyakan orang, sedangkan tidur tengkurap dinilai sebagai posisi yang paling buruk.
Temuan tersebut juga didukung sebuah studi tidur pada 2022 yang melibatkan 13 orang tanpa gangguan tidur. Para peserta dipantau selama 15 malam menggunakan perangkat pemantau posisi tidur. Hasil penelitian menunjukkan kualitas tidur terbaik ditemukan pada peserta yang tidur miring ke kanan, disusul sisi kiri dan posisi telentang. Tidak ada peserta yang tidur tengkurap.
Peserta yang tidur miring ke kanan tercatat lebih jarang terbangun pada malam hari dan memiliki durasi terjaga yang lebih singkat dibandingkan posisi lainnya. Mereka juga memiliki durasi tidur gelombang lambat lebih panjang.
Tidur Miring Dinilai Baik untuk Tulang Belakang
Tidur menyamping disebut dapat membantu menjaga keselarasan tulang belakang, terutama jika tubuh mendapatkan dukungan yang tepat. Penggunaan bantal khusus untuk tidur menyamping atau bantal di antara kedua lutut dapat membantu mencegah posisi pinggul berputar.
Posisi ini juga dinilai bermanfaat bagi ibu hamil, orang dengan refluks asam, nyeri punggung, sleep apnea, serta kelompok lanjut usia. Tidur menyamping juga memberikan tekanan yang lebih rendah terhadap organ dalam.
Namun, tidur menyamping tidak selalu menjadi pilihan terbaik bagi semua orang. Posisi tersebut dapat menimbulkan rasa lebih sakit pada seseorang yang mengalami cedera bahu atau pinggul.
Baca Juga: Rutin Jalan Kaki Punya Banyak Manfaat, dari Membakar Lemak hingga Menjaga Massa Otot
Bagaimana dengan Tidur Telentang?
Tidur telentang memiliki keunggulan tersendiri, terutama bagi orang yang mengalami nyeri bahu. Posisi ini memungkinkan distribusi berat badan secara merata sekaligus memberikan dukungan yang simetris bagi tulang belakang dan anggota tubuh.
Posisi telentang juga disebut dapat membantu mengurangi hidung tersumbat pada orang yang mengalami alergi. Untuk membuat posisi ini lebih nyaman, bantal dapat diletakkan di bawah lutut sehingga tulang belakang sedikit melengkung.
Bagi orang yang mengalami masalah punggung, penggunaan bantal atau handuk yang digulung di bawah lutut dapat membantu mengurangi tekanan pada punggung bagian bawah. Kasur yang cukup kokoh juga disarankan.
Baca Juga: Cara Membakar Lemak Tubuh dengan Tepat, Latihan Beban Disebut Lebih Efektif
Tidur Tengkurap Berisiko Menekan Tulang Belakang
Tidur tengkurap dapat memberikan tekanan pada tulang belakang. Posisi kepala yang harus diputar ke salah satu sisi juga berpotensi menyebabkan nyeri leher. Menurut Dr Lee, kebiasaan tersebut dalam jangka panjang dapat berdampak pada tulang belakang.
Sementara itu, Dr Daniella Marchetti, psikolog kesehatan klinis yang mengkhususkan diri pada pengobatan perilaku tidur, memiliki pandangan yang lebih longgar. Menurutnya, orang yang merasa nyaman tidur tengkurap tidak selalu perlu mengubah kebiasaan tersebut. Meski demikian, posisi itu dapat meningkatkan masalah sleep apnea, postur tubuh yang buruk, dan nyeri punggung akibat tulang belakang terlalu teregang.
Bagi orang yang tetap memilih tidur tengkurap, Dr Lee menyarankan tidak menggunakan bantal di bawah kepala atau wajah. Bantal tipis di bawah pinggul dapat digunakan untuk sedikit mengangkat pinggul dan membantu memperbaiki keselarasan tulang belakang.
Posisi Tidur untuk Mendengkur
Posisi tidur juga berkaitan dengan masalah mendengkur. Dr Lee menyebut mendengkur berkaitan dengan obstructive sleep apnea (OSA) dan kondisinya dapat memburuk ketika seseorang tidur telentang. Dalam kondisi OSA, jaringan lunak di bagian belakang tenggorokan dapat tertarik ke bawah oleh gravitasi sehingga sebagian saluran napas terhambat.
Baca Juga: Main Tenis Disebut Bisa Memperpanjang Umur hingga 10 Tahun, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan
Menurut penjelasan tersebut, pernapasan pada penderita OSA dapat berhenti hingga 30 detik dalam satu waktu dan kejadian itu dapat berulang lebih dari 100 kali dalam satu malam. OSA juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.
Tidur menyamping disebut dapat membantu memperbaiki gejala OSA, meski belum ada bukti kuat mengenai sisi mana yang lebih baik. Dr Lee menyebut sisi kanan mungkin lebih baik bagi orang dengan masalah jantung, sedangkan sisi kiri dapat lebih sesuai bagi mereka yang mengalami refluks asam.
Tidak Perlu Terlalu Memikirkan Posisi Tidur
Meski terdapat posisi yang memiliki keunggulan tertentu, tidak ada satu posisi tidur yang mutlak paling baik untuk semua orang. Menurut Stanley yang dikutip British GQ, manusia secara alami dapat berganti posisi sekitar selusin kali dalam satu malam.
Perubahan posisi tersebut bukan berarti tidur terganggu. Tubuh justru melakukannya secara alami untuk mengurangi tekanan dan mengatur suhu. Karena itu, seseorang tidak perlu terlalu mencemaskan posisi tidurnya selama dapat beristirahat dengan nyaman. (*)
Editor : Rafael B. Junior