PONTIANAK POST - Kematian adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap makhluk hidup pasti akan mengalaminya, sebagai akhir dari perjalanan di dunia dan awal dari kehidupan yang kekal di akhirat. Dalam menghadapi momen ini, keberadaan rumah duka menjadi penting, sebagai tempat untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mereka yang telah berpulang, khususnya bagi masyarakat Tionghoa.
Seiring dengan perkembangan zaman, rumah duka semakin dibutuhkan karena memberikan manfaat besar dalam meringankan beban keluarga yang berduka. Salah satu contohnya adalah Yayasan Rumah Duka Mawar yang berlokasi di Jalan Juang, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi. Menurut Tet Tui, pengurus Yayasan Mawar, layanan yang diberikan yayasan ini bersifat sosial dan tidak membedakan status sosial maupun golongan. "Semua orang akan dilayani sama, sesuai dengan fasilitas yang kami miliki," tutur Tet Tui kepada Pontianak Post, Sabtu (25/1).
Tet Tui telah mendedikasikan hidupnya di Yayasan Mawar selama 18 tahun. Ia pertama kali bergabung sebagai wakil ketua pada tahun 2007, sebelum akhirnya menjabat sebagai ketua yayasan. Selama perjalanan ini, ia banyak belajar tentang tata cara prosesi pengurusan kematian masyarakat Tionghoa.
Selain sebagai pengurus yayasan, Tet Tui juga seorang tenaga pendidik di salah satu sekolah swasta di Nanga Pinoh. Ia menekankan pentingnya melestarikan budaya Tionghoa, terutama dalam penghormatan terhadap leluhur. "Pelayanan kepada masyarakat tidak hanya untuk yang hidup, tetapi juga kepada mereka yang telah meninggal dunia," ujarnya.
Tet Tui memahami bahwa kehilangan keluarga tercinta adalah pengalaman yang sangat berat. Karena itu, keberadaan yayasan yang bersedia membantu dalam menyediakan tempat persemayaman, mengurus pemakaman, hingga keperluan lainnya, memberikan keringanan besar bagi keluarga yang ditinggalkan.
Yayasan Mawar menyediakan berbagai fasilitas, seperti lemari pendingin jenazah dan layanan proses pemakaman. Menariknya, pelayanan di yayasan ini tidak terbatas pada masyarakat Tionghoa saja. Tet Tui bercerita, “Pernah ada saudara kita yang Muslim meninggal di perantauan. Kami menyediakan tempat untuk jenazahnya sambil menunggu keluarganya datang. Jujur, saya tidak peduli suku atau agama. Kalau ada yang butuh bantuan, saya akan berusaha membantu.”
Namun, mengelola yayasan sosial bukanlah hal yang mudah. Tet Tui mengakui bahwa tantangan sering muncul, terutama dalam menyatukan cara pandang dan pendekatan dalam melayani. "Saya harus punya keberanian untuk berubah, menerima masukan, dan mendengarkan saran dari pihak lain," ungkapnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan layanan sosial ini, Tet Tui berharap pemerintah Kabupaten Melawi dapat memberikan bantuan berupa mobil jenazah untuk memperlancar pengantaran jenazah ke tempat pemakaman. “Kami sangat memerlukan bantuan ini agar pelayanan kami semakin baik,” harapnya. (wan)
Editor : A'an