PONTIANAK POST — Sebanyak 10 ribu liter air dijatuhkan dari udara untuk mendinginkan karhutla di Melawi, Kamis (17/9). Operasi menyasar lahan kosong seluas sekitar satu hektare di Desa Sepan Tonak, Kecamatan Belimbing, yang masih mengeluarkan asap meski tidak terlihat kobaran api.
Pendinginan dilakukan menggunakan helikopter Bell 412 EPI bernomor registrasi HA-5231. Sebanyak 10 kali water bombing dilaksanakan untuk mencegah bara kembali berkembang menjadi kebakaran.
Asap Masih Keluar dari Lahan
Operasi dimulai sekitar pukul 11.18 WIB setelah pemantauan menemukan asap di lokasi. Kondisi tersebut menunjukkan proses pembakaran belum sepenuhnya berhenti.
Tidak ditemukannya kobaran api bukan berarti lokasi telah aman. Bara dapat bertahan di bawah permukaan, terutama pada lahan yang mengandung bahan organik kering, lalu kembali menyala ketika terkena angin.
Sepuluh Kali Water Bombing
Helikopter melakukan 10 kali pengeboman air dengan total muatan sekitar 10 ribu liter. Dengan demikian, rata-rata air yang dijatuhkan dalam setiap penerbangan mencapai sekitar 1.000 liter.
Kru penerbangan dipimpin Mayor Cpn Diki sebagai pilot in command dan Letda Cpn Ageng sebagai second in command. Operasi juga melibatkan Sertu Paryono, Serda Dwi, Serda Allan, dan Serka Petrus.
Cegah Api Kembali Menyala
Kapolres Melawi AKBP Askhabul Kahfi mengatakan, penanganan karhutla dilakukan secara cepat, terpadu, dan berkelanjutan. Dukungan udara digunakan ketika kondisi lapangan membutuhkannya.
Polres Melawi bersama instansi terkait akan terus memantau lokasi dan mengambil tindakan sesuai perkembangan di lapangan. Pemantauan lanjutan diperlukan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu api.
Warga Diminta Segera Melapor
Masyarakat diimbau tidak membuka atau membersihkan lahan dengan membakar. Api di lahan kering dapat meluas dengan cepat serta menimbulkan asap yang mengganggu kesehatan, jarak pandang, dan aktivitas warga.
Askhabul meminta masyarakat segera melaporkan setiap titik api atau kepulan asap kepada aparat desa, pemadam kebakaran, BPBD, maupun kepolisian.
“Penanganan karhutla membutuhkan kerja sama semua pihak. Jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar karena api dapat meluas dengan cepat,” tegasnya.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro