Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Perang Petasan Kembali Terjadi di Jembatan Sungai Melawi 2, Warga Khawatirkan Keselamatan

Wandi PP • Minggu, 22 Maret 2026 | 18:41 WIB

Suasana perang petasan di Jembatan Sungai Melawi 2, Meski telah dilarang, tradisi tahunan ini tetap dilakukan, Sabtu (21/3).
Suasana perang petasan di Jembatan Sungai Melawi 2, Meski telah dilarang, tradisi tahunan ini tetap dilakukan, Sabtu (21/3).

PONTIANAK POST — Tradisi perang petasan kembali mewarnai perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi di Jembatan Sungai Melawi 2, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Sabtu (21/3).

Kegiatan yang sebelumnya sempat dilarang oleh pemerintah daerah ini kembali berlangsung dan menyedot perhatian masyarakat. Ratusan warga memadati area sekitar jembatan untuk menyaksikan aksi yang menyerupai “pertempuran” tersebut.

Dua kelompok terlihat saling melempar petasan dari posisi berbeda, yakni satu kelompok berada di atas jembatan, sementara kelompok lainnya berada di atas perahu motor (speed) di aliran Sungai Melawi.

Tradisi ini sebelumnya kerap dilakukan di Jembatan Melawi 1 Sungai Pinoh. Namun, Pemerintah Kabupaten Melawi sempat melarang aktivitas tersebut karena dinilai membahayakan keselamatan serta mengganggu kelancaran lalu lintas.

Baca Juga: Tradisi Meriam Karbit Simbol Kebersamaan Warga Pontianak

Larangan tersebut bahkan diperkuat melalui surat edaran yang dikeluarkan oleh Bupati Melawi beberapa tahun lalu.

Meski telah dilarang, praktik serupa kini kembali terjadi dengan berpindah lokasi ke Jembatan Melawi 2. Pola pelaksanaannya pun tidak jauh berbeda, yakni saling serang menggunakan petasan antar kelompok.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekhawatirannya terhadap aktivitas tersebut.

Menurutnya, meskipun menarik perhatian dan menjadi tontonan masyarakat, perang petasan memiliki risiko tinggi.

“Kalau dilihat memang ramai dan jadi hiburan, tapi ini sangat berbahaya. Petasan bisa melukai orang, bahkan bisa menyebabkan kecelakaan, baik di sungai maupun di jembatan,” ujarnya.

Baca Juga: Meriam Karbit dan Laggum Kampung Getarkan Kota Singkawang: Rawat Tradisi Melayu, Potensi Jadi Ikon Wisata

Ia menambahkan bahwa keselamatan seharusnya menjadi prioritas utama, terutama karena kegiatan tersebut dilakukan di ruang publik dan melibatkan banyak orang.

“Tradisi boleh saja, tapi jangan sampai membahayakan,” tambahnya.

Sejumlah insiden kecil dilaporkan terjadi selama aksi berlangsung.

Beberapa perahu motor terlihat hampir kehilangan keseimbangan akibat manuver menghindari petasan, sementara ledakan di udara juga berpotensi membahayakan penonton yang berada di sekitar lokasi.

Di sisi lain, sebagian warga justru mendukung kegiatan tersebut. Mereka menilai perang petasan telah menjadi bagian dari tradisi tahunan saat Idul Fitri di Melawi dan memberikan hiburan bagi masyarakat, khususnya kalangan muda.

“Tiap tahun memang selalu ada, dan ini sudah seperti tradisi. Banyak orang datang untuk menonton,” kata salah seorang penonton di lokasi.

Namun demikian, kerumunan penonton yang memadati area jembatan juga menimbulkan persoalan lain, seperti potensi kemacetan dan risiko keselamatan akibat padatnya aktivitas di ruang terbatas.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait langkah penertiban maupun pengamanan terhadap kegiatan tersebut.

Baca Juga: Melihat Kekompakan Warga Gang Kuantan Rakit Meriam: Menjaga Tradisi, Mengikat Kebersamaan

Aparat diharapkan dapat segera mengambil langkah preventif guna menghindari potensi kecelakaan yang lebih besar.

Masyarakat pun diimbau untuk tetap menjaga ketertiban dan mengutamakan keselamatan selama merayakan Hari Raya Idul Fitri, serta tidak melakukan aktivitas yang berisiko membahayakan diri sendiri maupun orang lain. (*/wan)

Editor : Miftahul Khair
#jembatan Melawi II #lebaran 2026 #Sungai pinoh #nanga pinoh #Perang Petasan