PONTIANAK POST - Kanker payudara merupakan jenis kanker yang berkembang pada sel-sel jaringan payudara. Penyakit ini dapat bermula dari saluran yang membawa ASI ke puting atau lobulus, yakni kelenjar yang memproduksi ASI.
Pada sejumlah kasus, kanker payudara tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Tumor yang masih berukuran kecil bahkan bisa belum teraba, tetapi perubahan tertentu dapat terlihat melalui pemeriksaan seperti mamografi.
Dikutip dari Healthline, kanker payudara terjadi ketika sel payudara mengalami perubahan atau mutasi sehingga tumbuh dan membelah secara tidak terkendali. Sel kanker kemudian dapat menyerang jaringan di sekitarnya dan menyebar ke kelenjar getah bening maupun bagian tubuh lainnya.
Baca Juga: Kanker Payudara di Kalbar Tembus 1.545 Kasus, Dinkes Tekankan Pentingnya Pencegahan dan Deteksi Dini
Kenali Gejala Kanker Payudara
Salah satu tanda yang paling sering dikaitkan dengan kanker payudara adalah munculnya benjolan baru pada payudara. Namun, tidak semua benjolan merupakan kanker sehingga pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Selain benjolan, beberapa perubahan yang perlu diperhatikan antara lain:
- Penebalan jaringan payudara yang terasa berbeda dari biasanya.
- Perubahan bentuk atau ukuran payudara.
- Perubahan pada kulit payudara, termasuk perubahan warna, tekstur, atau munculnya lekukan.
- Pembengkakan pada sebagian atau seluruh payudara.
- Perubahan pada puting.
- Keluarnya cairan dari puting yang bukan ASI.
- Nyeri pada payudara yang menetap.
Pada jenis kanker tertentu, perubahan kulit atau pembengkakan dapat muncul tanpa adanya benjolan yang jelas. Karena itu, perubahan baru yang tidak biasa sebaiknya tidak diabaikan.
Baca Juga: Bagaimana Kanker Bisa Terjadi? Ini Proses Mutasi Sel dan Faktor yang Dapat Meningkatkan Risikonya
Benjolan Tidak Selalu Berarti Kanker
Munculnya benjolan pada payudara memang perlu diperhatikan, tetapi kondisi tersebut tidak otomatis berarti kanker.
Healthline mencatat bahwa sebagian besar benjolan baru pada payudara bersifat jinak atau bukan kanker. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk menentukan penyebabnya, terutama jika benjolan merupakan perubahan baru yang menetap.
Karena kanker payudara juga dapat tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, pemeriksaan dan skrining sesuai rekomendasi tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam mendeteksi penyakit lebih dini.
Apa Penyebab Kanker Payudara?
Kanker payudara berkaitan dengan perubahan atau mutasi DNA pada sel payudara. Mutasi tersebut membuat sel tumbuh dan membelah secara tidak normal.
Namun, pemicu pasti perubahan DNA tersebut tidak selalu diketahui. Seseorang dapat memiliki beberapa faktor risiko yang sama dengan orang lain, tetapi hanya salah satunya yang kemudian mengalami kanker payudara.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko antara lain usia, riwayat keluarga, faktor genetik tertentu, serta kondisi jaringan payudara yang padat. Sebagian faktor tidak dapat diubah, sedangkan faktor gaya hidup tertentu dapat dimodifikasi.
Baca Juga: Jangan Abaikan, Ini 7 Tanda Kanker Kulit yang Sering Tidak Disadari
Kanker Payudara Juga Bisa Terjadi pada Pria
Kanker payudara lebih sering terjadi pada perempuan, tetapi pria juga memiliki jaringan payudara dan tetap dapat mengalami penyakit tersebut.
Kasus kanker payudara pada pria memang jauh lebih jarang. Namun, perubahan tidak biasa pada payudara pria tetap perlu diperiksa oleh tenaga medis.
Bagaimana Kanker Payudara Didiagnosis?
Diagnosis kanker payudara tidak cukup dilakukan hanya berdasarkan keberadaan benjolan atau gejala tertentu.
Dokter dapat menggunakan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui apakah terdapat kanker, jenisnya, serta sejauh mana penyakit telah berkembang. Pemeriksaan dapat meliputi pemeriksaan payudara, mamografi, pencitraan lain, serta biopsi bila diperlukan.
Pemeriksaan juga dapat digunakan untuk mengetahui karakteristik kanker, termasuk keterlibatan kelenjar getah bening dan status reseptor tertentu yang dapat memengaruhi pilihan terapi.
Baca Juga: Manfaat Kunyit untuk Kesehatan Usus dan Pencernaan, Simak Penjelasan Ahli Gizi
Mengenal Stadium Kanker Payudara
Stadium menggambarkan seberapa besar kanker dan sejauh mana penyakit tersebut telah menyebar.
Healthline membagi kanker payudara ke dalam stadium 0 hingga 4. Stadium 0, misalnya, menggambarkan ductal carcinoma in situ atau DCIS, ketika sel kanker masih berada di dalam saluran payudara dan belum menyebar ke jaringan di sekitarnya.
Sementara itu, stadium yang lebih tinggi menunjukkan kanker yang lebih besar atau telah menyebar ke jaringan maupun organ lain. Penentuan stadium mempertimbangkan ukuran tumor, keterlibatan kelenjar getah bening, serta penyebaran kanker.
Pilihan Pengobatan Kanker Payudara
Pengobatan kanker payudara tidak selalu sama untuk setiap pasien. Dokter akan mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk stadium, karakteristik tumor, status reseptor hormon, tingkat keganasan, dan faktor genetik.
Beberapa pilihan pengobatan yang dapat digunakan meliputi:
Operasi
Operasi merupakan salah satu metode utama dalam penanganan kanker payudara.
Tindakan dapat berupa operasi konservasi payudara atau lumpektomi, yaitu mengangkat tumor beserta sebagian jaringan di sekitarnya. Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan mastektomi untuk mengangkat seluruh jaringan payudara.
Kemoterapi
Kemoterapi menggunakan obat untuk menghancurkan atau menghambat pertumbuhan sel kanker. Penggunaannya bergantung pada karakteristik dan stadium kanker.
Radioterapi
Radioterapi menggunakan radiasi untuk menghancurkan sel kanker. Terapi ini dapat digunakan setelah operasi pada kondisi tertentu.
Terapi Hormonal
Terapi hormonal dapat menjadi pilihan bagi kanker payudara yang memiliki karakteristik tertentu terkait reseptor hormon.
Terapi Target dan Imunoterapi
Terapi target bekerja pada karakteristik tertentu dari sel kanker, sedangkan imunoterapi membantu sistem kekebalan tubuh dalam melawan kanker pada kondisi yang sesuai.
Pilihan terapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan metode lain sesuai kondisi masing-masing pasien.
Deteksi Dini Tetap Penting
Kanker payudara dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Karena itu, mengenali perubahan pada payudara dan mengikuti rekomendasi skrining dari tenaga kesehatan menjadi bagian penting dari upaya deteksi dini.
Jika menemukan benjolan baru, perubahan kulit atau puting, keluarnya cairan yang tidak biasa, atau perubahan lain yang menetap, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Gejala tersebut tidak otomatis berarti kanker, tetapi pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Informasi ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan diagnosis atau saran dokter. Pemeriksaan serta pilihan pengobatan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. (rbj)
Editor : Hanif