Revolusi Sanitasi Pontianak -1- ;   Ke Mana Perginya Air Limbah dari Rumah Kita?

Salman Busrah • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 13:42 WIB
Proses penguraian limbah air rumah tangga.
Proses penguraian limbah air rumah tangga.

 

SPALD-T mengubah cara kota mengelola air limbah domestik. Limbah dari rumah warga dikumpulkan melalui jaringan perpipaan, dibawa ke instalasi pengolahan, kemudian diolah sebelum dilepas ke lingkungan.

 

SETIAP pagi, setelah toilet disiram, kamar mandi digunakan, pakaian dicuci dan air dari dapur mengalir ke saluran pembuangan, ada satu pertanyaan yang jarang terpikirkan.

Ke mana sebenarnya semua air limbah itu pergi?

Selama ini, ketika air kotor sudah tidak terlihat, persoalan seolah selesai. Sebagian masuk septic tank, sebagian mengalir melalui saluran pembuangan, dan pada sistem tertentu berakhir di lingkungan sekitar.

Padahal, hilangnya air limbah dari pandangan bukan berarti persoalannya selesai.

Air limbah domestik masih membawa berbagai bahan pencemar. Jika tidak dikelola dengan baik, pencemaran dapat berlanjut ke lingkungan dan berdampak pada kualitas air serta kesehatan masyarakat.

 Persoalan inilah yang hendak dijawab Pemerintah Kota Pontianak melalui pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T).

 Ini bukan sekadar pembangunan instalasi pengolahan air limbah.

 

SPALD-T merupakan sistem yang akan menghubungkan rumah-rumah dan bangunan dengan jaringan perpipaan kota. Air limbah kemudian dialirkan menuju instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk diproses sebelum dilepas kembali ke lingkungan.

Dengan bahasa sederhana: Air limbah dari rumah → masuk jaringan pipa → dibawa ke IPAL → diolah → baru dilepas ke lingkungan.

 

Bukan Proyek Kecil

 

Perubahan tersebut membutuhkan infrastruktur dalam skala besar.

 

Pemerintah Kota Pontianak menyebut kebutuhan anggaran yang disampaikan Kementerian Pekerjaan Umum mencapai sekitar Rp1,7 triliun. Pembangunan dilakukan secara bertahap hingga 2030.

 

Jaringan utama direncanakan membentang dari kawasan Nipah Kuning Dalam hingga Martapura.

 

Pada tahap awal, pembangunan juga mencakup fasilitas pengolahan di kawasan Nipah Kuning dan Martapura.

 

Besarnya proyek terlihat dari pekerjaan yang harus dilakukan di bawah permukaan kota. Pipa primer akan ditanam pada kedalaman sekitar 6 hingga 12 meter.

 

Untuk memasangnya, kontraktor menggunakan metode galian terbuka maupun jacking, menyesuaikan kondisi lokasi.

 

Artinya, proyek ini tidak hanya akan terlihat sebagai bangunan IPAL. Sebagian besar sistem justru akan tersembunyi di bawah jalan yang setiap hari dilewati warga.

 

 

Dari toilet rumah menuju IPAL

 

Cara kerja SPALD-T sebenarnya mudah dibayangkan. Ketika warga menggunakan toilet, mandi, mencuci pakaian atau mencuci peralatan dapur, air limbah yang dihasilkan tidak berhenti di rumah.

 

Dalam sistem yang telah tersambung, air limbah dialirkan melalui sambungan rumah menuju jaringan perpipaan. Dari jaringan lingkungan, aliran diteruskan ke jaringan yang lebih besar hingga akhirnya sampai di IPAL.

 

Di fasilitas tersebut, air limbah menjalani proses pengolahan. Tujuannya mengurangi bahan pencemar dan mikroorganisme yang dapat membahayakan lingkungan sebelum air hasil olahan dilepas.

 

Jadi, prinsip utamanya bukan sekadar memindahkan limbah dari rumah ke tempat lain. Limbah dikumpulkan dan diolah terlebih dahulu.

 

 

Kota harus ikut berubah

 

Pembangunan fisik hanyalah satu bagian dari program. Setelah pipa tertanam, persoalan berikutnya adalah memastikan rumah warga benar-benar tersambung dan masyarakat memahami cara menggunakan sistem tersebut.

 

Pemerintah menargetkan pembangunan sambungan rumah dilakukan secara bertahap. Dalam rencana yang disampaikan Pemkot, target awal minimal 3.000 sambungan rumah hingga 2030, kemudian meningkat secara bertahap hingga 32 ribu sambungan.

 

Di sinilah masyarakat akan menjadi bagian penting dari program.

 

Sebab SPALD-T tidak akan bekerja maksimal jika hanya IPAL yang dibangun sementara rumah warga tidak tersambung.

 

Masyarakat juga nantinya harus memahami apa yang boleh dan tidak boleh dibuang ke dalam jaringan air limbah.

 

Pengelolaan setelah pembangunan pun menjadi persoalan penting. Pemerintah Kota Pontianak telah menyiapkan Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa untuk terlibat dalam pengelolaan layanan sanitasi.

 

Artinya, pembangunan infrastruktur harus diikuti dengan sistem pelayanan dan pemeliharaan yang berjalan dalam jangka panjang.

 

 

Mengapa warga perlu tahu?

 

Karena proyek ini pada akhirnya akan bersentuhan langsung dengan kehidupan warga.

 

Pipa akan melewati jalan kota. Sebagian ruas jalan akan menjadi lokasi pekerjaan.

 

Sebagian rumah akan mendapat sambungan.

 

Dan setelah sistem beroperasi, masyarakat akan menjadi pengguna layanan sanitasi tersebut.

 

Karena itu, SPALD-T bukan semata-mata cerita tentang proyek pemerintah.

 

Ini adalah cerita tentang bagaimana Pontianak mengubah cara membuang dan mengelola air limbah rumah tangga.

 

Selama ini, ketika air kotor menghilang dari pandangan, kita menganggap urusan selesai.

 

Melalui sistem baru ini, air limbah tidak cukup hanya dibuang.

 

Ia dikumpulkan, dialirkan, diolah, lalu dikembalikan ke lingkungan dengan standar yang ditetapkan.

 

Dan untuk membangun sistem tersebut, Pontianak menyiapkan proyek yang nilainya mencapai triliunan rupiah.

 

Pertanyaan berikutnya menjadi menarik: Dari mana uang Rp1,7 triliun itu berasal? Apa saja yang sebenarnya dibangun? Dan mengapa Pontianak membutuhkan proyek sebesar ini?**

 

 

Sumber: Pemerintah Kota Pontianak, Kementerian Pekerjaan Umum, dan dokumen perencanaan pembangunan SPALD-T Kota Pontianak.

Editor : Salman Busrah
SPALD-T Kota Pontianak limbah rumah tangga kota pontianak