“Zakir dilahirkan di Puskesmas Sungai Pinyuh dengan berat badan 2 kilogram,” terang Yunitasari ditemui dikediamannya, Rabu (28/4) siang. Saat lahir, jelas Yunitasari, anak pertamanya itu tidak memiliki lubang anus dan memiliki kelamin ganda. Atas saran dokter Puskesmas Sungai Pinyuh, si bayi dirujuk ke RSUD Rubini Mempawah untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“Setelah diperiksa pihak rumah sakit Rubini, saya disarankan untuk dirujuk ke RS Soedarso Pontianak. Karena, mereka tidak bisa menangani bayi dengan kondisi ini tanpa anus dan kelamin ganda,” ujarnya. Setibanya di RS Soedarso, imbuh dia, dokter melakukan operasi membuat saluran pembuangan sementara di bagian perut bayi. Dia bersyukur operasi berjalan lancar dan kemudian diperbolehkan pulang ke rumah.
“Saat ini masih dalam perawatan dan pengawasan Puskesmas Sungai Pinyuh. Tadi juga sudah datang petugas medis memeriksa kondisi bayi. Sementara ini, diminta untuk meningkatkan gizi agar berat badan bayi normal,” tuturnya. Kemudian, imbuh dia, setelah usia bayi berusia 3 bulan akan dilakukan pemeriksaan dan evaluasi untuk pengecekan kondisinya. Bayi akan diperiksa secara untuk memastikan jenis kelaminnya. Apakah bayi tersebut berjenis kelakin laki-laki atau perempuan.
“Informasi dari dokter, setelah bayi berusia sekitar 6 bulan, kemungkinan baru bisa dilakukan operasi pembuatan lubang anus dan menentukan jenis kelaminnya. Sejauh ini, biaya operasi dan penanganan ditanggung BPJS,” ucapnya. Dia berharap anak kesayangannya itu dapat tumbuh sehat dan normal seperti bayi pada umumnya. Serta dapat melewati proses operasi anus dan kelamin dengan sukses dan lancar nantinya. “Mudah-mudahan dedek bayi sehat terus dan nanti bisa menjalani operasi dengan lancar. Sementara ini kami beri nama Zakir, karena yakin kalau bayi ini adalah laki-laki,” pungkasnya. (wah) Editor : Administrator