PONTIANAK POST – Tiga faktor kesehatan yang berkaitan dengan gaya hidup pada usia paruh baya disebut dapat memengaruhi risiko dan waktu munculnya demensia. Faktor tersebut meliputi diabetes, tekanan darah tinggi, dan kebiasaan merokok.
Temuan tersebut berasal dari studi yang diterbitkan dalam jurnal Neurology. Peneliti mengamati lebih dari 12.000 peserta selama rata-rata 26 tahun untuk melihat hubungan antara ketiga faktor risiko pembuluh darah tersebut dengan risiko demensia dan usia ketika penyakit mulai muncul.
Hasil penelitian menunjukkan, peserta yang memiliki lebih sedikit faktor risiko pada usia paruh baya cenderung memiliki risiko demensia lebih rendah dan lebih kecil kemungkinan mengalami demensia pada usia lebih muda.
Baca Juga: 7 Makanan untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Jaga Otot, Jantung, dan Pencernaan
Tanpa Tiga Faktor Risiko, Bebas Demensia 12,6 Tahun Lebih Lama
Peserta yang tidak memiliki diabetes, tekanan darah tinggi, maupun kebiasaan merokok memiliki sekitar 12,6 tahun tambahan bebas demensia dibandingkan peserta yang memiliki ketiga faktor risiko tersebut.
Sementara itu, peserta yang memiliki satu faktor risiko memperoleh tambahan sekitar 8,8 tahun bebas demensia. Mereka yang memiliki dua faktor risiko mendapatkan tambahan sekitar 3,5 tahun dibandingkan kelompok dengan ketiga faktor risiko.
Ahli saraf David Perlmutter mengatakan hasil tersebut memperkuat pemahaman bahwa kesehatan otak memiliki kaitan erat dengan kesehatan metabolisme dan pembuluh darah. Kondisi kesehatan pada usia paruh baya dapat memberikan dampak dalam beberapa dekade berikutnya.
Risiko Meningkat ketika Faktor Bertambah
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa ketiga faktor risiko memiliki efek yang bersifat kumulatif. Menurut Perlmutter, keberadaan satu faktor sudah menjadi perhatian, dua faktor meningkatkan risiko, sedangkan tiga faktor memberikan risiko yang jauh lebih besar.
Baca Juga: Ahli Gizi Ungkap Waktu Terbaik Konsumsi Karbohidrat untuk Menjaga Gula Darah
Peserta dengan ketiga faktor risiko tersebut tercatat memiliki sekitar 2,7 kali lipat risiko demensia dibandingkan peserta yang tidak memiliki ketiganya.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa hasil penelitian tersebut tidak berarti seseorang dapat sepenuhnya mencegah demensia. Penyakit tersebut memiliki banyak faktor yang saling berkaitan.
Perubahan Gaya Hidup Sejak Paruh Baya
Neurolog Jeremy M. Liff mengatakan perubahan gaya hidup sebaiknya tidak menunggu seseorang memasuki usia lanjut. Penelitian tersebut mengamati peserta yang berada pada usia 50-an sehingga kebiasaan pada periode tersebut dinilai penting karena dapat memberikan dampak 20 hingga 40 tahun kemudian.
Perlmutter juga menjelaskan bahwa perubahan biologis yang kemudian berkembang menjadi gangguan memori dapat berlangsung 20 hingga 30 tahun sebelum diagnosis. Karena itu, kesehatan otak tidak hanya perlu diperhatikan ketika seseorang sudah berusia lanjut.
Baca Juga: Main Tenis Disebut Bisa Memperpanjang Umur hingga 10 Tahun, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan
Kebiasaan yang Dianjurkan untuk Menjaga Kesehatan Otak
Selain mengendalikan diabetes dan tekanan darah serta tidak merokok, kedua ahli saraf merekomendasikan sejumlah kebiasaan untuk mendukung kesehatan otak. Di antaranya adalah berolahraga secara teratur, mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas, serta mempertahankan hubungan sosial yang bermakna.
Pola makan yang minim makanan olahan dan kaya serat serta makanan utuh juga disarankan. Selain itu, seseorang dianjurkan terus belajar dan menantang kemampuan kognitif, menjaga pendengaran, menghindari konsumsi alkohol dalam jumlah besar, serta menghindari stimulan pada larut malam.
Bukan Bukti Sebab-Akibat
Prevention menekankan bahwa penelitian tersebut bersifat observasional. Artinya, penelitian menemukan hubungan antara faktor risiko pembuluh darah dan demensia, tetapi belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Peneliti juga hanya menilai kondisi diabetes, hipertensi, dan status merokok peserta pada satu titik di usia paruh baya, bukan mengikuti perubahan ketiga faktor tersebut dalam jangka panjang.
Demensia juga merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi berbagai faktor lain, termasuk genetika, lingkungan, pendidikan, aktivitas fisik, dan kondisi sosial.
Dengan demikian, temuan penelitian ini menunjukkan adanya kaitan antara pengelolaan faktor risiko pada usia paruh baya dan waktu munculnya demensia, bukan jaminan bahwa perubahan gaya hidup dapat mencegah demensia sepenuhnya. (*)
Editor : Rafael B. Junior