PONTIANAK - Festival Arakan Pengantin kerja sama Pemerintah Kota Pontianak dan Pontianak Post kembali dihelat tahun ini sebagai salah satu rangkaian hari jadi ke-253 Kota Pontianak, di halaman Museum Provinsi Kalimantan Barat. Dalam kegiatan tersebut diikuti sebanyak delapan kelompok dari enam kecamatan dan dua perwakilan BUMD.
Usman, salah satu peserta kegiatan arakan pengantin perwakilan Kecamatan Pontianak Tenggara menuturkan kegiatan ini sangat bagus, sebagai salah satu upaya buat melestarikan adat melayu. Arakan pengantin kata dia sudah menjadi tradisi adat melayu khususnya bagi orang Pontianak. Di mana setiap pasangan yang akan melakukan pernikahan, sang pengantin diarak menuju ke rumah mempelai perempuan.
Momentum Hari Jadi Kota Pontianak tahun ini kembali diselenggarakan festival Arakan pengantin. "Ini sangat bagus. Apalagi saat kegiatan dilihat orang ramai sehingga bisa mengedukasi masyarakat bahwa arak pengantin merupakan salah satu dari banyaknya kegiatan budaya melayu," katanya.
Hal senada dikatakan Ibrahim, perwakilan peserta dari Kecamatan Pontianak Utara. “Arakan pengantin akan melibatkan banyak orang. Mulai dari keluarga, tetangga sampailah masyarakat. Arak pengantin ini juga mencerminkan budaya gotong royong dan tolong menolong. Ini bisa mempererat tali persaudaraan. Inilah makna sesungguhnya,” katanya.
Festival Arakan Pengantin juga disaksikan banyak kalangan muda-mudi Kota Pontianak. Wulan salah satunya mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, tradisi arakan pengantin sebagai bagian dari kekayaan budaya yang harus dihargai dan diregenerasikan. Sebab, ini menunjukkan identitas masyarakat melayu Pontianak.
Salah satu pelajar Kota Pontianak, Dimas mengatakan selain dirinya, banyak teman sekolahnya yang tertarik untuk mempelajari tradisi melayu. Salah satunya musik tanjidor. Menurutnya tradisi bermain musik tanjidor harus terus dilestarikan. Bisa dilihat saat ini pemainnya banyak yang sudah senior. Sudah seharusnya ada tempat latihan musik tanjidor sehingga dirinya bisa juga mempelajari tanjidor sekaligus untuk mempertahankan budaya ini agar tidak hilang ditelan zaman.
Kegiatan festival arakan pengantin juga menggeliatkan perekonomian pelaku UMKM. “Alhamdulilah usaha dagangan saya laris manis. Adanya kegiatan arak pengantin membantu kebutuhan ekonomi di rumah,” katanya.
Di tempat yang sama, Pj Wali Kota Pontianak Ani Sofian mengatakan dua Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) turut meramaikan Festival Arakan Pengantin untuk menyemarakkan Hari Jadi ke-253 Pontianak. Sebagaimana diketahui, Arakan Pengantin Pontianak sudah diakui secara nasional sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada 2017.
“Hal yang paling penting dari kegiatan ini adalah pelestarian adat dan budaya Melayu Pontianak khususnya yang ada dalam prosesi pernikahan. Oleh karena itu kita punya kewajiban untuk memelihara dan melestarikannya,” pesannya.
Pj Wali Kota berharap Festival Arakan Pengantin ini ke depan bisa lebih banyak lagi jumlah pesertanya. Selain itu, perlu adanya promosi yang gencar agar festival ini lebih banyak masyarakat yang menyaksikannya. Selain melestarikan budaya, festival ini juga ikut memberdayakan UMKM.
Sebagai informasi juara festival Arakan pengantin juara 1 diraih Kecamatan Pontianak Barat, juara ke 2 Bank Kalbar dan Juara 3 diraih dari Pontianak Tenggara. Kemudian untuk hantaran terbaik diraih Kecamatan Pontianak Timur, kategori pengantin terbaik dari Kecamatan Pontianak Barat. Sedangkan kategori tanjidor juara 1 diraih kecamatan Pontianak Utara, juara 2 Pontianak Barat dan Juara 3 dari Pontianak Tenggara. (iza/rav)
Editor : A'an