Usia Bukan Penghalang, Studi Temukan Cara Sederhana Menjaga dan Meningkatkan Kesehatan Otak

Rafael B. Junior • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:17 WIB
Ilustrasi makanan tinggi serat menjadi tren. (MAGNIFIC)
Ilustrasi makanan tinggi serat menjadi tren. (MAGNIFIC)

PONTIANAK POST – Bertambahnya usia tidak selalu berarti kemampuan otak akan terus menurun. Studi selama tiga tahun terhadap hampir 4.000 orang berusia 19 hingga 94 tahun menemukan kesehatan otak masih dapat meningkat pada berbagai kelompok usia.

Penelitian yang dilakukan peneliti dari Center for BrainHealth, University of Texas at Dallas, dan dipublikasikan dalam Scientific Reports, menggunakan data dari The BrainHealth Project. Program tersebut diluncurkan pada 2020 untuk mempelajari cara memperkuat dan mengoptimalkan kesehatan otak sepanjang kehidupan.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pada sejumlah aspek kesehatan otak, termasuk kejernihan berpikir, kesejahteraan emosional, kemampuan berkonsentrasi, daya ingat, ketahanan kognitif, serta rasa memiliki tujuan hidup.

Baca Juga: Sering Lelah Meski Cukup Tidur? Ini 7 Tanda Tubuh Kurang Sinar Matahari

Peserta dengan Skor Awal Rendah Justru Punya Potensi Besar

Penelitian tersebut menemukan peserta yang memulai dengan skor kesehatan otak paling rendah justru memiliki potensi pertumbuhan terbesar. Temuan ini menantang anggapan bahwa kemampuan kognitif yang lebih rendah tidak dapat diperbaiki.

Peneliti juga menemukan adanya efek pemulihan ketika skor peserta mengalami penurunan. Konsistensi dalam menerapkan kebiasaan yang mendukung kesehatan otak menjadi salah satu faktor yang paling dekat kaitannya dengan hasil yang lebih baik.

Peserta yang melakukan pelatihan singkat selama 5 hingga 15 menit setiap hari dan secara sengaja membangun kebiasaan tertentu menunjukkan hasil yang lebih tinggi secara terukur.

Otak Tetap Memiliki Kemampuan Beradaptasi

Temuan tersebut berkaitan dengan konsep neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk mengatur ulang dirinya dan membentuk koneksi baru sepanjang kehidupan.

Baca Juga: 8 Kebiasaan Pagi yang Bikin Lebih Produktif Menurut Ahli, Nomor 3 Sering Diabaikan

Ahli saraf Carolina Makowski mengatakan neuroplastisitas tidak memiliki batas usia. Kemampuan tersebut tercermin dari kapasitas manusia untuk mempelajari keterampilan dan informasi baru pada usia berapa pun.

Meski beberapa kemampuan kognitif, seperti kecepatan memproses informasi, secara alami dapat menurun seiring bertambahnya usia, kemampuan lain seperti penalaran, pengetahuan, dan pengaturan emosi dapat tetap stabil atau bahkan meningkat melalui pengalaman.

Namun, kesehatan otak tidak hanya membutuhkan stimulasi. Otak juga membutuhkan waktu istirahat dan tidur yang cukup agar dapat berfungsi secara optimal.

Baca Juga: Cegah Risiko Stroke, Ini 8 Makanan yang Direkomendasikan Ahli Gizi

1. Kurangi Kebiasaan Multitasking

Salah satu langkah yang disarankan adalah mengurangi multitasking. Sebagai gantinya, seseorang dapat menerapkan single-tasking dengan menyediakan waktu hingga 45 menit untuk mengerjakan satu aktivitas secara fokus tanpa gangguan.

Cara tersebut disebut dapat membantu memberikan ruang bagi otak untuk melakukan tugas yang membutuhkan pemikiran mendalam.

2. Rutin Beraktivitas Fisik

Aktivitas fisik menjadi salah satu cara yang disebut efektif untuk mengurangi risiko kehilangan kemampuan kognitif.

Menurut ahli saraf Ejaz Shamim, sekitar 30 menit olahraga dengan intensitas sedang setiap hari dapat mengurangi risiko tersebut sebesar 30 hingga 40 persen.

Aktivitas fisik tersebut dapat dipadukan dengan pola makan bergaya Mediterania yang mencakup buah, sayuran, biji-bijian utuh, lemak sehat, kacang-kacangan, dan ikan.

Baca Juga: Ahli Gizi Ungkap Waktu Terbaik Konsumsi Karbohidrat untuk Menjaga Gula Darah

3. Kurangi Alkohol dan Berhenti Merokok

Menghentikan kebiasaan merokok dan membatasi konsumsi alkohol juga disebut dapat membantu mengurangi risiko penurunan kognitif.

Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari pendekatan untuk menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang.

4. Beri Otak Waktu untuk Beristirahat

Terlalu lama berkonsentrasi pada aktivitas yang membutuhkan pemikiran intens dapat menyebabkan kelelahan dan gangguan fokus.

Peneliti menyebut istirahat singkat selama 3 hingga 5 menit tanpa teknologi dan tanpa sengaja memikirkan sesuatu dapat membantu mengatur ulang dan menyegarkan otak.

5. Tantang Otak dengan Hal Baru

Aktivitas yang menantang otak juga dianjurkan. Beberapa contohnya adalah belajar bahasa baru, memainkan alat musik, melukis, atau memainkan permainan strategi seperti catur.

Ketika sebuah aktivitas mulai terasa mudah, tingkat kesulitannya dapat ditingkatkan untuk memberikan tantangan tambahan bagi otak.

6. Jaga Hubungan Sosial

Hubungan yang bermakna juga menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan otak. Peneliti menekankan bahwa kualitas hubungan lebih penting daripada jumlahnya.

Menghubungi orang yang dianggap penting atau membangun hubungan dengan seseorang yang memiliki sudut pandang berbeda dapat menjadi salah satu cara menjaga keterhubungan sosial.

Hubungan sosial yang terjaga juga dapat membantu mengurangi kesepian dan isolasi sosial, terutama pada orang lanjut usia. Teknologi disebut dapat membantu orang lanjut usia tetap terhubung dengan keluarga, teman, dan komunitas.

Konsistensi Menjadi Kunci

Studi tersebut memberikan gambaran bahwa peningkatan kesehatan otak bukan hanya berkaitan dengan usia. Kebiasaan yang dilakukan secara konsisten juga berperan penting.

Mulai dari aktivitas fisik, pola makan sehat, belajar hal baru, mengurangi multitasking, menyediakan waktu istirahat, hingga menjaga hubungan sosial dapat menjadi bagian dari upaya merawat fungsi otak sepanjang kehidupan.

Dengan kata lain, penelitian tersebut menunjukkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mulai menjaga dan meningkatkan kesehatan otak. Bahkan peserta yang memulai dengan kondisi paling rendah tetap menunjukkan peluang mengalami perkembangan.

Editor : Rafael B. Junior
kebiasaan sehat kesehatan otak lansia neuroplastisitas kesehatan otak fungsi kognitif