PONTIANAK POST – Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Cabang Pontianak, yang kini dikenal sebagai PERKI Kalimantan Barat, kembali menggelar acara ilmiah bertajuk"The Science of the Heart: Breaking Down Popular Cardiovascular Myths" pada 26–27 April 2025. Acara ilmiah tahunan ini sudah yang ketiga kalinya diselenggarakan mulai tahun 2023.
Acara ini berlangsung di Mercure Pontianak dan diikuti oleh lebih dari 300 peserta, termasuk dokter spesialis, dokter umum dan perawat dari berbagai daerah di Kalimantan Barat, bahkan ada yang datang dari luar Kalbar.
Acara dibuka dengan kata sambutan yang diberikan oleh dr. Rifka, MM selaku Ketua IDI Kalbar.
"Kegiatan seminar seperti ini sangat penting untuk terus memperbarui pengetahuan dan wawasan kita, terutama dalam menghadapi dinamika dunia kedokteran yang semakin kompleks. Pelaksanaan muktamar IDI yang akan diselenggarakan di Lombok menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan organisasi kita. Perubahan juga terjadi dalam struktur kepengurusan, di mana masa jabatan AD-ARD yang semula direncanakan selama lima tahun kini disesuaikan menjadi tiga tahun," ujar Rifka.
Rifka juga menambahkan bahwasanya hubungan antara IDI dan Kementerian Kesehatan yang selama ini berjalan baik harus terus dijaga dan dikembangkan. Rifka mengingatkan perlunya untuk menyadari bahwa kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan wajib diikuti. Dan segala permasalahan hukum di dunia medis sebaiknya diselesaikan terlebih dahulu melalui jalur juris etik kedokteran.
Terakhir, Rifka mengingatkan bahwa dalam seminar ini juga akan diadakan workshop yang membahas berbagai mitos dalam etika kedokteran, khususnya terkait dengan praktik penggunaan EKG.
Turut hadir pula Ketua PERKI Pontianak, dr. Danayu Sanni Prahasti, Sp.JP(K).
Dalam sambutannya, Danayu mengatakan bahwa sebagai sesame rekan sejawat mereka semua pernah belajar bersama. Pernah duduk di bangku yang sama, berbagi cerita, canda, bahkan mungkin tangis, dan dari semua itu, tumbuh rasa yang lebih dari sekadar berteman tetapi bersaudara. Rasa persaudaraan itulah yang menurut Danayu tidak akan hilang, dan itu yang dibutuhkan dalam menghadapi setiap permasalahan terkait pasien dan yang lainnya.
"Lalu kenapa kita berkumpul? Karena kita ingin belajar. Kita ingin tahu apa yang bisa kita lakukan untuk mereka—teman-teman kita, saudara-saudara kita. Karena banyak di antara mereka mungkin sedang kebingungan, dibanjiri informasi yang simpang siur. Banyak hal yang seharusnya bisa kita bantu luruskan, banyak hal yang harus kita lakukan bersama. Hanya kita yang bisa. Kalau kita tidak mulai mengedukasi diri sendiri, siapa lagi yang bisa membantu pasien-pasien yang kita sayangi?" kata Danayu.
Menghadapi tingginya prevalensi penyakit kardiovaskular yang menjadi penyebab utama kematian di Indonesia, acara ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan tenaga medis dalam menangani penyakit jantung.
Dengan mengangkat tema"The Science of the Heart: Breaking Down Popular Cardiovascular Myths", acara ini fokus pada pemaparan fakta ilmiah dan klarifikasi terhadap mitos-mitos umum seputar kesehatan jantung.
Acara ini terdiri dari dua bagian utama:
- Workshop: Peserta mendapatkan pelatihan praktis mengenai teknik-teknik terbaru dalam diagnosis dan penanganan penyakit kardiovaskular, termasuk penggunaan alat monitoring jantung dan interpretasi hasil EKG.
- Simposium: Para ahli kardiologi dari berbagai institusi terkemuka menyampaikan materi ilmiah terkini mengenai topik-topik seperti hipertensi, dislipidemia, aritmia, dan gagal jantung, serta membahas mitos-mitos yang beredar di masyarakat terkait penyakit jantung.
Acara ini menghadirkan sejumlah konsultan ahli dari luar Kalbar, di antaranya, dr. Arwin Saleh, Sp.JP(K), dr. Dian Yaniarti, SpJP(K), dan dr. Damba Dwisepto, SpJP(K) dari RS Pusat Jantung Harapan Kita Jakarta, dr. Erika Maharani, SpJP(K) dari RS Sardjito Jogjakarta, dan dr. Pipin Ardhianto, SpJP(K) dari RS Kariyadi Semarang. Seluruh anggota PERKI Kalbar juga turut menjadi narasumber pada acara ini.
Danayu sempat menjelaskan dalam salah satu sesi simposium, bahwa konsultan jantung di Kalbar sudah sangat beragam. Ada konsultan aritmia, satu-satunya di Kalimantan, dr. Alice Inda Supit, SpJP(K) yang dapat melakukan ablasi kelainan irama jantung, memasang pacu jantung, ada konsultan ruang intensif dan gawat darurat yaitu dr. Aditya Pradhana SpJP(K) yang juga sebagai ketua panitia acara Webcam. Dia menegaskan bahwa pelayanan jantung di Kalbar tidak kalah dengan di tempat lain. Pemasangan ring koroner, dapat dilakukan oleh lima konsultan intervensi, yaitu dr. Danayu Sanni, SpJP(K) sendiri, dr. Infan Ketaren SpJP(K), dr. Christina Candra, SpJP(K), dr. Made Khrisna SpJP(K) di Sanggau, dan dr. Hari Cipta, SpJP (K) di Ketapang. Terdapat lima dokter jantung lainnya yang sekarang sedang melanjutkan sekolah konsultan, salah satunya dr. Gusti Ayu Temi, SpJP sebagai ahli USG jantung dan pencitraan MSCT , MRI dan nuklir jantung, serta dr. Anindia Wardhani, SpJP sebagai ahli jantung anak.
Para dokter jantung ini membahas berbagai topik, terutama mengenai pemahaman yang benar mengenai faktor risiko penyakit jantung, pentingnya deteksi dini, serta berbagai mitos mulai dari keengganan meminum obat teratur akibat khawatir dengan efek samping, hingga sulitnya berhenti merokok.
Kegiatan ini memberikan manfaat signifikan bagi tenaga medis, terutama dokter umum dan spesialis, dalam meningkatkan kompetensi dan pemahaman mereka mengenai penyakit kardiovaskular.
Selain itu, acara ini juga menjadi wadah untuk mempererat jaringan profesional antar-tenaga medis di Kalbar.
Bagi masyarakat, acara ini berperan penting dalam mengedukasi mereka mengenai pentingnya menjaga kesehatan jantung dan menghindari mitos-mitos yang dapat berisiko bagi kesehatan, serta memilih untuk berkonsultasi dengan ahlinya sebelum mempercayai kata orang.
Melalui kegiatan ilmiah seperti ini, diharapkan dapat tercipta masyarakat yang lebih sadar akan pentingnya kesehatan jantung dan tenaga medis yang lebih kompeten dalam menangani penyakit kardiovaskular. (ser)
Editor : Hanif