PONTIANAK POST - Meluangkan waktu untuk diri sendiri atau me time sering menjadi cara untuk beristirahat setelah menjalani rutinitas yang melelahkan. Namun, kebiasaan menyendiri yang awalnya bertujuan memulihkan energi bisa berubah menjadi isolasi jika dilakukan secara berlebihan.
Dikutip dari Real Simple, survei terbaru dari aplikasi perawatan diri RiseGuide menemukan lebih dari separuh responden Generasi Z dan milenial mengaku pernah melewati lebih dari sehari tanpa berbicara dengan orang lain. Bahkan, 27 persen responden mengatakan mereka pernah tidak terhubung dengan orang lain selama lebih dari sepekan.
Psikolog neuropsikologi Sanam Hafeez mengatakan self-care tetap penting, tetapi merawat diri tidak seharusnya berarti memutus hubungan dengan orang lain. Menurutnya, manusia tetap membutuhkan koneksi sosial, termasuk mereka yang merasa nyaman menghabiskan banyak waktu sendirian.
Baca Juga: Baca Buku Sambil Minum Kopi di Pagi Hari Bisa Tingkatkan Fokus, Ini Penjelasan Ahli
Ketika Me Time Mulai Berubah Menjadi Isolasi
Tidak ada durasi tertentu yang secara otomatis membuat me time menjadi tidak sehat. Yang lebih penting adalah melihat bagaimana perasaan seseorang setelah menghabiskan waktu sendirian.
Hafeez menjelaskan, waktu sendiri dapat menjadi hal positif jika membuat seseorang merasa lebih tenang dan kembali berenergi. Sebaliknya, kondisi perlu diperhatikan ketika kesendirian justru membuat seseorang merasa semakin terkuras, mudah tersinggung, atau kewalahan.
Terapis Leigh Hall juga mengingatkan bahwa terlalu memprioritaskan waktu sendiri dapat membuat seseorang mengabaikan hubungan sosial dan kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain:
- Merasa kesepian meski sengaja memilih untuk menyendiri;
- Kehilangan minat terhadap hobi atau aktivitas yang sebelumnya disukai;
- Semakin sulit membalas pesan, membuat janji, atau bersosialisasi;
- Merasa lebih mudah sedih, cemas, mudah marah, atau mati rasa secara emosional;
- Menghindari orang lain karena interaksi sosial terasa tidak nyaman;
- Hari-hari terasa monoton dan mulai sulit dibedakan;
- Menghabiskan lebih banyak waktu menggulir media sosial tanpa interaksi langsung yang berarti.
Baca Juga: 8 Alasan Orang Sering Tidur Terlalu Lama, dari Stres hingga Rasa Kecewa
Mengapa Orang Semakin Sering Menghabiskan Waktu Sendiri?
Popularitas self-care menjadi salah satu faktor yang disebut dalam artikel tersebut. Setelah bertahun-tahun menghadapi tekanan dan kelelahan, banyak orang mulai memberikan perhatian lebih besar terhadap kesehatan fisik dan mental.
Di sisi lain, berkurangnya keterlibatan dalam komunitas, semakin sedikitnya tempat untuk berkumpul secara langsung, serta meningkatnya penggunaan perangkat digital turut disebut berkontribusi terhadap berkurangnya interaksi sosial, terutama sejak 2020.
Waktu yang dihabiskan sendirian juga dapat terasa semakin nyaman karena seseorang tidak perlu menghadapi tuntutan sosial. Masalahnya, kenyamanan tersebut dapat membuat seseorang semakin jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Tak Perlu Langsung Punya Banyak Teman
Jika merasa terlalu lama menjauh dari lingkungan sosial, perubahan tidak harus dilakukan secara drastis.
Leigh Hall menyarankan memulai dari interaksi sederhana. Menelepon teman, berbicara sebentar dengan orang lain, makan malam bersama keluarga, atau bahkan memilih berbicara langsung dengan petugas layanan dibandingkan selalu menggunakan chatbot dapat menjadi langkah awal.
Cara lain adalah membuat rencana sosial yang sederhana. Tidak perlu langsung mengadakan acara besar. Jalan kaki bersama, berolahraga, atau sekadar minum kopi dapat menjadi pilihan untuk kembali membangun koneksi.
Hafeez menyarankan membuat ajakan yang lebih spesifik daripada sekadar mengatakan, “Kita harus bertemu.” Mengajak seseorang minum kopi atau berjalan bersama membuat rencana lebih konkret dan lebih mudah diwujudkan.
Baca Juga: Tak Suka Banyak Teman, 3 Zodiak Ini Sangat Selektif Menjaga Lingkaran Pertemanan
Jangan Selalu Menolak Ajakan
Ketika merasa membutuhkan me time, membatalkan rencana sosial memang terkadang terasa sebagai pilihan paling nyaman. Namun, Hall menyarankan agar seseorang tidak selalu menolak ajakan jika kondisinya memungkinkan.
Menghadiri acara sosial juga tidak berarti harus selalu aktif atau menjadi pusat perhatian. Seseorang dapat datang dan pulang lebih awal jika mulai merasa lelah atau kewalahan.
Intinya, menjaga hubungan sosial tidak mengharuskan seseorang menjadi pribadi yang selalu aktif bersosialisasi.
Kualitas Pertemanan Lebih Penting daripada Jumlah
Tetap terhubung dengan orang lain juga tidak berarti harus memiliki banyak teman.
Hall menyebut kebanyakan orang membutuhkan setidaknya dua atau tiga teman dekat, sementara interaksi dengan tetangga, kenalan, maupun orang yang ditemui dalam aktivitas sehari-hari juga dapat membantu memenuhi kebutuhan sosial.
Bagi mereka yang memang ingin memperluas lingkaran pertemanan, beberapa pilihan yang dapat dicoba antara lain kegiatan sukarela, kelas olahraga bersama, klub buku, komunitas hobi, atau kelompok masyarakat.
Yang terpenting adalah menemukan keseimbangan antara kebutuhan untuk menyendiri dan kebutuhan untuk tetap terhubung dengan orang lain.
Me Time Tetap Penting, tetapi Perlu Seimbang
Menghabiskan waktu sendiri bukan sesuatu yang harus dihindari. Bagi sebagian orang, kesendirian justru menjadi cara efektif untuk beristirahat dan mengisi kembali energi.
Namun, me time sebaiknya tidak sampai membuat seseorang sepenuhnya menarik diri dari orang-orang terdekat.
Hafeez menyarankan agar kebutuhan untuk memiliki ruang pribadi dikomunikasikan dengan jelas, terutama dalam hubungan dekat. Kebutuhan untuk menyendiri dapat dijelaskan sebagai cara mengisi ulang energi, bukan sebagai bentuk penolakan terhadap orang lain.
Dengan begitu, waktu sendiri dan hubungan sosial dapat berjalan beriringan tanpa salah satunya harus dikorbankan. (*)
Editor : Rafael B. Junior