Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Prabowo Berjaya di Dua Survei Capres

Ari Aprianz • Senin, 24 Februari 2020 | 09:08 WIB
BERSALAMAN: Prabowo Subianto bersalaman dengan Sandiaga Uno beberapa waktu lalu. Survei menempatkan keduanya sebagai sosok yang diperhitungan dalam pilpres mendatang. DOKUMEN
BERSALAMAN: Prabowo Subianto bersalaman dengan Sandiaga Uno beberapa waktu lalu. Survei menempatkan keduanya sebagai sosok yang diperhitungan dalam pilpres mendatang. DOKUMEN
Sandiaga Uno Ungguli Anies Baswedan sebagai Cawapres

Habisnya kesempatan Presiden Joko Widodo sebagai petahana membuat pertarungan di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 menjadi terbuka. Sejumlah nama potensial pun bermunculan mendampingi nama-nama lama.

BERDASARKAN survei yang dilakukan Indo Barometer, dari 15 nama-nama yang potensial melaju dalam kontestasi Pilpres, di dominasi dari gerbong. Yakni dari kabinet dan kepala daerah.  Dari kabinet, ada nama Prabowo Subianto, Erick Thohir, Mahfud MD, Nadiem Makarim, Suharso Monoarfa, hingga Tito Karnavian.

Sementara dari gerbong kepala daerah, ada nama Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini, Khofifah Indar Parawansa, Ridwan Kamil, Nurdin Abdullah.  Di luar kedua gerbong terebut, menyodok tiga nama, yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Puan Maharani dan Sandiaga Salahudin Uno.
Dari nama-nama tersebut, elektabilitas Prabowo Subianto berada di urutan pertama dengan 22,5 persen. Di ikuti Anies (14,3), Sandiaga (8,1), Ganjar (7,7), Risma (6,8) dan AHY (5,7). (selengkapnya lihat grafis)

Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari mengatakan, munculnya nama Prabowo di posisi pucuk sebagai hal yang wajar. Sebab, Prabowo merupakan tokoh dengan pengenalan tinggi sebagai mantan calon presiden dengan 94,8 persen.

Menyodoknya nama Anies juga tak lepas dari tingkat pengenalan masyarakat sebagai Gubernur DKI Jakarta yang mencapai 91,7 persen. “Untuk dipilih harus dikenal. Tidak dikenal, tidak mungkin dipilih,” ujarnya di Senayan, Jakarta, kemarin (23/2).

Kemudian munculnya nama Ganjar, Khofifah hingga Risma juga tak lepas dari statusnya sebagai kepala daerah. Pasca dilakukannya Pilkada langsung, lanjut dia, Kepala Daerah menjadi jalur yang paling seksi untuk menuju istana. Sebab, kebijakannya dipantau langsung oleh masyarakat. Khususnya Kepala Daerah di wilayah padat penduduk seperti di Jawa.

Meski demikian, Qodari menilai nama-nama tersebut belum aman. Sebab, jika berkaca pada pengalaman jelang Pilpres 2014 lalu, nama Jokowi baru muncul dua tahun belakangan. “Setelah Pilpres 2009, nama Capres selanjutnya yang muncul Megawati. 2012 Prabowo naik nomor 1, 2013 Jokowi muncul,” imbuhnya. dengan demikian, dia menilai kondisi masih sangat dinamis.

Menanggapi hasil tersebut, politisi PDIP Masinton Pasaribu menyambut positif hasil survei tersebut. munculnya nama-nama yang berasal dari kader PDIP dinilai menunjukkan sistem kaderisasi yang dijalankan partai berjalan. “Tugas partai melahirkan kader, menciptakan kader yang siap menjadi pemimpin,” kata dia.

Terkait elektabilitas kadernya yang berada di bawah kompetitor lainnya, dia menanggapi santai. Sebab, Pilpres 2024 masih sangat lama. Dan dalam rentan waktu tersebut, masih banyak dinamika politik yang terjadi. Untuk Anies misalnya, dia harus bertarung dengan kinerjanya di Jakarta. ’’Banjir di Jakarta jadi tantangan, bagaimana banjir masuk RSCM untuk pertama kalinya. Prabowo juga masih perlu membuktikan kerjanya,” imbuhnya. Masinton juga menyebut kelembagaan partai belum menunjuk siapa kader yang akan diusung. Sehingga hasil survei hanya menjadi masukan awal.

Wakil Ketua Umum DPP Golkar Ahmad Doli Kurnia mennargetkan tahun 2024 menjadi titik balik bagi Golkar untuk kembali mengusung calonnya setelah dua kali pemilu absen. “Berdasarkan pengalaman 2014 dan 2019, ketika calon punya capres ternyata member efek terhadap elektabilitas partai,” ujarnya.

Dia menjelaskan, dalam sepuluh tahun terakhir, dinamika politik di Golkar sangat tinggi. Bahkan sempat pada dualism kepemimpinan. Imbasnya, sulit untuk memunculkan kader di Pilpres. Namun, dia menilai situasi saat ini sudah jauh lebih baik. “Kami sedang mempersiapkan diri, golkar harus punya capres sendiri. Sedang kita godok,” ungkapnya. Doli mengaku belum bisa menyebutkan siapa yang potensial untuk di usung. Namun, masuknya nama Airlanggara Hartarto dalam bursa capres meski dengan elektabilitas sangat kecil sebagai hal yang positif.

Survei PPI

Saat bersamaan kemarin, Parameter Politik Indonesia (PPI) juga merilis hasil survei proyeksi politik 2024. Survei tersebut menjaring 30 tokoh dengan popularitas tinggi. Mirip-mirip dengan survei Indo Barometer, survei PPI juga menempatkan nama-nama tenar seperti Prabowo Subianto, Sandiaga Salahuddin Uno, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Agus Harimurti Yudhoyono, Tri Rismaharini hingga Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. ’’Mereka berpotensi masuk dalam bursa capares cawapres 2024,” kata Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno, kemarin.

Dari sisi elektabilitas, Prabowo Subianto nangkring sebagai capres dengan elektabilitas tertinggi mencapai 17,3 persen. Adi menyampaikan sangat logis kalau ketua umum Partai Gerindra itu punya elektabilitas tertinggi saat ini. Dalam dua kali pilpres, 2014 dan 2019, Prabowo mampu meraup suara signifikan. ’’Saat ini elektabilitas Prabowo hanya kalah oleh Presiden Joko Widodo,” terangnya.

Di bawah Prabowo Subianto, pemilik elektabilitas kedua adalah Sandiaga Uno dengan 9,1 persen. Menurut Adi, tingkat kesukaan publik atas Sandiaga cukup tinggi. Mantan cawapres Prabowo di pemilu 2019 itu juga relatif bisa diterima oleh semua kalangan. ’’Apalagi Sandiaga juga masih aktif turun menyapa masyarakat,” paparnya.

Berikutnya adalah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan 8,8 persen. Anies Baswedan menempati urutan keempat dengan elektabilitas 7,8 persen, Agus Harimurti Yudhoyono (5,4), Ahok (5,2), Ridwan Kamil (4,7). Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menempati urutan kesembilan dengan elektabilitas 2,6 persen. Adapun Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa masuk urutan ke-12 dengan elektabilitas 1,9 persen.

Bagaimana dengan cawapres? Sosok cawapres dengan elektabilitas tertinggi adalah Sandiaga Uno dengan 14,92 persen. Di bawah Sandi adalah KH Ma’ruf Amin dengan 6,79 persen. Anies Baswedan (4,59), AHY (3,99), Ahok (3,17), Ridwan Kamil (2,38), Tri Rismaharini (2,20). Adapun Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa punya elektabilitas 1,37 persen sebagai cawapres.

Ketua DPP PDIP Eriko Sotarduga mengaku tak khawatir dengan survei tersebut. Dia merespon elektabilitas Puan Maharani ketua DPR yang cukup kecil dalam survei itu. Untuk kategori capres, elektabilitas Puan hanya 0,5 persen. Sedangkan sebagai cawapres elektabilitasnya 1,14 persen.
Eriko bilang, survei tersebut terlalu dini. Sebab pilpres 2024 masih sangat lama. ’’Kan masih empat tahun lagi. Banyak hal yang bisa terjadi selama empat tahun nanti,” kata Eriko. Dia pun optimistis elektabilitas Puan Maharani akan bisa terkerek. ’’Apalagi posisi Bu Puan kan strategis sebagai ketua DPR,” papar Eriko.

Ketua Bappilu DPP Golkar Maman Abdurrahman juga menanggapi hasil survei. Dikatakan, pihaknya tidak khawatir dengan hasil survei yang menempatkan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto dengan elektabilitas yang rendah. Sebagai capres, Airlangga hanya memperoleh 0,2 persen. Padahal Airlangga punya jabatan strategis sebagai menteri koordinator bidang perekonomian. ’’Saya kira itu menjadi starting point yang bagus. Dalam politik tidak perlu elektabilitas tinggi di awal. Yang terpenting kan ke depannya,” kata anggota Komisi VII DPR itu. (far/mar) Editor : Ari Aprianz
#capres 2024 #Prabowo Berjaya di Dua Survei Capres