Coba Berhenti Multitasking Selama 7 Hari, Fokus Meningkat dan Pikiran Terasa Lebih Tenang

Rafael B. Junior • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:25 WIB
Ilustrasi bekerja secara multitasking.
Ilustrasi bekerja secara multitasking.

PONTIANAK POST  – Kebiasaan mengerjakan banyak aktivitas secara bersamaan ternyata tidak selalu membuat seseorang lebih produktif. Eksperimen selama satu minggu menunjukkan bahwa menghentikan multitasking justru dapat membuat pikiran terasa lebih tenang, fokus meningkat, dan aktivitas sehari-hari lebih mudah dinikmati.

Eksperimen tersebut dilakukan Alyssa Rotunno dan dipublikasikan Real Simple pada 16 Mei 2026. Selama satu minggu, ia mencoba menjalani aktivitas dengan prinsip single-tasking, yakni mengerjakan satu hal dalam satu waktu.

Selama eksperimen, ia tidak menggulir ponsel sambil menonton televisi, tidak membalas email ketika berjalan, serta tidak berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke beberapa tab sekaligus.

Baca Juga: Usia Bukan Penghalang, Studi Temukan Cara Sederhana Menjaga dan Meningkatkan Kesehatan Otak

Multitasking Hanya Terasa Produktif

Erin Pash, terapis berlisensi sekaligus pendiri Pash Co., mengatakan kesibukan dapat membuat seseorang merasa sedang mengalami kemajuan. Ketika berpindah-pindah antara email, pesan, notifikasi, dan aktivitas lainnya, otak mendapatkan rangsangan yang terasa seperti produktivitas.

Namun, perasaan produktif dan benar-benar produktif merupakan dua hal berbeda. Menurut Pash, kebiasaan berpindah tugas membuat seseorang menyentuh banyak pekerjaan tanpa benar-benar menyelesaikannya.

Otak juga sebenarnya tidak mengerjakan dua aktivitas sekaligus. Menurut Pash, otak dengan cepat berganti dari satu tugas ke tugas lainnya. Setiap pergantian membutuhkan proses untuk kembali memahami konteks dan membangun fokus.

Gretchen Rubin, pakar kebahagiaan, pembawa acara podcast, dan penulis, menyebut proses tersebut sebagai switching cost. Setiap kali perhatian dialihkan, otak membutuhkan energi kognitif untuk kembali menyesuaikan diri. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa lelah, tidak fokus, dan mudah kesal.

Baca Juga: Ingin Jantung Tetap Sehat? Lakukan 3 Kebiasaan Ini Setelah Makan Malam

Fokus Satu Aktivitas Membuat Pikiran Lebih Tenang

Sebelum eksperimen, Rotunno mengaku sering merasa pikirannya terbagi ke berbagai arah. Bahkan ketika sedang melakukan aktivitas untuk bersantai, seperti menonton acara televisi, minum kopi, atau berjalan, pikirannya masih memikirkan hal lain.

Setelah berhenti membagi perhatian, perubahan mulai terasa. Ia tidak hanya merasa lebih produktif, tetapi juga lebih tenang dan mampu hadir sepenuhnya dalam aktivitas yang sedang dilakukan.

Pada akhir eksperimen, perhatian dan kehadirannya dalam percakapan meningkat. Aktivitas sederhana seperti menonton televisi dan memasak juga terasa lebih menyenangkan karena pikirannya tidak terus terbagi.

Baca Juga: 7 Sayuran Beku yang Baik untuk Menjaga Gula Darah, Ahli Gizi Ungkap Pilihannya

Awalnya Justru Bisa Memicu Kecemasan

Menghentikan multitasking ternyata tidak langsung terasa nyaman. Rotunno mengaku suasana ketika hanya mengerjakan satu aktivitas tanpa memeriksa ponsel atau memikirkan pekerjaan berikutnya justru sempat menimbulkan kecemasan.

Menurut Rubin, reaksi tersebut wajar. Seseorang yang sudah terbiasa menjalani hari dengan terburu-buru dan penuh tuntutan dapat merasa ritme yang lebih lambat sebagai sesuatu yang asing.

Pash juga menyebut banyak orang terbiasa mendapatkan penghargaan karena terlihat sibuk. Akibatnya, memperlambat aktivitas dapat membuat seseorang merasa tertinggal meskipun sebenarnya tidak demikian.

Mulai dengan 25 Menit Tanpa Gangguan

Untuk mengurangi kebiasaan multitasking, Pash menyarankan memulai dengan satu blok waktu 25 menit untuk bekerja tanpa gangguan setiap hari. Waktu tersebut diperlakukan seperti rapat yang tidak dapat dibatalkan.

Dalam eksperimennya, Rotunno memasang pengatur waktu, meletakkan ponsel jauh dari jangkauan, menutup tab yang tidak diperlukan, kemudian bertahan pada satu pekerjaan hingga waktu berakhir.

Setelah beberapa hari, dorongan untuk terus memeriksa sesuatu mulai berkurang. Aktivitas fokus juga tidak lagi terasa senyaman sebelumnya.

Baca Juga: Cegah Risiko Stroke, Ini 8 Makanan yang Direkomendasikan Ahli Gizi

Sederhanakan Rutinitas Pagi

Selain mengurangi gangguan, Rubin menyarankan mengurangi jumlah keputusan kecil yang harus dibuat setiap hari, terutama ketika tingkat stres sedang tinggi.

Dalam eksperimen tersebut, rutinitas pagi mulai disederhanakan dengan menyiapkan pakaian olahraga, mengemas tas, dan merencanakan makan siang sejak sebelumnya. Cara tersebut mengurangi beban keputusan sejak pagi hari.

Menurut Rubin, pagi hari pada hari kerja cenderung menjadi waktu ketika beban mental berada pada tingkat tinggi. Mengurangi keputusan dan gangguan dapat membuat pikiran terasa lebih tenang.

Tidak Perlu Langsung Mengubah Semua Kebiasaan

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa menghentikan multitasking tidak harus dilakukan dengan perubahan besar sekaligus. Kebiasaan kecil dapat menjadi titik awal.

Seseorang dapat mencoba berjalan tanpa melihat ponsel, bekerja selama 25 menit tanpa gangguan, atau makan malam tanpa memeriksa ponsel. Tujuannya bukan mencapai fokus sempurna, melainkan memberikan kesempatan kepada otak untuk tidak terus-menerus membagi perhatian.

Rotunno menyimpulkan bahwa kejernihan mental bukan berarti harus selalu fokus secara sempurna. Yang lebih penting adalah menciptakan lebih sedikit gangguan yang tidak diperlukan sehingga otak memiliki ruang untuk beristirahat dan bekerja dengan lebih terarah. (*)

Editor : Rafael B. Junior
single-tasking kesehatan otak produktivitas multitasking fokus