PONTIANAK POST – Rutinitas pagi tidak harus dipenuhi berbagai aktivitas rumit untuk membuat seseorang lebih produktif. Sejumlah ahli manajemen waktu justru menyarankan kebiasaan sederhana yang dapat membantu mengatur waktu, mengurangi stres, dan membuat aktivitas sepanjang hari lebih terarah.
Dalam artikel Real Simple yang diterbitkan 12 Mei 2026, terdapat delapan kebiasaan yang direkomendasikan para ahli untuk membangun pagi yang lebih produktif. Strategi tersebut mencakup perencanaan sejak malam sebelumnya, mengoptimalkan waktu tidur, mengurangi penggunaan gawai, hingga menentukan pekerjaan yang paling berdampak.
1. Rencanakan Hari Sejak Malam
Pagi yang produktif, menurut Melinda Rathkopf, MD, MBA, dapat dimulai sejak malam sebelumnya. Merencanakan aktivitas dan mengambil keputusan lebih awal dinilai dapat membuat hari berikutnya lebih tenang dan mengurangi stres.
Perencanaan juga perlu memasukkan waktu jeda di antara berbagai kegiatan. Waktu perjalanan menuju lokasi pekerjaan atau janji temu, misalnya, sebaiknya turut diperhitungkan dalam jadwal.
Baca Juga: Baca Buku Sambil Minum Kopi di Pagi Hari Bisa Tingkatkan Fokus, Ini Penjelasan Ahli
2. Prioritaskan Waktu Tidur
Tidur menjadi bagian penting dari produktivitas karena berhubungan dengan fungsi harian dan kesehatan otak. Rathkopf menyarankan seseorang menentukan terlebih dahulu berapa lama waktu tidur yang dibutuhkan agar merasa segar, kemudian menyesuaikan jadwal berdasarkan kebutuhan tersebut.
Dengan kata lain, waktu tidur sebaiknya diperlakukan sebagai bagian utama dari jadwal, bukan aktivitas yang dilakukan setelah seluruh pekerjaan selesai.
3. Jauhkan Diri dari Layar Ponsel
Kebiasaan memeriksa ponsel begitu bangun dapat membuat waktu pagi cepat habis. Pakar manajemen waktu Julie Morgenstern menyarankan mengurangi penggunaan gawai, termasuk dengan menempatkan ponsel jauh dari tempat tidur.
Morgenstern merekomendasikan tidak menggunakan perangkat selama satu jam sebelum tidur dan satu jam pertama setelah bangun. Menurutnya, ponsel dapat dengan mudah menarik perhatian sehingga seseorang kehilangan waktu.
Sebagai gantinya, waktu tersebut dapat digunakan untuk aktivitas tanpa layar, seperti membaca buku, keluar rumah, atau berbicara dengan orang lain.
Baca Juga: Sering Susah Tidur? Ini Waktu Terbaik Berhenti Minum Kafein Menurut Ahli
4. Sederhanakan Rutinitas Pagi
Rutinitas pagi yang terlalu rumit justru berpotensi menimbulkan tekanan. Morgenstern menyarankan membatasi rutinitas pagi hingga tiga atau empat elemen utama agar lebih mudah dipertahankan.
Bagi orang tua yang harus menyiapkan anak pada pagi hari, rutinitas dapat disederhanakan dengan mempersiapkan berbagai kebutuhan sejak malam. Misalnya, pilihan pakaian anak dapat ditentukan sebelumnya sehingga waktu pagi tidak dihabiskan untuk mengambil keputusan kecil.
5. Buat Jadwal yang Konsisten
Otak menyukai pola yang dapat diprediksi. Menurut Rathkopf, rutinitas yang konsisten dapat membantu mengurangi stres dan beban kognitif.
Morgenstern juga menyarankan menentukan waktu yang konsisten untuk pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Dengan jadwal yang teratur, otak dapat terbiasa memasuki kondisi fokus pada waktu tertentu.
Baca Juga: Pengaruh Kafein dalam Kopi Terhadap Insulin dan Gula Darah
6. Kerjakan Tugas Paling Berdampak
Waktu pagi dapat dimanfaatkan untuk mengerjakan pekerjaan yang paling penting dan membutuhkan kemampuan berpikir terbaik. Morgenstern menyarankan memulai hari dengan proyek berdampak tinggi sebelum seseorang terseret ke berbagai pekerjaan yang sifatnya reaktif.
Pekerjaan seperti menulis, menyusun strategi, atau mengerjakan proyek yang membutuhkan pemikiran mendalam dapat ditempatkan pada awal hari. Bahkan jika hanya satu pekerjaan besar yang berhasil diselesaikan, hal tersebut dapat memberikan rasa lega karena tugas utama sudah ditangani.
7. Sisipkan Waktu untuk Diri Sendiri
Produktivitas juga membutuhkan waktu untuk memulihkan energi. Namun, aktivitas perawatan diri tidak harus berupa rutinitas panjang yang membutuhkan waktu berjam-jam.
Morgenstern menyarankan microbreak selama 5–20 menit yang dapat digunakan untuk mengisi kembali energi. Aktivitas tersebut bisa berupa berjalan kaki singkat, mendengarkan musik atau podcast saat perjalanan, maupun membaca buku.
Menurutnya, semakin berat seseorang bekerja, semakin besar pula kebutuhan untuk memberikan waktu bagi tubuh dan pikiran untuk pulih.
Baca Juga: Ingin Jantung Tetap Sehat? Lakukan 3 Kebiasaan Ini Setelah Makan Malam
8. Jangan Takut Mengubah Rutinitas
Rutinitas pagi tidak harus dibuat permanen. Rathkopf mengatakan kebutuhan seseorang dapat berubah seiring kewajiban, tahap kehidupan, maupun kondisi tertentu.
Jika suatu kebiasaan ternyata justru menghambat produktivitas, kebiasaan tersebut dapat ditinggalkan atau disesuaikan. Rutinitas orang lain juga tidak harus ditiru secara persis karena setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda.
Ahli juga mengingatkan agar seseorang tidak terlalu keras terhadap diri sendiri ketika menjalani pagi yang kurang produktif. Rutinitas yang terlihat sempurna di media sosial tidak selalu menggambarkan kondisi sehari-hari seseorang.
Produktif Tidak Harus Rumit
Delapan kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa meningkatkan produktivitas pada pagi hari tidak selalu membutuhkan rutinitas yang panjang dan rumit. Perencanaan, tidur yang cukup, pengurangan penggunaan gawai, serta penentuan prioritas dapat menjadi dasar untuk membuat hari lebih terarah.
Yang tidak kalah penting, rutinitas tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Kebiasaan yang efektif bagi satu orang belum tentu memberikan hasil yang sama bagi orang lain. (*)
Editor : Rafael B. Junior