PONTIANAK POST – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kota Pontianak terus mendorong transformasi perpustakaan menjadi ruang inklusif dan berdaya bagi seluruh lapisan masyarakat.
Upaya ini diwujudkan melalui kolaborasi lintas sektor dan berbagai inovasi layanan yang menyentuh langsung kebutuhan warga, termasuk kelompok disabilitas, pelajar, ASN, hingga komunitas literasi.
Kepala Disperpusip Kota Pontianak Rendrayani mengatakan, transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial membutuhkan usaha bersama berbagai pemangku kepentingan.
“Dengan pola sinergi dan kolaborasi yang efektif, kita dapat menciptakan perpustakaan yang tidak hanya menjadi pusat pengetahuan, tetapi juga pusat kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Transformasi ini juga dijalankan melalui model kolaborasi Pentahelix, yang melibatkan lima unsur utama: pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, dan media. Sinergi tersebut menciptakan ekosistem inovatif untuk memperluas jangkauan literasi dan memaksimalkan dampak sosial.
Deretan inovasi unggulan terus diluncurkan Disperpusip Pontianak untuk mempermudah akses layanan, meningkatkan minat baca, serta menumbuhkan budaya literasi yang inklusif di berbagai kalangan.
Inovasi tersebut seperti Anakku Disapa, Pojok Braille, KOLAK (Kolaborasi Literasi Bersama Komunitas), hingga Perpus Goes to School. Ada juga Gass (Gerakan Literasi ASN), serta PerpuskitE (Perpustakaan Kota Pontianak Elektronik), BOBO+ (Booking Buku Online plus), GESIT (Gerakan literasi dan Inklusi masyarakat), dan masih banyak lagi.
GESIT sendiri menjadi salah satu program yang bertujuan mendorong budaya literasi dan meningkatkan minat baca masyarakat yang diluncurkan bertepatan dengan Hari Buku Nasional pada tahun ini. Program ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, sekolah, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya dalam mendorong budaya baca.
Melalui inovasi dan kolaborasi berkelanjutan, Disperpusip Kota Pontianak berupaya menghadirkan perpustakaan sebagai ruang hidup yang adaptif dan berdampak sosial.
“Perpustakaan bukan hanya tempat membaca buku, tapi tempat berbagi pengetahuan, mengasah keterampilan, dan menumbuhkan empati sosial,” katanya.
BOBO+ Permudah Akses Warga
Perpustakaan Kota Pontianak memiliki suatu layanan pemakai yang unik, layanan ini awalnya disebut dengan Layanan BOBO (Booking Buku Online). Layanan ini adalah sebuah layanan berbasis website yang berfungsi untuk daftar anggota, mencari dan pesan buku.
Rendrayani menceritakan, inovasi BOBO yang dimulai sejak 2017 awalnya dipicu oleh buku yang dibutuhkan oleh Pemustaka seringkali habis dipinjam atau belum tersedia. Untuk mengatasinya, dibuatlah inovasi pemesanan buku online yang bisa dilakukan dari mana saja.
“Buku yang dipesan oleh Pemustaka akan diproses oleh Pengelola Perpustakaan/Pustakawan dan disimpan sampai Pemustaka yang memesan datang langsung ke Perpustakaan Umum atau Rumah Baca untuk mengambil buku,” jelasnya.
Sejak Agustus 2022 fitur layanan BOBO di-upgrade menjadi BOBO+ (Booking Buku Online plus), penambahan plus ini adalah plus fitur antar pesanan ke rumah untuk penyandang disabilitas dan fitur notifikasi status/ tracking pesanan buku, jadi pemustaka dapat mengetahui status pesanan buku pada member area berupa notifikasi buku sedang dicari, buku siap diambil, buku telah diambil, buku sedang diantar, buku telah diantar dan pesanan selesai.
“BOBO+ mendapatkan juara 3 lomba inovasi layanan publik antar OPD se-Kota Pontianak Tahun 2023,” katanya. (sti/r)