Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

BI Hitung Dampak Corona Bagi Ekonomi Kalbar

Ari Aprianz • Jumat, 21 Februari 2020 | 08:50 WIB
CORONA: KRI dr. Soeharso disiagakan untuk mengevakuasi 74 warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di kapal pesiar Diamond Princess yang kini berlabuh di Yokohama, Jepang. (Foto insert ) kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Kalbar, Agus Chusaini memapar
CORONA: KRI dr. Soeharso disiagakan untuk mengevakuasi 74 warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di kapal pesiar Diamond Princess yang kini berlabuh di Yokohama, Jepang. (Foto insert ) kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Kalbar, Agus Chusaini memapar
Midji Sempat Marah Kebijakan Diprotes

PONTIANAK – Bank Indonesia tengah menghitung dampak wabah Covid-19 atau virus corona yang menimpa Tiongkok dan sejumlah negara lain terhadap perekonomian Provinsi Kalimantan Barat. Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Kalbar, Agus Chusaini menyebut, fenomena Covid-19 di Tiongkok pasti membawa dampak buruk bagi ekonomi Kalbar.

“Sebagai negara ekonomi terbesar di dunia, pasti akan mempengaruhi ekonomi global termasuk Indonesia dan Kalbar. Kami sedang menghitung dampaknya. Seberapa besar target pertumbuhan ekonomi akan terkoreksi,” ujarnya saat konferensi pers, kemarin (20/2).

Dampak langsung yang dirasakan masyarakat dalam beberapa waktu belakangan ini adalah kenaikan sejumlah harga bahan pokok, yang banyak diimpor dari negeri tirai bambu. “Harga bawang putih misalnya sudah naik karena impor yang terhambat. Bawang putih kita masih impor dari sana dan jumlahnya besar. Kurangnya pasokan pasti memengaruhi harga di pasar,” imbuhnya.

Tiongkok merupakan mitra dagang strategis Indonesia. Banyak produk Kalbar yang mengandalkan pembeli dari negeri panda itu. Jadi, kata Agus, akibat wabah Covid-19, penurunan ekspor Kalbar akan terjadi. Namun seberapa besar angkanya, pihaknya sedang menghitung. Sejauh ini, beberapa produk seperti CPO (minyak sawit mentah) harganya masih bisa bagus lantaran tertolong adanya pasar baru selain Tiongkok, yaitu India dan Pakistan.

Sedangkan untuk sektor pariwisata, Kalbar dinilai tak terlalu terdampak. Pasalnya, Kalbar belum menjadi daerah yang mengandalkan mass tourism. Pihaknya berharap wabah Corona ini segera berakhir. Soalnya, apabila ekonomi Tiongkok anjlok, dunia akan terpengaruh.

“Kabar baiknya, perkembangan terakhir, penyebaran virus ini semakin terbatas. Angka yang sembuh juga semakin meningkat. Walaupun angka yang meninggal juga bertambah, karena sudah terjangkit lama,” tukas Agus.

Dia meyakini, bila Covid-19 dapat teratasi cepat, dampaknya tidak akan besar. “Kalau segera selesai, dampaknya tidak banyak. Ini akan menjadi fenomena temporer saja dan mungkin pertumbuhan ekonomi kita tidak akan terkoreksi. Tetapi kalau ini berlangsung lama, akan berdampak (besar),” paparnya.

Menurut Agus, saat ini ekonomi dunia sedang tidak menentu dan sulit diprediksi, terutama menyangkut kemunculan wabah Corona. “Tahun lalu kita dihadapkan dengan perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok. Belum lama perang dagang ini mereda, tiba-tiba muncul virus Corona di Tiongkok, negara ekonomi yang besar. Pengaruhnya pasti kepada ekonomi dunia. Apakah ekonomi dunia akan resesi? Kita belum tahu,” ujarnya menanggapi pertanyaan wartawan terkait potensi resesi ekonomi global akibat Corona.

Antisipasi Corona Jangan Kendor
Langkah antisipasi pencegahan penyebaran virus corona (2019-nCoV) di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) terus digalakkan. Pemerintah daerah tetap menjalankan instruksi pusat terkait larangan masuknya Warga Negara Asing (WNA) asal Tiongkok ke wilayah Indonesia.

\
Terkait hal tersebut, Gubernur Kalbar Sutarmidji sempat mendapat protes dari seorang perwakilan salah satu perusahaan di Kalbar yang meminta larangan itu dicabut.

"Dulu dia staf kita, (sekarang) bekerja di suatu perusahaan. Dia malah mengusulkan minta ditinjau dengan pelarangan (WNA dari Tiongkok masuk ke Kalbar) itu. Ya, saya marah juga pada yang bersangkutan," ungkapnya usai rapat koordinasi bersama Forkopimda Kalbar terkait kesiapan menghadapi virus corona di Mahkota Hotel, Kamis (20/2).

Padahal, lanjut dia, apa yang sudah diputuskan merupakan tindak lanjut dari keputusan pemerintah pusat. Memang sampai saat ini penerbangan dari dan ke negara Tiongkok masih dilarang. "Jadi tetap masih berlaku yang bekerja di sini tidak boleh pulang. Kalau pulang, tidak boleh ke sini lagi. Pemerintah pusat memutuskan itu, kami kan ikut, jadi kami tetap antisipasi," papar Midji, sapaan akrabnya.

Ia juga berharap langkah antisipasi oleh pihak terkait jangan sampai kendor. Meski sampai saat ini terbukti belum ditemukan pasien di Indonesia yang positif corona, pengawasan tidak boleh lemah.
"Kami juga sudah inventaris misalnya untuk (menangani) orang yang diduga suspek, kami punya (ruang isolasi) di Rumkit, RS Bhayangkara dan RSUD Sudarso. Kami evaluasi. Artinya kami tidak terbuai dan terus dievaluasi. Kesiapan mereka jangan kendor," pungkas orang nomor satu di Kalbar itu.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Kalbar Harisson mengungkapkan, sampai saat ini tercatat sudah ada tiga pasien yang sempat diisolasi di RSUD Sudarso terkait dugaan corona. Pertama seorang ibu warga Pontianak yang sempat sakit sepulang dari Kuala Lumpur, Malaysia. Belakangan ada dua wanita lain berusia 20 tahun dan 38 tahun yang merupakan pembantu rumah tangga di Singapura.

"Sudah dilakukan isolasi dan sudah dikirim spesimen ke Jakarta, hasilnya sudah negatif dan ketiga warga ini sudah pulang ke rumah masing-masing," terangnya. Meski demikian, pengawasan tetap dilakukan sampai 14 hari setelah pasien keluar dari rumah sakit. "Mereka sebagai asisten rumah tangga di Singapura dan pulang ke sini karena sakit dan sempat dirawat di Singapura selama tiga minggu, tapi setelah diperiksa ulang di sini (Pontianak) penyakitnya bukan corona tapi paru-paru," tambahnya. (ars/bar) Editor : Ari Aprianz
#corona #antisipasi virus corona